Kolom Trias Kuncahyono

Rayuan Pulau Kelapa

Ismail Marzuki, anak Betawi yang lahir di Kwitang pada 11 Mei 1914 (meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei 1958) adalah salah seorang

Istimewa
Foto ilustrasi kolom Trias Kuncahyono, "Rayuan Pulau Kelapa" 

Nasionalisme adalah yang menentukan bangsa mempunyai rasa cinta secara alami kepada Tanah Airnya.

Kata Bung Karno, nasionalisme Indonesia juga merupakan nasionalisme yang memuliakan kemanusiaan universal dengan menjunjung tinggi persaudaraan, perdamaian, dan keadilan antarumat manusia (Yudi Latif, 2011).

Inilah nasionalisme kemanusiaan Mahatma Gandhi. Kata Gandhi, “Nasionalisme saya… tidak eksklusif, atau dirancang untuk merugikan bangsa atau individu mana pun.

Misi saya bukan hanya persaudaraan kemanusiaan India….saya berharap untuk mewujudkan dan melanjutkan misi persaudaraan manusia.

Konsepsi patriotisme saya tidak ada artinya jika tidak sejalan dengan kebaikan seluas-luasnya bagi umat manusia pada umumnya…”

Karena nasionalisme Indonesia adalah nasionalis yang memuliakan kemanusiaan, maka menurut Bung Karno, nasionalisme Indonesia tidaklah nasionalisme “chauvinis” atau “provinsialis” yang memecah belah.

Nasionalisme semacam itu, adalah bentuk “assyabiyah yang dikutuk  Allah.”

Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa: menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan; menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara; bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air  Indonesia serta tidak merasa rendah diri.

Selain itu juga mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa; menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia; mengembangkan sikap tenggang rasa.

III

ilustrasi gambar: Istimewa

Rasanya, sekarang, ketika pandemi Covid-19 masih menelikung negeri ini perlu kiranya perlu “merenungkan ulang” nasionalisme Indonesia yang dilandasi nilai-nilai Pancasila itu.

Semestinya, memang, pandemi Covid-19 semakin meneguhkan rasa nasionalisme kita semua, bukan justru sebaliknya.

Bukankah semestinya, nasionalisme menempatkan loyalitas kepada bangsa di atas segala bentuk loyalitas politik dan sosial lainnya.

Bukankah juga nasionalisme tidak hanya menjadikan bangsa sebagai fokus kesetiaan politik, tetapi juga menegaskan bahwa bangsa adalah satu-satunya dasar yang tepat bagi organisasi setiap aktivitas politik

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved