Breaking News:

Kasus Debt Collector

Ulah Debt Collector Masih Terjadi, OJK: Jika Tidak Dievaluasi Citra Perusahaan Pembiayaan Jadi Buruk

Riswinandi mengatakan, dirinya kerap mendengar kabar para penagih utang atau debt collector, yang melaksanakan tugasnya dengan cara yang tidak baik.

Editor: Dedy
sacconsumerlaw.com
Ilustrasi -- teror debt collector sering mengganggu, bahkan tak jarang penuh ancaman dan perkataan kasar. Kita bisa melaporkannya ke polisi. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA --- Tindak kekerasan yang dilakukan kawanan debt collector saat menagih debitur membuat pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) geram.

Tak jarang, perbuatan para debt collcetor penagih utang tersebut berlawanan hukum lantaran melakukan pengancaman, pengerusakan, dan penganiayaan.

Kepala eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Riswinandi Idris pun mengamini kenyataan tersebut.

Riswinandi mengatakan, dirinya kerap mendengar kabar para penagih utang atau debt collector, yang melaksanakan tugasnya dengan cara yang tidak baik.

“Pada prakteknya kita kerap menerima kabar yang kurang mengenakan. Dimana proses penarikan disertai perbuatan yang tidak menyenangkan, yang katanya dilakukan oleh debt collector,” ujar Riswinandi dalam diskusi virtual yang dikutip, Selasa (27/7/2021) seperti dilansir Tribunnews.com.

Bahkan, perbuatan yang dilakukan debt collector tersebut, kata Riswinandi, berpotensi menimbulkan risiko hukum.

Beberapa perbuatan yang diketahuinya berupa ancaman, kekerasan, tindakan yang bersifat mempermalukan, bahkan perlakuan secara fisik maupun verbal.

“Kami juga memandang, proses penagihan yang dilakukan debt collector harus memperhatikan aspek-aspek yang berpotensi dapat menimbulkan risiko hukum,” jelas Riswinandi.

“Diantaranya penagihan dilarang menggunakan ancaman, kekerasan atau tindakan bersifat mempermalukan. Dan juga secara fisik maupun verbal,” sambungnya.

Dengan adanya fenomena ini, Riswinandi menghimbau kepada seluruh perusahaan pembiayaan yang masih melakukan parktik tersebut agar dapat segera melakukan evaluasi.

Jika tidak, citra perusahaan pembiayaan akan terus menjadi buruk di mata masyarakat.

“Hal ini tentu saja kurang baik dan akan dapat berimplikasi negative terhadap image perusahaan atau industri pembiayaan secara umum,” pungkasnya. 

Untuk itu, mengingatkan kepada seluruh perusahaan pembiayaan untuk bijak dalam menagih debitur yang menunggak terkait hak dan kewajibannya.

Baca juga: Rampas Motor di Cileungsi, Empat Debt Collector Mata Elang Diamankan Polisi

Baca juga: Tergiur Pinjaman Online buat Biaya Pendidikan S1, Guru TK Terjerat Utang dan Diancam Debt Collector

Baca juga: Daftar Aksi Meresahkan Debt Collector, Mulai dari Kepung Anggota TNI hingga Emak-emak jadi Korban

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved