Breaking News:

Kisah Inspiratif

Prihatin Kondisi Transportasi di Indonesia, Isti Hidayati Raih PhD Terbaik di Universitas Groningen

Isti Hidayati prihatin melihat kondisi transportasi di Indonesia yang semakin bergantung pada kendaraan pribadi, apalagi di Jogja.

Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
Istimewa
Prihatin dengan Kondisi Transportasi di Indonesia, Isti Hidayati Raih PhD Terbaik di Belanda. 

"Di sisi lain, saya juga pernah mengalami racism ketika saya travelling di luar negeri (karena saya pakai kerudung), yang saya pikir tidak adil," kata Isti di acara Summer Ceremony, Kamis (1/7/2021).

"Saya bayangkan ada banyak orang yang  juga mengalami racism dan pengalaman tersebut dapat menghalangi mereka bepergian. Di sini saya tertarik untuk lebih mendalami tentang pengalaman ketika melakukan perjalanan dan bahwa masing-masing individu tentunya punya pengalaman yang berbeda-beda," tambahnya.

Baca juga: Epidemiolog UI Kecewa dan Sentil Pejabat yang Bagikan Ivermectin untuk Obat Covid-19 seperti Permen

Pada bulan Desember 2020, Isti menyelesaikan sidang disertasi dengan predikat cum laude. Ia menulis disertasinya di bawah bimbingan promotor Prof. Claudia Yamu dan Prof. Ronald Holzacker serta supervisor Dr. Wendy Tan.

Isti berhasil mendapatkan gelar PhD dengan masa studi yang terhitung relatif cepat (1 Februari 2017 - 10 Desember 2020).

Isti menyatakan bahwa hal tersebut bisa diraihnya, karena supervisor dan promotor bisa bekerja secara paralel.

“Jadi, semisal saya bekerja dengan Wendy di paper A, pada saat yang sama saya juga menulis paper B dengan Claudia, sehingga kami bisa publish paper secara efisien, tidak menunggu paper A selesai baru lanjut ke paper B," ujarnya.

Dalam disertasinya, Isti menawarkan wawasan spasial sosial tentang ketimpangan mobilitas melalui studi kasus empiris di Jakarta dan Kuala Lumpur, sebagai contoh tipikal kota-kota besar di Asia Tenggara.

Isti Hidayati raih PhD terbaik di Belanda.
Isti Hidayati raih PhD terbaik di Belanda. (Istimewa)

Kesimpulan yang ditarik adalah bahwa perbedaan kemampuan dalam melakukan mobilitas (mobility inequality) memberi pengaruh negatif bagi masyarakat marginal (umumnya perempuan, masyarakat berpenghasilan rendah, mereka dengan disabilitas).

Dan perbedaan kemampuan tersebut dipengaruhi oleh ruang terbangun, misalnya konfigurasi jalan, fungsi dan bentuk bangunan, dan praktik sosial, misalnya ketergantungan pada kendaraan pribadi.

“Sukanya saat melakukan penelitian ini adalah bertemu banyak orang yang membantu dan memiliki interest yang sama dengan saya, bisa belajar hal baru, misal jadi tahu gang-gang kecil di Jakarta dan Kuala Lumpur, tahu tempat jajanan enak, dan dapat pengalaman travelling," tutur Isti.

Baca juga: Gubernur Ganjar Perintahkan Bupati dan Wali Kota di Jateng Patuhi Regulasi PPKM Mikro Darurat

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved