Breaking News:

Keuangan

Indef Minta Pemerintah Realistis, Tidak Usah Muluk-muluk Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Dengan kondisi Covid-19 yang parah, terlebih lagi pada ledakan kasus kedua ini tidak heran kalau target pertumbuhan ekonomi meleset

Editor: Feryanto Hadi
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto saat wawancara khusus dengan Tribun Network di Kantor Tribun Network, Jakarta Pusat 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meminta pemerintah untuk mengoreksi target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen hingga 5,8 persen di 2022. 

Direktur Program Indef Esther Sri Astuti mengatakan, dengan kondisi Covid-19 yang parah, terlebih lagi pada ledakan kasus kedua ini tidak heran kalau target pertumbuhan ekonomi meleset. 

"Jika pemerintah itu menargetkan pertumbuhan ekonomi 5 persen itu terlalu optimis. Mungkin mohon bisa dikoreksi," ujarnya saat webinar, Rabu (7/7/2021). 

Esther menjelaskan, koreksi tersebut karena pada saat kondisi normal saja, ekonomi Indonesia dari tahun 2015 sampai dengan 2019 hanya tumbuh di kisaran 5 persen. 

Baca juga: Jurus Pemerintah agar Utang dan Defisit Tidak Makin Membengkak saat Hadapi Pandemi

Baca juga: Genjot Pertumbuhan Ekonomi Mendagri Minta Belanja Lewat APBD Tak Ditahan hingga Akhir Tahun

Sementara, lanjutnya, bahwa secara agregat memang penyaluran kredit juga tidak bisa mengalir karena risiko masih tinggi. 

"Memang dilihat dari risiko kredit yang secara agregat masih relatif tinggi gitu ya. Kenapa? Ya kalau dilihat bahwa konsumsi masyarakat yang berkurang karena tadi motif berjaga-jaga atas ketidakpastian krisis pandemi ini," kata Esther. 

Bahkan, dia menambahkan, masyarakat itu sudah mantab alias makan tabungan, sehingga ketika dilihat datanya risiko kredit yang ditunjukkan melalui NPL masih tinggi. 

"Suku bunga kredit juga masih tinggi meski Bank Indonesia bilang suku bunga sudah turun," pungkasnya.

Revisi target pertumbuhan ekonomi

Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III akibat dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia masih punya kekuatan dari sisi ekspor pada periode ini. 
"Kita melakukan revisi terhadap pertumbuhan karena kita melihat bahwa di kuartal III yang menjadi penting dan menjadi andalan adalah ekspor," ujarnya saat konferensi pers secara virtual, Senin (5/7/2021). 
Airlangga menjelaskan, ekspor Indonesia sampai dengan Mei 2022 kemarin relatif stabil dengan capaian pertumbuhan yang terus bisa dipertahankan selama 13 bulan. 
"Surplus sebesar 10,06 miliar dolar AS di bulan Mei kemarin, tentu dengan harga komoditas baik itu CPO, batu bara, nikel, karet, dan aluminium yang baik. Ekspor diharapkan kita bisa pertahankan terus karena dari segi permintaan global juga meningkat," katanya. 
Kemudian, belanja pemerintah diharapkan bisa terus dijaga konsistensinya, sehingga penekanan terhadap ekonomi kuartal II itu akibat dari tingkat konsumsi. 
"Oleh karena itu, pemerintah diperkirakan di kuartal III itu terjadi kontraksi, tapi relatif masih positif. Angkanya di antara 3,7 persen sampai 4 persen," pungkas Airlangga.

Yanuar Riezqi Yovanda

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved