Berita Nasional

Ferry Juliantono Desak Penuntasan Agenda Reformasi 1998: Kita Butuh ‘Revolusi’ Sistem Ekonomi

Ferry Juliantono Desak Penuntasan Agenda Reformasi 1998: Kita Butuh ‘Revolusi’ Sistem Ekonomi. BErikut Selengkapnya

Penulis: Dwi Rizki | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono 

“Saya ingin memanfaatkan posisi saya sebagai orang partai untuk bekerja di level elit, level suprastruktur kekuasaan supaya sistem ekonomi kita kembali ke Pasal 33 UUD 1945, khususnya ayat 1 sampai ayat 3 sebelum diamandemen,” ujar alumnus jurusan Akuntansi Universitas Padjadjaran itu.

Pada saat bersamaan, ia bekerja di dunia nyata. Ia terjun di gerakan ekonomi rakyat.

Baca juga: Kalahkan Dubai, Sandiaga Uno Harapkan Fesyen Muslim Bandung Bisa Ekspansi ke Pasar Eropa & AS

Ia memimpin asosiasi pedagang pasar dan menjadi ketua umum Induk Koperasi Pasar (Inkoppas).

Ia juga aktif mengurus Koperasi Unit Desa (KUD).

Bahkan, di Dewan Koperasi Indonesia, ia duduk sebagai Wakil Ketua Umum Nurdin Halid.

“Kerja saya sebagai aktivis membangun kekuatan infrastruktur di level rakyat bersama kekuatan rakyat. Saya tetap aktif bekerja di wadah gerakan koperasi sebagai wakil ketua umum Dekopin," ujar Ferry.

"Kemudian saya juga aktif di asosiasi pedagang pasar,” kata Ferry, penyandang gelar Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI).

Ia percaya bahwa sistem koperasi adalah sistem terbaik untuk menekan dampak buruk dari dominasi sistem kapitalisme liberalisme yang mencengkram sistem perkonomian nasional.

“Saya harus percaya sistem koperasi. Karena saya merasa bahwa koperasi inilah sebenarnya kekuatan ekonomi rakyat yang selama ini ditinggalkan oleh pemegang kekuasaan,” kata Fery.

Baca juga: Fakta-fakta Penangkapan Teroris di Dekat Markas Eks FPI dan Harapan Jaya Bekasi

Tuntaskan Agenda Reformasi

Badai pandemi Covid-19 rupanya membakar adrenalin Ferry. Ia gelisah melihat kondisi keterpurukan ekonomi rakyat sebagai dampak pandemi Covid-19.

“Sebagai aktivis, saya tidak mungkin diam melihat ketidakadilan masih mencolok di depan mata kita,” ujar Ferry.

“Inilah saatnya kita menuntaskan tugas sejarah yaitu demokrasi ekonomi yang sesungguhnya," tambahnya.

Ferry menuturkan, setelah 23 tahun hidup di era Reformasi, reformasi politik berjalan relatif baik.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved