Viral Media Sosial

Gus Nadir Sebut Alasan Santri Tutup Telinga Karena Hapalan Bisa Hilang, Denny Siregar: Ada-ada Aja

Gus Nadir Sebut Alasan Santri Tutup Telinga Karena Hapalan Al Quran Bisa Hilang, Denny Siregar: Ada-ada Aja

Penulis: Dwi Rizki | Editor: Dwi Rizki
TribunNewsmaker.com/ Courtessy: Metro TV
Denny Siregar 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pro dan kontra terkait aksi para santri yang menutup kuping mereka karena tak ingin mendengarkan musik saat menunggu giliran vaksinasi covid-19 ramai dituliskan masyarakat lewat media sosial.

satu di antaranya adalah Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A., Ph.D, Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash.

Lewat status Twitternya @na_dirs; pada Selasa (14/9/2021), pria yang akrab disapa Gus Nadir itu mengungkapkan sikap para santri itu mencerminkan besarnya tolerasi mereka terhadap perbedaan pemahaman tentang musik.

Sehingga, aksi mereka yang dikaitkan dengan paham Islam garis keras menurutnya sangat tidak tepat. 

"Justru disana terlihat toleransi ustad dan santri utk memilih menutup telinga & menjaga diri ketimbang memaksakan paham mereka dg cara kekerasan," jelas pria yang akrab disapa Gus Nadir itu

"Bukankah esensi toleransi ada di sana? Jadi jangan buru2 mengaitkan mereka dg paham Islam garis keras hanya krn mrk berbeda pemahaman," tegasnya.

Gus Nadir pun mengungkapkan terdapat ulama yang berbeda pendapat tentang mendengarkan musik.

Bagi mereka yang menyebut haram mendengarkan musik lanjutnya, dikarenakan musik dinilai dapat membuat hilang hafalan Al Quran. 

"Ulama yg bilang haram juga punya dasar rujukan. Pada titik ini ya kita saling hormat saja thd pilihan yg berbeda," tulis Gus Nadir.

"Bagi yg bilang haram, mendengarkannya dianggap berdosa & bisa membuat hafalan Quran menjadi lupa. Bagi yg blg boleh, mendengarkan musik dapat melalaikan utk murajaah," jelasnya.

Berbeda Pandangan

Namun berbeda dengan Gus Nadir, Denny Siregar justru memandang miring aksi yang dilakukan para santri tersebut.

Dirinya justru mempertanyakan alasan musik yang dinilai dapat menghilangkan hafalan Al Quran.

"Masak cuman dengerin musik doang, hapalan kitab suci bisa hilang ? Ada2 aja..," tulis Denny Siregar.

Dirinya pun mempertanyakan banyaknya pendukung para santri yang marah dengan pernyataannya.

"Heran, ada yang ngamuk. Buat apa hapal kalo ngamukan," tulisnya lagi.

Analogikan dengan Wanita Berpakaian Seksi

Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A., Ph.D, Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash menyoroti aksi puluhan santri yang menutup telinga karena tak ingin mendengarkan musik.

Dirinya pun menganalogikan aksi para santri yang tengah menunggu giliran vaksinasi covid-19 itu layaknya seorang muslim yang melihat wanita berpakaian seksi.

Analogi tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Nadir itu lewat status Twitternya @na_dirs; pada Selasa (14/9/2021).

Menurutnya, aksi mereka tak boleh digeneralisir sebagai ciri Islam paham garis keras seperti Taliban, ISIS, Al Qaeda dan Wahabi Takfiri.

Sebab, selayaknya seorang muslim ketika melihat wanita berpakaian seksi.

Seorang muslim tak akan marah ataupun memaksa wanita tersebut mengenakan jilbab.

Baca juga: Viral Santri Tutup Telinga Tak Mau Dengarkan Musik Disebut ISIS, Gus Nadir Angkat Bicara

Baca juga: Kekayaan Naik Rp8,9 Miliar, Roy Suryo Minta Jokowi Bagikan Kiat Sukses: Ekonomi Kita Meroket Beneran

Muslim yang baik ditegaskan Gus Nadir akan menjunjung tinggi toleransi.

Sehingga ketika melihat seorang wanita berpakaian seksi, mereka hanya akan mengalihkan pandangan dan berlalu.

Hal tersebut pun dibuktikan oleh para santri yang tengah menunggu giliran vaksinasi.

Baca juga: Data Masyarakat Termasuk Presiden Gampang Dibobol, Roy Suryo Nilai Peduli Lindungi Aplikasi Konyol

Baca juga: Pose Sensual Amanda Manopo dan Arya Saloka Dipastikan Roy Suryo Asli, Tanpa Rekayasa

Mereka hanya cukup menutup telinga karena tak ingin mendengarkan musik yang disetel oleh penyelenggara vaksinasi covid-19.

Oleh karena itu, ungkapan yang menyebut para santri mirip dengan para penganut Islam garis keras menurutnya tak pantas. 

"Kalau lihat cewek pakaian seksi, apa anda marah2 & paksa dia pakai jilbab? Tidak. Kalau anda mau cukup tundukkan pandangan & berlalu. Simpel. Ini toleransi,"  tulis Gus Nadir.

"Apa lalu cewek tsb marah2 dan tersinggung: 'hei, lihat dong. Masak malah gak lihat gue! Radikal lu yah!'. Gak gitu lah," tegasnya.

Dibela Gus Nadir

Video yang merekam puluhan santri tengah menutup kuping ketika tengah menunggu giliran vaksinasi covid-19 viral di media sosial.

Besar dugaan, alasan para santri menutup kuping karena tak ingin  mendengarkan musik yang disetel penyelenggara vaksin.

"Masya Allah santri kami sedang antre untuk vaksin, Qodarullah.. di tempat vaksin ini ada musik, maka lihat para santri menutup kuping mereka agar kuping mereka tidak mendengar musik ini," ungkap seorang perekam video.

Video berdurasi berdurasi 23 detik itu pun beredar luas dan viral di media sosial.

Video pun diunggah ulang oleh akun Twitter @David_Wijaya03 pada Minggu (12/9/2021) malam.

Dalam postingannya, David menyebut sikap para santri tersebut sangat berlebihan.

Baca juga: Bakal Wariskan Gugatan Internasional Disebut Denny Siregar Jadi Alasan Anies Ngotot Gelar Formula E

Baca juga: Gus Miftah Tertawakan Pengamat yang Sebut Belajar Bahasa Arab Jadi Ciri Teroris, Disebutnya Aneh

Menurutnya, aksi para santri itu tak berbeda dengan Taliban, ISIS, Al Qaeda dan Wahabi Takfiri.

"Ada yang tahu ini dari santri mana? Lebay banget sampai menutup kupingnya. Indoktrinasi mengharamkan musik ini gak beda jauh dengan Taliban, ISIS, Al Qaeda & Wahabi Takfiri," tulis David dalam postingannya pada Minggu (12/9/2021).

Pernyataan David pun menuai kritik dari Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A., Ph.D.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash itu pun mengingatkan David agar tidak serta merta menyebut para santri serupa dengan Taliban, ISIS, Al Qaeda dan Wahabi Takfiri.

Baca juga: Cara Duduk Ustaz Abdul Somad Bikin Salah Fokus, Satu Kakinya Diangkat Ketika Duduk di Atas Kursi

Baca juga: Kekayaan Naik Rp8,9 Miliar, Roy Suryo Minta Jokowi Bagikan Kiat Sukses: Ekonomi Kita Meroket Beneran

Hal tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Nadir itu lewat status Twitternya @na_dirs; pada Selasa (14/9/2021).

"Gak harus buru2 dianggap kayak Taliban. Hukumnya mendengarkan musik itu ada ulama yg blg haram, dan ada yg bolehin. Kita hormati saja. Bagi yg bilang boleh, alasannya ada di gambar: Syekh Yusuf Qaradhawi, Kitab Nailul Awthar dan al-Fiqhul Islami Syekh Wahbah," tulis Gus Nadir.

Dirinya memaparkan, ulama yang berbeda pendapat tentang mendengarkan musik latanya memiliki dasar rujukan.

Bagi mereka yang menyebut mendengarkan musik adalah harap karena musik dinilai dapat membuat hilang hafalan Al Quran. 

"Ulama yg bilang haram juga punya dasar rujukan. Pada titik ini ya kita saling hormat saja thd pilihan yg berbeda," tulis Gus Nadir.

"Bagi yg bilang haram, mendengarkannya dianggap berdosa & bisa membuat hafalan Quran menjadi lupa. Bagi yg blg boleh, mendengarkan musik dapat melalaikan utk murajaah," jelasnya.

Oleh karena itu, sikap yang ditunjukkan para santri menurutnya sangat bagus.

Mereka yang tak mau mendengarkan musik hanya cukup menutup telinga, tak memaksa penyelenggara vaksinasi covid-19 untuk mematikan musik. 

"Karena hafalan memang mesti dijaga dan diulang2 terus. Jadi belum tentu semua santri yg gak mau dengar musik karena sdg menghafal Quran itu akibat menganggap musik haram," jelas Gus Nadir.

"Sikap para santri di video yg menutup telinganya itu bagus. Mereka tdk ngamuk atau memaksa musik dimatikan," jelasnya.

Sikap tersebut menurut Gus Nadir mencerminkan besarnya tolerasi pata santri terhadap perbedaan pemahaman tentang musik.

Sehingga, aksi mereka yang dikaitkan dengan paham Islam garis keras menurutnya sangat tidak tepat. 

"Justru disana terlihat toleransi ustad dan santri utk memilih menutup telinga & menjaga diri ketimbang memaksakan paham mereka dg cara kekerasan," jelas Gus Nadir.

"Bukankah esensi toleransi ada di sana? Jadi jangan buru2 mengaitkan mereka dg paham Islam garis keras hanya krn mrk berbeda pemahaman," tegasnya.

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved