Breaking News:

Berita Nasional

MITOS Negara Rawan Bencana Tak Bisa Maju, Ini Penjelasan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

Dwikorita Karnawati mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju, didukung dengan letak geografis dan kekayaan alam.

istimewa
Ada mitos di masyarakat yang menyebutkan bahwa negara rawan bencana gempa dan tsunami tidak dapat maju dan berkembang. Foto ilustrasi: Banyak rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa 6,7 SR, di Kabupaten Malang Sabtu (10/4/2021) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Berdasarkan hasil penelitian terbaru menunjukkan, sembilan dari 15 negara yang paling berisiko mengalami bencana alam, termasuk bencana alam karena perubahan iklim, merupakan negara kepulauan.

Namun, meski Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, tidak termasuk dalam 15 negara yang paling berisiko mengalami bencana alam.

Pasalnya, ada mitos di masyarakat yang menyebutkan bahwa negara rawan bencana gempa dan tsunami tidak dapat maju dan berkembang.

Mitos tersebut dibantah oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati.

Dwikorita menepis mitos bahwa negara rawan bencana gempa dan tsunami tidak dapat maju dan berkembang.

Menurut Dwikorita, dengan mitigasi yang tepat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju, didukung dengan letak geografis Indonesia dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Baca juga: Selain Siagakan 300 Personel Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok Petakan Tiga Kecamatan Rawan Bencana

Baca juga: 295 Patahan di Indonesia Berpotensi Picu Gempa Bumi, 50 Desa Rawan Bencana, Kalimantan Relatif Aman

"Meskipun Indonesia rawan gempa dan tsunami, tapi InsyaAllah dengan rahmat Allah SWT hal itu dapat kita mitigasi dengan kemajuan teknologi saat ini," ujar Dwikorita dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis (2/9/2021).

Dwikorita mengatakan, situasi rawan bencana juga dihadapi banyak negara lain seperti Jepang, New Zealand, dan Amerika Serikat.

Namun, negara-negara tersebut mampu membuktikan kepada dunia bahwa mereka bisa menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang pesat.

Dwikorita menuturkan, kodrat Indonesia sebagai negara kepulauan yang rawan bencana gempa dan tsunami harus dijadikan motivasi bersama untuk memperkuat mitigasi bencana.

Baca juga: Indonesia Rawan Bencana, Brimob dan Pusdokkes Polri Gelar Apel Siaga Disaster Victim Identification

Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut mencontohkan gempa bumi yang menghantam Kota Kobe, Jepang tahun 1995 lalu.

Faktanya, sebagian besar korban yang selamat itu karena pertolongan diri sendiri, yakni mencapai 34,9 persen.

Dwikorita menuturkan, mereka yang selamat karena pertolongan keluarga sebanyak 31,9 persen, pertolongan teman atau tetangga 28 persen, pertolongan pejalan kaki 2,6 persen, pertolongan oleh tim penyelamat 1,7 persen, dan pertolongan lainnya hanya 0,9 persen.

Baca juga: Karateristik Wilayah Kecamatan Nanggung Rawan Bencana, Bupati Bogor Minta Aparatur Lebih Responsif

"Artinya, masyarakat Kobe sudah sangat siap menghadapi bencana, dan mereka yang paham mitigasi gempa memiliki peluang lebih besar untuk selamat," ujar Dwikorita.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved