Trias Kuncahyono

Bung, Saya Tidak Paham

Bung Karno-lah yang memopulerkan sapaan “Bung” itu. “Dipanggil ‘Bung’ (panggilan akrab kepada saudara) sesuai anjurannya…”

Istimewa
Poster pesanan Bung Karno karya pelukis Affandi. 

II

Sekarang ini, memang, bukan lagi zaman revolusi perjuangan, tetapi tetap zaman perjuangan.

Dulu berjuang untuk kemerdekaan bangsa, bersama-sama mengorbankan segalanya, termasuk nyawa, demi lahirnya negara Indonesia.

Sekarang berjuang bersama untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Dalam setiap perjuangan, selalu saja ada yang berkhianat, mengkhianati perjuangan, mencari keuntungan diri.

Dahulu di zaman revolusi perjuangan ada. Sekarang pun, ada!  

Tentu, bentuk pengkhianatannya berbeda-beda.

Sekarang ini, ketika hampir semua lapisan masyarakat berjuang untuk mengatasi pandemi Covid-19, ada saja orang-orang yang mencari untung di tengah kemalangan, di tengah penderitaan.

Ada yang korupsi dana bantuan sosial. Ada yang menaikkan harga obat-obatan. Ada yang memungli biaya pemakaman korban Covid-19, seperti yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu.

Bahkan, ada yang membuat jaringan mafia kremasi jenazah korban Covid-19.

Bukankah semua itu adalah bentuk pengkhianatan. Pengkhiatan terhadap  nilai-nilai luhur kemanusiaan. Pengkhianatan terhadap  hati nurani.

Bukankah, setiap manusia mempunyai hati nurani yang menuntut manusia untuk berlaku berdasarkan prinsip-prinsip moral, seperti bertindak adil, benar, dan jujur.

Tuntutan tersebut bersifat mutlak atau tidak bisa ditawar-tawar, bukan berdasar pertimbangan untung atau rugi, bukan pula berdasarkan perasaan senang atau tidak senang; juga bukan karena alasan politik ataupun idiologis.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved