Breaking News:

Dokter Wisma Atlet

Mantan Dokter Wisma Atlet Ungkap Siasat Menahan Lapar dan Haus saat Pakai APD

Tak mudah bagi seorang dokter dan perawat yang bertugas di Wisma Atlet, 'medan tempur'yang tak normal membuatnya harus menahan lapar dan haus.

Penulis: Ramadhan L Q | Editor: Valentino Verry
PARANJPE / AFP
Ilustrasi dokter dan perawat yang berjuang menyelamatkan nyawa seorang pasien Covid-19. Mereka harus menahan lapar dan haus dalam durasi lama karena terbalut pakaian APD. 

“Biasanya satu jam sebelum dinas, saya makan dan minum dulu. Nah, setengah jam sebelum dinas sudah tidak makan atau minum apapun,” katanya.

“Kalau sudah pakai APD, kadang sampai lupa juga sama lapar dan haus saat terlalu sibuk,” imbuhnya.

Dalam sehari, Yelsen mengatakan setiap dokter dapat menangani 100 hingga 140 pasien saat di ruang perawatan.

Jika di ICU, jumlah pasien lebih sedikit, tetapi kondisi pasien jauh lebih berat.

“Pasien yang berada di ICU butuh pemantauan ketat, mereka yang butuh suplementasi oksigen tingkat lanjut,” ucap Yelsen yang berasal dari Jakarta.

Mengenai penanganan pasien, Yelsen menyiapkan obat-obatan untuk dikonsumsi serta terapi, rencana tindak lanjut, dan hal-hal menonjol terhadap pasien.

Permasalahan insentif juga sempat dirasakan Yelsen kala bertugas di Wisma Atlet.

Baca juga: Wahidin Halim Targetkan Honor Nakes RSUD Banten Cair Pekan Depan

Insentif pada Desember 2020 bahkan baru mulai cair pada Mei 2021. 

Meski begitu, pria berusia 29 tahun tersebut tetap menjalankan tugas menangani pasien Covid-19 yang berjalan seperti biasa karena sudah menjadi panggilan sebagai dokter.

Yelsen yakin negara tak akan ingkar janji.

“Karena negara masih membutuhkan dan saya yakin negara tidak akan ingkar janji. Pasti cair,” ujarnya.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved