Advertorial

Sejarah Panjang Kencing Manis yang Mematikan

Madu dinilai menjadi bahan yang paling tepat untuk merangsang pankreas dalam memproduksi insulin.

Editor: Ichwan Chasani
Dok. Madu Bima 99
Tahun 1929, Dr. Fatih dari sebuah perguruan tinggi di Sofia berhasil mengobati 36 penderita diabetes. Dr. Fatih memberikan satu sendok madu bersama obat-obatan lainnya di setiap kali makan kepada masing-masing pasien. 

WARTAKOTALIVE.COM — Siapa yang tak kenal kencing manis? Ini adalah salah satu jenis penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian di Indonesia.

Ancaman penyakit yang juga disebut diabetes melitus ini kian meresahkan masyarakat. Pasalnya, Indonesia menempati urutan ketujuh dari sepuluh negara dengan jumlah pasien tertinggi.

Peringkat tersebut berdasarkan data dari International Diabetes Federation pada tahun 2020. Data itu juga menunjukkan bahwa jumlah penderita diabetes tipe-2 terus meningkat di berbagai negara.

Dibandingkan dengan jumlah penderita pada tahun 2019, Indonesia mengalami kenaikan prevalensi sebesar 6,2 persen pada tahun 2020, dengan total serangan mencapai 18 juta.

Menurut situs News Medical, istilah diabetes berasal dari kata Yunani diabainein, yang artinya berjalan atau berdiri dengan kaki terbelah.

Istilah tersebut diciptakan oleh Aretaeus dari Kapadokia. Dari sinilah konon asal mula penggunaan kata diabetes sebagai nama untuk penyakit yang melibatkan pembuangan urine berlebihan itu.

Dalam sebuah teks medis yang ditulis sekitar tahun 1425, kata diabetes pertama yang tercatat dalam bahasa Inggris adalah diabete.

Kemudian, Thomas Willis menambahkan kata mellitus pada tahun 1675. Kata itu diambil dari bahasa Latin yang berarti madu, sebuah referensi untuk rasa manis dari urine.

Rasa manis ini diketahui setelah melihat urine orang Yunani kuno, Cina, Mesir, India, dan Persia yang dikerubungi semut.

Pada tahun 1776, Matius Dobson menegaskan bahwa kelebihan gula dalam urine dan darah penderita diabeteslah yang mengakibatkan rasa manis itu.

Penyakit diabetes mellitus telah menjadi semacam hukuman mati di zaman kuno. Hippocrates memilih untuk tidak menyebutkan penyakit itu, yang mungkin menunjukkan bahwa ia merasa penderita penyakit itu tak dapat disembuhkan.

Sementara Areteus tidak berusaha untuk mengobati, namun tidak bisa memberikan prognosis yang baik. Ia hanya berkomentar bahwa hidup (dengan diabetes) pendek, menjijikkan, dan menyakitkan.

Dalam buku karya Hans Tandra, Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes (2017), dijelaskan bahwa penderita diabetes memiliki gangguan keseimbangan antara transportasi gula ke dalam sel, gula yang disimpan di hati, dan gula yang dikeluarkan dari hati. Akibatnya, kadar gula dalam darah mengalami peningkatan, dan kelebihan itu keluar melalui urine.

Ada dua penyebab keadaan ini, yakni:

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved