Breaking News:

Kolom Trias Kuncahyono

Rayuan Pulau Kelapa

Ismail Marzuki, anak Betawi yang lahir di Kwitang pada 11 Mei 1914 (meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei 1958) adalah salah seorang

Istimewa
Foto ilustrasi kolom Trias Kuncahyono, "Rayuan Pulau Kelapa" 

WARTAKOTALIVE.COM -- Ismail Marzuki, anak Betawi yang lahir di Kwitang pada 11 Mei 1914 (meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei 1958) adalah salah seorang komponis besar Indonesia.

Karyanya antara lain,  Rayuan Pulau Kelapa (1944),  Gugur Bunga di Taman Bakti (1945), Halo-halo Bandung (1946); juga Sepasang Mata Bola dan Aryati.

Lagu itulah—Rayuan Pulau Kelapa—yang  dinyanyikan di Gereja Katolik Katedral Santa Theresia Lisieux Sibolga, saat tahbisan  Uskup baru Keuskupan Sibolga  Mgr. Fransiskus TS Sinaga, Kamis (29/7).

Adalah Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo yang mengajak seluruh umat, saat khotbah—untuk menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Katanya, lagu Rayuan Pulau Kelapa berbicara tentang cinta Tanah Air: “Waktu itu, kesempatan mengajak umat untuk merawat cinta Tanah Air,” kata Kardinal.

Maka Kardinal pun menyanyikan : Tanah airku Indonesia/Negeri elok amat kucinta/Tanah tumpah darahku yang mulia/Yang kupuja sepanjang masa/….

Cinta Tanah Air. Lain lagi cara Greysia Polii/ Apriyani Rahayu dalam mengekspresikan kecintaan mereka pada Tanah Air.

Mereka berjuang habis-habisan untuk merebut emas dalam cabang bulutangkis pada Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.

Dan, berhasil! Mereka mempersembahkan emas—yang pertama untuk ganda putri dan satu-satunya emas yang direbut Indonesia pada olimpiade kali ini.

II

Ilustasi foto: Istimewa
Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved