Breaking News:

Berita Depok

Nur Mahmudi Raih Profesor Riset Bidang Teknologi Pascapanen, Ketahanan Pangan Nasional Belum Kokoh

Ketahanan pangan nasional belum kokoh. Hal tersebut disampaikan Nur Mahmudi Ismail saat meraih profesor riset bidang teknologi pascapanen.

Istimewa
Nur Mahmudi Raih Profesor Riset Bidang Teknologi Pascapanen, Ketahanan Pangan Nasional Belum Kokoh. 

WARTAKOTALIVE.COM, CIMANGGIS - Nur Mahmudi raih profesor riset bidang teknologi pascapanen, ketahanan pangan nasional belum kokoh.

Mantan Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail, resmi ditetapkan sebagai Profesor Riset Bidang Teknologi Pascapanen oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Pria yang lahir dan tumbuh besar di keluarga petani ini dikukuhkan sebagai profesor riset di Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo, Gedung B.J Habibie, Jakarta Pusat, Rabu (8/9/2021).

Saat ditemui di rumahnya yang terletak di Griya Tugu Asri, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Nur Mahmudi mengatakan, selama 20 tahun terakhir Indonesia telah menelantarkan bahan pangan rata-rata sebanyak 23-48 juta ton per tahun berupa food loss and waste (FLW).

Baca juga: Konsumsi Listrik PLN Naik Jadi 146 TWh, Sinyal Ekonomi RI Mulai Bangkit

Adapun Food Loss (FL) yang ia maksud yakni kehilangan pangan sejak tahap panen, pascapanen, pengolahan dan pengemasan.

Sementara Food Waste (FW) yakni kehilangan pangan pada tahap distribusi, pemasaran, penyajian dan konsumsi.

"Dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tahun 2021, jumlah ini secara signifikan mengurangi penyediaan pangan sehingga dapat memperlemah ketahanan pangan di Indonesia," ujar Nur Mahmudi, Rabu (8/9/2021) sore. 

Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Teknologi Pascapanen oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Teknologi Pascapanen oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) (Istimewa)

Lebih lanjut, Nur Mahmudi mengatakan, mengutip laporan dari Hunger Map tahun 2020, masih ada 5-14,9% penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan.

Nur Mahmudi melanjutkan, bencana kelaparan ini disebabkan oleh lemahnya pengolahan, distribusi dan pemasaran pasca panen.

Baca juga: Persaingan Usaha Semakin Ketat, Pengalaman Pelanggan Disebut Sandiaga Uno Jadi Kunci Meraih Pasar

Ia pun memberi contoh, pada tahun 2018 terdapat 95.000 ton susu yang tidak diolah menjadi produk pangan, tetapi menjadi pakan ternak.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved