Berita Nasional

Bappenas: Perpustakaan Harus Jadi Pusat Pelatihan bagi Kalangan Komunitas untuk Belajar Apa Saja

Paradigma yang kini dibawa Perpustakaan Nasional adalah bagaimana masyarakat memahami literasi

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: Feryanto Hadi
M.LATIEF/KOMPAS.COM
Ilustrasi: Perpustakaan di sebuah sekolah dasar di pedalaman Kalimantan Timur. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Saat ini paradigma perpustakaan telah mengubah peran dan fungsi perpustakaan.

Pasalnya, menurut Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, peran fungsi perpustakaan mengurusi koleksi hanya tertinggal 10 persen, sisanya lebih mengedepankan peran melakukan transfer klowledge ke masyarakat. 

"Jadi perpustakaan sudah lama mati kalau dia masih bersikap ekslusif. Dia harus inklusif," kata Syarif Bando di acara Talk Show Radio Sonora FM bertajuk 'Peran Transformasi Perpustakaan Dalam Pemulihan Ekonomi', Selasa, (31/8/2021).

Oleh sebab itu lanjut Syarif Bando, ketika perpustakaan mulai turun ke masyarakat, mengenali segenap keseharian masyarakat, niscaya perpustakaan akan menemukan begitu banyak masalah. 

Baca juga: Perpusnas Sediakan Pojok Baca Digital dan Perpustakaan Modern untuk Dukung Wisata di NTB

Dari situ diketahui bahwa kebutuhan masyarakat kepada akses perpustakaan sangatlah besar.

"Paradigma yang kini dibawa Perpustakaan Nasional adalah bagaimana masyarakat memahami literasi," katanya.

Syarif Bando mengatakan, literasi memiliki empat tingkatan, dimulai dari kemampuan baca, tulis, hitung dan pembangunan karakter, aksesibilitas terhadap bahan bacaan terbaru, terpercaya dan menjadi solusi.

Yang kedua memahami makna tersirat dari yang tersurat. Ketiga memiliki kemampuan berinovasi atau kreativitas. 

Dan tingkatan akhir literasi adalah kemampuan menghasilkan barang/jasa yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

Baca juga: Gelar Literasi Keuangan dan Vaksinasi untuk Pelajar, Bank DKI Gandeng Pemprov DKI Jakarta dan OJK

“Itu artinya, masyarakat membutuhkan sarana perpustakaan mengubah kualitas hidupnya. Dari barang dan jasa yang dihasilkan sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidupnya," ujar Syarif Bando.

Apalagi di tengah kondisi pandemi, dimana kurang lebih 20 juta masyarakat Indonesia merasakan dampak langsung Covid-19. 

Tidak ada jalan lain. Mereka harus punya skill untuk melakukan sesuatu untuk 
melanjutkan kehidupannya.

Itu artinya, jutaan orang membutuhkan asupan ilmu terapan, dan perpustakaan menyediakan.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Digital Agar Menabung dan Pemanfaatan Belanja Online Tetap Seimbang

“Siapa saja yang terdampak pandemi  dan susah lapangan kerja, silahkan datang ke perpustakaan, kami akan membimbing dan mendampingi pilihan ekonomi apa saja," ucap Syarif Bando.

Sementara itu, Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami, memaparkan, terkait dengan program literasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang diusung Perpusnas, Bappenas memberi dukungan penuh dengan menjadikannya sebagai salah satu program prioritas nasional untuk mencapai SDM unggul dan berdaya saing.

Karena pentingnya program tersebut, maka dukungan anggaran juga diperkuat, salah satunya melalui dana alokasi khusus (DAK). 

DAK sudah dijalankan selama tiga tahun untuk membangun infrastruktur sosial, seperti sekolah, rumah sakit dan perpustakaan.

“Di bidang perpustakaan, kami memperkuat infrastruktur seperti pembangunan gedung baru, rehabilitasi, pengadaan perabot, penyediaan bahan dan koneksi internet untuk meningkatkan tingkat kunjungan,” katanya.

Baca juga: Komisi X DPR RI Dukung Usulan Peningkatan Anggaran Perpusnas Tahun 2022

Amich Alhumami menambahkan,  Bappenas juga berharap perpustakaan juga harus menjadi pusat pelatihan bagi komunitas-komunitas untuk belajar apa saja. (ign).

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved