Breaking News:

Para Ahli Ini Sepakat Ivermectin Obat Keras dan Belum Teruji Khasiatnya Untuk Pengobatan Covid-19

Sejumlah ahli sepakat, hasil studi Ivermectin sebagai terapi standar maupun placebo yang dihasilkan tidak secara signifikan mampu mengobati Covid-19.

Penulis: Vini Rizki Amelia | Editor: Max Agung Pribadi
TRIBUNNEWS/LARASATI DYAH UTAMI
Epidemiolog Universitas Indonesia dr Pandu Riono pada webinar yang diselenggarakan ILUNI UI, Rabu (27/1/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Maraknya informasi yang menyatakan bahwa obat Ivermectin bisa menjadi obat penyembuh Covid-19 sangat disayangkan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Ari Fahrial Syam.

Kepada wartawan dalam konferensi pers berdama BPOM yang diselenggarakan secara virtual, Ari mengatakan bahwa sampai saat ini hasil studi Ivermectin sebagai terapi standar maupun placebo yang dihasilkan tidak secara signifikan mampu mengobati Covid-19.

Dalam sebuah studi kecil itu, Ari mengakui bahwa adanya perbaikan terhadap penderita Covid-19 dari mengonsumsi Ivermectin, namun hasil tersebut ditunjukkan dengan rendahnya bukti-bukti yang ada.

Baca juga: Dikabarkan Dapat Sembuhkan Covid-19, Masyarakat Diminta BPOM Bijak dan Pintar Gunakan Ivermectin

"Sampai saat ini belum ada meta analisis menyebutkan bahwa obat ini bisa mengatasi Covid-19. Saya justru apresiasi adanya itikad baik para peneliti dan Litbangkes untuk melakukan uji klinis terhadap Ivermectin, apakah baik atau tidak bagi masyarakat. Ada baiknya kita tunggu dan lihat (hasil uji klinis)," paparnya saat menyampaikan pendapat melalui virtual, Jumat (2/7/2021).

Jika dilihat dari penggunaannya, Ari mengatakan Ivermectin digunakan untuk obat cacing atau mereka yang mengidap parasit di dalam tubuh alias cacingan.

Namun hasil studi yang menyatakan Ivermectin mampu mengatasi Covid-19, dikatakan Ari tidaklah menggembirakan.

Baca juga: VIDEO PMI DKI Jakarta Gelar Donor Plasma Konvalesen untuk Pengobatan Covid-19, Ini Syaratnya

Bahwa hasil studi tersebut dikatakan Ari tidak signifikan dari angka kematiannya, lama rawat pasien, dan virus itu sendiri. 

Walaupun pada kelompok kecil ada perbaikan namun tidak secara signifikan, hasilnya, lanjut Ari, hanya sekitar 10 persen lebih baik dibandingkan mereka yang tidak menggunakan Ivermectin.

"Sekarang ini obat ini sudah susah dicari masyarakat, kalaupun ada, mahal. Studi yang ada bukan untuk mencegah tapi mengobati, pertanyaannya, kalau mau mencegah dari (penyakit) cacing ya silakan tapi tujuannya kalau untuk Covid-19 saya rasa kurang pas," tegasnya.

Baca juga: Banyak Tenaga Kesehatan Terpapar Covid-19.

Dari pengalaman yang ada, Ari mengatakan efek samping yang langsung dirasakan masyarakat yang mengonsumai Ivermectin antara lain diare, rasa kantuk, mual, dan muntah.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved