Breaking News:

Virus Corona Bogor

Dapat Bantuan 20 Unit Konsentrator Oksigen dari BNPB, RSUD Kota Bogor Butuh 4,8 Ton per Hari

Kota Bogor kekurangan pasokan oksigen akibat kasus Covid-19 melonjak. BNPB beri bantuan 20 unit konsentrator oksigen. RSUD Kota Bogor butuh 4,8 ton.

Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
Dok. Pemkot Bogor
Dapat Bantuan 20 Unit Konsentrator Oksigen dari BNPB, RSUD Kota Bogor Butuh 4,8 Ton per Hari. 

WARTAKOTALIVE.COM, BOGOR - Dapat bantuan 20 unit konsentrator oksigen dari BNPB, RSUD Kota Bogor butuh 4,8 ton per hari.

Di tengah kelangkaan oksigen yang kini masih dialami, Kota Bogor mendapatkan bantuan sebanyak 20 unit Oxygen Concentrator dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai pengganti oksigen tabung untuk pasien Covid-19 yang membutuhkan.

Bantuan 20 unit konsentrator oksigen tersebut akan dialokasikan ke Rumah Sakit Perluasan RSUD Kota Bogor sebanyak 15 unit. Sementara sisanya dipergunakan di IGD RSUD Kota Bogor.

"Paling tidak dengan adanya oksigen konsentrator ini banyak warga Kota Bogor yang terbantu. Sementara kita masih menunggu pasokan oksigen yang seharusnya memang kebutuhannya sangat tinggi di RSUD," kata Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat melihat langsung unit Oxygen Concentrator di RS Perluasan, GOR Pajajaran, Jumat (16/7/2021).

Dedie mengatakan, kebutuhan oksigen di RSUD Kota Bogor sendiri membutuhkan setidaknya lebih dari 4,8 ton per hari.

Itu semua untuk menangani pasien Covid-19 di sana. Di RSUD juga diperlukan sebanyak 210 tabung berukuran enam meter kubik.

"Jadi dengan kelangkaan dan kesulitan distribusi atau pasokan mengakibatkan penurunan kapasitas daya tampung. Sehingga mengakibatkan banyak orang melakukan isolasi mandiri," sambung Dedie A Rachim.

Baca juga: Kota Bogor Dapat Bantuan 1 Ton Ikan Beku dan 4.000 Ikan Olahan dari KKP, Buat Warga yang Isoman

Di luar itu, tak hanya berbicara oksigen, Dedie juga menerangkan saat ini timbul permasalahan baru. Yakni soal ketersediaan obat - obatan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor meminta secara khusus kepada para penegak hukum untuk mencari kemana sebetulnya obat-obatan tersebut.

"Jangan sampai ada yang menimbun. Jika sampai terjadi penimbunan, harus segera ditindak. Karena masyarakat dalam kondisi darurat tidak bisa menunggu dan harus ada ketegasan dari aparat," terang Dedie.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved