Breaking News:

Catatan Ilham Bintang

Narsisme di Balik Baliho dan Billboard Tokoh Politik di Era Pandemi Covid-19

Puan Maharani, Airlangga Hartarto, Agus Harimurti Yudhoyono dan sejumlah tokoh politik adu narsis lewat baliho raksasa. Fenomena apa?

Editor: Suprapto
Istimewa/Kompas.com
Baliho bergambar Puan Maharani di depan kantor DPC PDIP Kabupaten Blitar bikin heboh setelah ada coretan bertuliskan 'Open BO'. Saat ini, banyak baliho tokoh politik yang dipasang di sejumlah tempat di seluruh Indonesia. 

ADA dua golongan yang tidak boleh dipilih jadi pemimpin. Golongan pertama, orang "yang tidak mau". Golongan kedua : "orang yang terlalu mau".

Kepemimpinan berdasar kearifan lokal masyarakat tradisional Bugis Makassar, Sulawesi Selatan, itu mewanti-wanti supaya berhati- hati mengenai dua golongan calon pemimpin tersebut.

Punya Agenda Sendiri

Sederhana alasannya. Golongan yang tidak mau akan sulit dimintai pertanggungjawaban amanah kepemimpinannya.

Kalau gagal atau hadapi masalah, mudah dia bela diri dengan mengatakan, "siapa yang suruh memilih saya. Sejak awal saya kan memang tidak mau".

Yang terlalu mau ?

Lebih sulit lagi. Dampaknya bisa fatal. Karena golongan ini niscaya hanya akan menjalankan agendanya sendiri dan agenda kelompoknya. Tidak konek dengan aspirasi seluruh masyarakat yang memilihnya.

Baca juga: Politikus Senior PDIP: Baliho Puan Maharani Murni Inisiatif Fraksi di DPR, Bukan Perintah Partai

Baca juga: Ketua DPR Puan Maharani: Tindak Tegas Mafia Obat Terapi Covid-19 Tanpa Pandang Bulu

Pemilihan Langsung

Dalam sistem politik kita setelah reformasi, tampaknya kearifan lokal model itu sudah usang alias jadul, sudah dibuang ke tempat sampah.

Digantikan oleh sistem demokrasi modern, "impor" dari sistem demokrasi negara-negara maju di barat.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved