Breaking News:

PDIP Bakal Bangun Monumen Tragedi Kudatuli, Hasto Kristiyanto: Perjuangan Kita Belum Selesai

Hasto mengatakan pada era Orde Baru, demokrasi betul-betul dikendalikan serta dikontrol oleh kekuatan elite yang menindas.

Editor: Yaspen Martinus
ISTIMEWA
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memimpin acara tabur bunga memperingati peristiwa 27 Juli 1996 alias Tragedi Kudatuli, di Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, Selasa (27/7/2021). 

"Perjuangan kita belum selesai, termasuk di dalam menuntut kebenaran hukum atas peristiwa tersebut," tegas Hasto, Selasa (27/7/2021).

Kata Hasto, PDIP tidak akan pernah bosan datang ke Komnas HAM, mengingatkan perlunya pengadilan koneksitas agar mereka yang terlibat diadili.

Baca juga: Menkes Minta Orang Positif Covid-19 yang Saturasi Oksigen di Atas 94 Tak Usah Dibawa ke Rumah Sakit

Seperti, aktor-aktor politik penyusun skenario yang mencoba mematikan suara rakyat dengan menimbulkan korban jiwa di kantor DPP PDI saat itu.

"Ketika menaburkan bunga ini tentunya semangat kita bukan hanya untuk mendoakan arwah para korban, tetapi juga agar keadilan ditegakkan."

"Keadilan yang sebenar-benarnya di mata hukum dan politik," jelas Hasto.

Baca juga: Sepakat Jokowi Tak Bisa Dijatuhkan karena Alasan Covid-19, Ketum PBNU: Kami Punya Pengalaman Pahit

Hasto juga menyampaikan pesan dari Ketua Umum Megawati Sukarnoputri, penting untuk membangun sebuah batu monumen untuk memperingati peristiwa itu.

"Tadi pagi saya melaporkan kepada Ibu Megawati Sukarnoputri terhadap acara tabur bunga ini."

"Beliau juga mengingatkan bahwa penting bagi kita di tempat ini untuk membangun monumen 27 Juli," ungkap Hasto.

Baca juga: Pengawasan Aturan Makan di Warung Maksimal 20 Menit Dilakukan Satgas Covid-19, Bukan Polisi

Karena itu, pihaknya akan segera meminta berbagai masukan agar Monumen 27 Juli bisa diwujudkan.

Semangatnya adalah sekaligus bagaimana monumen itu bisa menunjukkan suatu gelora semangat demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, yang tidak pernah bisa dibungkam oleh kekuasaan yang otoriter.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved