Senin, 18 Mei 2026

Virus Corona Jabodetabek

Kisah Saskia Lebih Senang Isolasi Mandiri di RLC Tangsel: Diterima dengan Baik dan Diperhatikan

Para pasien yang isoman di Rumah Lawan Covid Tangsel merasa nyaman dan diperhatikan di nakes, ketimbang isoman di rumah

Tayang:
Wartakotalive/Ikhwana Mutuah Mico
Saskia Puji Lestari melakukan isolasi mandiri di Rumah Lawan Covid-19 (RLC) Tangerang Selatan, Selasa (27/7/2021) 

WARTAKOTALIVE.COM, SERPONG - Saskia Puji Lestari (23) seorang  pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri atau isoman di Rumah Lawan Covid-19 (RLC) Tangerang Selatan (Tangsel).

Ia menceritakan awal mula terpapar juga kurang tahu sebenarnya dari mana, selama PPKM, dirinya hanya melakukan aktivitas  dirumah.

"Keluar cuma sesekali waktu butuh belanja ke supermarket, dan  menerima paket dari online shop juga, pesan go food," tuturnya saat ditemui di RLC,  Tangsel, Selasa (27/7/2021).

Gejala awal yang dirasakan Saskia hanya radang tenggorokan.

Kemungkinan saat ke supermarket imunnya sedang menurun sehingga mudah tertular.

Gejalanya radang dirasakan selama seminggu, ia hanya berdiam diri di rumah karena mengira dirinya hanya sakit biasa.

Kemudian Saskia merasakan batuk kering dan pilek, sampai terkena diare.

Baca juga: Siti Komariyah Sempat Takut Masuk RLC, Siti : Ternyata Seperti Liburan

Ia memutuskan langsung  melakukan tes swab antigen di rumah sakit terdekat dan hasilnya positif.

Setelah sehari mengetahui hasilnya positif, munculah gejala anosmia atau penciuman hilang, rasa makanan dan minuman juga tak terasa tajam.

Dari situ akhirnya ia memutuskan untuk isoman di rumah.

Saat itu sang ibu dalam kondisi yang juga tak sehat.

Ia langsung menghubungi puskesmas untuk meminta tracing agar sang ibu ikut ditest swab antigen.

Ia minta surat pengantar ke RLC karena takut menularkan ke orang tua.

"Aku diminta kirim video saturasi oksigen aku pake oksimeter, kalau saturasi aku masih normal baru bisa dibawa ke RLC dan besok paginya aku berangkat jam 9," ujarnya.

Ia meminta untuk isoman di RLC dirumah saat menjalani isolasi selama 2-3 hari.

Selama itu dirinya merasakan sesak dan saturasi dibawah 95, namun di puskesmas hasilnya masih normal.

Saat setelah melakukan pemeriksaan tak mendapatkan obat khusus yang diberikan puskesmas.

Sebelumnya, sudah melakukan konsul kepada dokter melalui aplikasi halodoc dan diberi resep.

Saat melakukan isoman di RLC ia hanya membawa obat sendiri dari rumah.

Saat dirinya melakukan pemeriksaan ke puskesmas, untuk melihat kondisi keluarga, hasil dari pemeriksaan seluruh keluarganya negatif.

Ia khawatir karena sang ibu memiliki gejala sehingga mendapatkan vitamin dari puskesmas.

"Kebetulan saya kan ada riwayat penyakit flek paru paru gitu, dan aku selama disini sesaknya gak separah di rumah, dan takutnya kan kalau orang rumah gak mengerti ya harus menghadapi gimana," terangnya.

Baca juga: RLC Kota Tangsel Tambah Sejumlah Tenda Darurat Pasien Covid-19, Kendalanya Tenaga Kesehatan Kurang

Ia merasakan lebih aman isoman di RLC dikarenakan ada yang memantau saturasi aku, jika ada gejala sesek ia langsung diberikan arahan untuk melakukan sesuatu.

Ada rasa takut saat terpapar virus Covid-19, ia memikirkan orang-orang yang ada di sekitar, ditambah ia tak mengetahui obat apa yang dikonsumsi saat terkena Covid-19.

Masuk RLC menjadi keputusannya, sehingga tidak merasakan takut.

Ia memikirkan saat ini orang rumah memiliki bhasil negatif, sehingga lebih baik jika dirinya sementara berpisah dulu dengan keluarganya. 

"Tapi sebenernya awal mau berangkat ke RLC aku juga rada takut gak sesuai ekspektasi sih, eh ternyata pas sampe sini alhamdulillah lumayan bgt lah buat recovery apa lg buat yg ngerasa terkurung bgt kalo isoman di rumah," terangnya.

Ia mengungkapkan, saat isolasi di rumah merasa terkurung karena susah untuk beraktivitas.

Saat akan berjemur badan harus lewat jendela. 

"Jadi kayak merasa terkurung banget sih jujur, ditambah kalo di rumah karena mama lagi kurang sehat jadi pola makan nggak bisa teratur, makanan juga seadanya,"  terangnya.

Berbeda dengan diRLC pola makan diatur 3x sehari, ada snack dan makanan lauk sesuai anjuran, obat-obatan jika ada gejala apa.

Jika merasakan gejala, langsung meminta obat kepada nakes, kalo ada keluhan sesak bisa langsung dicek saturasi, dilihat keadaan selama disini juga jika ada pasien yang sesaknya parah sudah sedia oksigen dan langsung ditanganin, dan jika parah bisa dirujuk ke Rumah Sakit terdekat.

"Aku dapet banyak support dari temen-temen aku, pacar aku, temen kantor juga dan banyak juga tetangga aku yg pernah positif juga dulu dan sekarang udah sembuh, mereka ngasih aku beberapa saran dari pengalaman mereka dan bantuan juga, jadi ya aku juga mikir aku pasti bisa sembuh juga kaya mereka,"jelasnya.

Baca juga: Cerita Pasien Covid-19 di RLC Tangsel, Sekeluarga Terpapar Covid-19 Lalu Apa yang Dilakukan?

Pada saat tiba di RLC, langsung disambut para pasien lainnya dengan baik.

Saat di RLC imunnya pun langsung naik, bahkan sehari setelah di RLC penciumannya mulai pulih sedikit demi sedikit bisa mencium kembali.

Saskia menuturkan, saat akan berangkat ke RLC merasa sedih, apalagi saat naik ambulans, melihat sang ibu dari dalam ambulans

"Pas naik ambulans masih nangis, bahkan di perjalanan saja aku masih kepikiran mama. Karena kondisi mama lagi drop juga, tapi pas selama di RLC aku selalu video call sama mama," terangnya.

Kegiatan di RLC

Koordinator Rumah Lawan Covid-19 Kota Tangerang Selatan (RLC Kota Tangsel), Suhara Manullang sebut penerimaan jumlah pasien infeksi virus corona meroket dalam beberapa pekan terakhir.
Koordinator Rumah Lawan Covid-19 Kota Tangerang Selatan (RLC Kota Tangsel), Suhara Manullang sebut penerimaan jumlah pasien infeksi virus corona meroket dalam beberapa pekan terakhir. (Warta Kota/Rizki Amana)

Kegiatan yang dilakukan di RLC setiap pagi  antara lain melakukan jalan pagi, senam.

Kemudian dilanjutkan dengan berjemur pada pukul 08.00 WIB.

Setelah itu dilanjutkan dengan rutinitas masing-masing, ada yang ngobrol, nonton tv, ada juga yang istirahat di kamarnya sambil menunggu waktu makan siang.

Selama melakukan isoman di RLC , Saskia selalu memikirkan kondisi sang ibu yang sedang sakit.

Dan untuk mengurangi rasa sedihnya dirinya ikut keliling membantu mengecek tensi dan saturasi pasien di RLC.

"Aku suka sedih kalau denger beberapa ibu-ibu yang cerita dia gak bisa makan karena baru merasa beberapa gejala, ada yg juga kepikiran keluarganya. Jadi aku juga suka ngobrol sama ibu2-ibu disni dengerin cerita mereka,"jelasnya.

Pelajaran ia dapatkan setelah terpapar Covid-19, ia akan lebih sadar menaati prokes yang ada, lebih taat akan peraturan PPKM, keluar yang memang bener-bener  seperlunya, kalau tidak ada keperluan sebaiknya jangan keluar.

Sehari sebelum berangkat menuju RLC ia melaporkan dirinya kepada RT tempatnya tinggal, ia minta bantuan kapada tetangga yang memiliki pengalaman tentang covid.

"Alhamdulillah juga punya tetangga yg pernah punya pengalaman tentang covid, aku diperhatiin disupport dan dipinjemin alat oksimeter buat cek saturasi aku," terangnya.

Ia memiliki harapan jika nantinya sembuh ia bisa kembali ke rumah, kumpul kembali dengan keluarga, berharap pandemi Covid cepat menghilang, karena dirinya sudah rindu bekerja di kantor, jalan-jalan dan liburan. (M30)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved