Peraih Medali Olimpiade

Eko Yuli Irawan Jalani Karantina 8 Hari Sebelum Dibolehkan Pulang ke Rumah dan Bertemu Keluarganya

Seluruh atlet dan ofisial yang baru pulang dari Olimpiade Tokyo wajib jalani karantina selama 8 hari sebelum pulang ke rumahnya

Penulis: Rafzanjani Simanjorang | Editor: Umar Widodo
NOC Indonesia
Eko Yuli Irawan Lifter Indonesia kelas 61 Kg berdiri diatas podium kehormatan menerima medali perak Olimpiade Tokyo 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Rafsanzani Simanjorang

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan telah mengakhiri masa karantinanya di Hotel Fairmont, Jakarta usai pulang dari Tokyo, Jepang.

Eko yang tiba sejak Kamis (29/7/2021) lalu, memang langsung menjalani karantina sesuai dengan peraturan pemerintah.

Lebih sepekan di karantina, peraih medali perak Olimpiade Tokyo ini pun membagikan pengalamannya.

"Tidak bisa kemana-mana, untuk makan pelayanan kamar saja. Untuk mengurangi kebosanan bisa menelpon keluarga, sesekali live di Intagram agar ada teman mengobrol dan menjawab-jawab pertanyaan," ujarnya.

Eko pun menyebut karantina delapan hari membuat dirinya mengalami rasa bosan yang luar biasa.

Ada pun usai karantina delapan hari, Eko Yuli Irawan langsung pulang ke rumah di Bekasi dan bertemu dengan keluarganya.

Eko sendiri telah punya impian untuk membangun lapangan latihan serta mencetak lifter-lifter baru nantinya.

Eko merupakan lifter Indonesia yang berhasil menyumbangkan medali Olimpiade sejak Olimpiade Beijing 2008 (perunggu), Olimpiade London 2012 (perunggu), Olimpiade Rio de Janeiro 2016 (perak) dan terbaru Olimpiade Tokyo 2020 (perak).

Sementara itu  bagi pelatih angkat besi Indonesia, Dirdja Wihardja, penyelenggaraan Olimpiade Tokyo tetap memberikan kesan tersendiri di tengah pandemi Covid-19.

Selain pihaknya bisa membawa pulang satu medali perak dan dua medali perunggu, pelatih bertangan dingin ini mengatakan keseruan Olimpaide Tokyo ada pada penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Misalnya kami masuk  ke dining hall (tempat makan) yang ukurannya dua kali lapangan sepak bola. Masuk menggunakan hand sanitizer, cuci tangan, pakai hand block, habis itu diambilin, lalu selesai makan harus diletakkan ke tempat awal," ceritanya.

Dirdja Wihardja pelatih angkat besi tim Indonesia mengambil pelajaran dari penyelenggaraan Olimpiade Tokyo ditengah pandemi yang panitianya sangat displin dan ketat menjalankan prokes Covid-19
Dirdja Wihardja pelatih angkat besi tim Indonesia mengambil pelajaran dari penyelenggaraan Olimpiade Tokyo ditengah pandemi yang panitianya sangat displin dan ketat menjalankan prokes Covid-19 (Dok. Pribadi)

Lanjutnya, penerapan protokol kesehatan pun secara ketat dilakukan di tempat latihan. Mulai dari cek suhu badan dan pake hand sanitizer. Sehabis latihan besi yang digunakan di lap, dan disemprot.

"Lebih belajar betapa disiplinnya panitia disana. Tes Saliva juga, jadi tidak kemana-mana, paling ke tempat latihan, dining hall. Jadi fokus menyendiri sebelum pertandingan. Karena sebelum bertanding juga di tes Saliva (air liur)," tambahnya.

Karena banyaknya aturan dan ketatnya protokol kesehatan yang diterapkan oleh panitia Olimpiade Tokyo, mereka akhirnya hanya bisa berdiam diri dikamar selama kegiatan latihan dan pertandingan belum berlangsung.

Tapi hasilnya cabor angkat besi berhail menyumbangkan 1 medali perak dan 2 medali perunggu untuk kontingen Indonesia.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved