VIDEO Usaha yang Dirintis 30 Tahun Hancur Gara-gara Corona, Pedagang Ini Curhat Punya Banyak Utang
Karenanya kata Rudi dia pun bangkrut dan membiarkan lapaknya di Pasar Pondok Labu kosong selama sekitar 3 bulan ini.
Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Murtopo
WARTAKOTALIVE.COM, PONDOK CABE -- Rudi Hidayat (50) mungkin tak menyangka jika usaha yang dirintisnya sejak 30 tahun lalu, kini telah hancur.
Sejak muda, ia mengaku sudah mulai berjualan buah di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Dari yang awalnya hanya lapak kecil dan menumpang serta tak banyak dilirik pembeli, kini lapak buahnya sudah ramai.
Bahkan ayah dua anak itu telah memiliki beberapa pelanggan setia di sana.
Tapi sejak 3 bulan lalu, usahanya bangkrut.
Ia bangkrut setelah sekuat tenaga mencoba bertahan, di masa pandemi Covid-19 ini.
Baca juga: PERINGATAN Dini Jakarta Hari Ini, Hujan Sedang-Lebat Disertai Petir Terjadi Pagi Hari
Baca juga: Imbas PPKM, Penjual Bendera Merah Putih Keliling Gigit Jari Tak Bisa Lagi Merasakan Keuntungan
Baca juga: Bantuan untuk Warga Kota Bogor yang Terdampak Covid-19 dan Pasien Isolasi Mandiri Terus Mengalir
"Selama 30 tahun dagang dan rintis usaha jualan buah. Baru sekarang ngalamin kayak begini, semuanya bener-bener habis," kata Rudi saat berbincang dengan Wartakotalive.com belum lama ini.
Bahkan upayanya untuk mencoba bertahan, berdampak dirinya memiliki banyak utang ke beberapa rekannya sesama pedagang.
"Kalau utang mah, bisa dibilang banyak. Sekitar 10 jutaan. Utang sama temen-temen juga. Bayarnya nyicil sebisa saya," kata Rudi.
Menurut ayah dua anak, warga Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Kota Tangerang Selatan itu, di awal pandemi pada 2020, dampaknya belum terlalu terasa baginya.
Baca juga: Ganggu Iklim Investasi, Aktivis Pantura Kabupaten Tangerang Tegaskan Tidak Ada Mafia Tanah
Baca juga: VIRAL Anggaran Seragam DPRD Kota Tangerang Jadi Sorotan, Pengamat Minta 5 Hal Ini Dipertimbangkan
"Awal-awal pandemi sampai akhir tahun 2020, saya masih bisa bertahan. Walau penghasilan menurun drastis, tapi kadang masih ada pemasukan rutin dari jualan buah di pasar," kata Rudi.
"Tapi waktu pandemi kedua dari awal 2021 sampai PPKM. Anjloknya gila-gilaan. Jualan selalu rugi," kata Rudi.
Cukup sering baginya dagangan buahnya membusuk dan dimakan sendiri.
"Beberapa kali pinjem uang untuk modal lagi, tapi gak ketutup juga. Pembelinya gak ada lagi pasar mungkin karena PPKM. Sekarang orang mau beli buah aja, milih online," katanya.
Karenanya kata Rudi dia pun bangkrut dan membiarkan lapaknya di Pasar Pondok Labu kosong selama sekitar 3 bulan ini.
Baca juga: Bantuan untuk Warga Kota Bogor yang Terdampak Covid-19 dan Pasien Isolasi Mandiri Terus Mengalir
Baca juga: Covid-19 Bikin Anak di Kota Bogor Jadi Yatim Piatu, Mereka Terguncang Secara Ekonomi dan Mental
"Belum berani jualan, lagian modalnya belum ada. Mikir juga saya, takut rugi besar lagi," kata pria yang sudah lebih 10 tahun berjualan buah di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Karena semua kesulitan keuangan selama pandemi itulah, Rudi mengaku bahwa uang sekolah anak pertamanya yang berusia 10 tahu, belum dibayar selama setahun belakangan. "Anak saya sekolah masih bayaran. Karena sekolah di madrasah," katanya.
Sementara anak keduanya masih berusia 4 tahun. "Lalu uang kontrakan saya pun masih nunggak 2 bulan ini. Sebulannya Rp700 Ribu. Yang punya udah nagih terus, tapi untungnya kami masih dikasih kebijaksanaan boleh tinggal meski nunggak," kata Rudi.
Sebenarnya kata Rudi sebelumnya ia memiliki sedikit uang simpanan. "Tapi habis juga karena istri sempet sakit, anak juga sempet sakit. Untungnya sakitnya bukan corona," kata dia.
Belum lagi kata dia sebagian simpanan sempat dipakai untuk memulai berdagang buah, tapi akhirnya tetap merugi dan bangkrut.
Baca juga: Pemkot Depok Kejar Target Vaksinasi Massal, Agustus Ini Mesti Capai 50 Persen dari 1,6 Juta Warga
Namun kata Rudi sedikit harapan muncul, setelah sekitar dua bulan ini menganggur tak punya pekerjaan.
"Diajak abang ipar jadi petugas keamanan di perumahan di sini sejak beberapa hari lalu. Gantiin satu petugas keamanan yang sakit karena corona," kata Rudi.
Dimana setiap berjaga di salah satu perumahan di Pondok Cabe Ilir, selama 12 jam, Rudi diupahi Rp75.000.
"Jadi shift-shiftan jaganya. Ini juga saya sementara saja. Tapi lumayan ngebantu. Semoga sih, ada rezeki lain di sini atau tempat lain," doanya.
Meski pekerjaan sebagai petugas keamanan sementara belum bisa dijadikan pegangan, Rudi tetap bersyukur dan berharap ada rezeki yang lebih baik di keesokan hari.
"Pengennya pandemi corona ini cepet selesai dan semua normal kayak dulu lagi. Jadi saya bisa jualan di pasar lagi dan lancar pemasukannya," kata dia.(bum)