Pertamina Dorong UMKM Go Global, Mitra Binaannya Berdayakan Mantan TKI Hingga Beromzet Miliaran

Selain ke Brunei dan Qatar, produknya kini sudah sampai ke beberapa negara Eropa seperti Prancis, Belgia, Jerman dan Belanda.

Editor: Ichwan Chasani
Dok. Pertamina MOR III
Nurchaeti, pemilik usaha N&N Internasional, saat mengenalkan produk kuliner yang dihasilkannya kepada Menteri BUMN Erick Thohir, beberapa waktu lalu. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Pendampingan dan pembinaan secara intensif kepada UMKM binaan senantiasa dilakukan PT Pertamina (Persero) melalui Program Kemitraan.

Skema pembinaan yang diterapkan yakni diawali dengan kondisi UMKM tradisional, kemudian menjadi Go Modern, lalu Go Digital, menjadi Go Online, hingga akhirnya bisa menembus pasar internasional menjadi Go Global.

Seperti yang sudah diterapkan pada salah satu binaannya, Nurchaeti. Pemilik usaha N&N Internasional ini sudah menerapkan seluruh skema pembinaan UMKM dari Pertamina sehingga kini ia dapat memetik buah manis dari usahanya tersebut.

Namun, siapa sangka, perjalanan Nurchaeti menapaki bisnisnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Awalnya saya adalah seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Singapura. Kemudian tahun 2013 memutuskan pulang ke Indonesia dan buka usaha laundry. Tiga bulan pertama gagal total, hingga akhirnya bisa bertahan dan punya 6 cabang,” tuturnya.

Produk kerupuk jengkol dari N&N Internasional yang menjadi idola di Qatar. Nurchaeti, pemilik usaha N&N Internasional ini sudah menerapkan seluruh skema pembinaan UMKM dari Pertamina sehingga kini ia dapat memetik buah manis dari usahanya tersebut.
Produk kerupuk jengkol dari N&N Internasional yang menjadi idola di Qatar. Nurchaeti, pemilik usaha N&N Internasional ini sudah menerapkan seluruh skema pembinaan UMKM dari Pertamina sehingga kini ia dapat memetik buah manis dari usahanya tersebut. (Dok. Pertamina MOR III)

Dari pengalaman itu, semangat bisnis Nur kian membara. Berawal dari mengikuti pelatihan bisnis kuliner, Nur mendapatkan ilmu berharga terkait bagaimana menentukan harga jual dan manajemen pemasaran.

Ia pun kepikiran untuk langsung terjun melakukan bisnis kuliner. “Ternyata margin jualan makanan gede juga ya,” ujar Nur.

Awalnya, Nur mencoba memproduksi roti manis. Namun karena kurang menguasai resep membuat adonan roti yang benar-benar pas, maka gagal lah proses pembuatan roti tersebut.

Nur lalu teringat bahwa mendiang neneknya memiliki resep keripik pisang yang enak sekali. “Saat itu, saya kepikiran untuk memanfaatkan resep turun temurun keluarga menjadi sebuah peluang bisnis,” tegasnya.

Benar saja, dengan modal Rp 100 ribu untuk membeli pisang tanduk dan bahan lain. Bisnis Nur perlahan mulai gemilang. Hingga puncaknya, akhir tahun 2015, Nur bertemu dengan seorang distributor keripik di Brunei Darussalam di sebuah pameran.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved