Lifestyle

Industri Buku Bukan Industri Gratisan dan Lawan Pembajakan

Riset Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 2019 menunjukkan, 75 persen penerbit menemukan bukunya dibajak.

Istimewa
Acara 'Talkshow Pandemi dan Masa Depan Buku Digital' digelar Perpustakaan Nasional secara virtual, Kamis (1/07/2021). Hadir sebagai pembicara dalam taklshow antara lain Duta Baca Gol A Gong, Bagus Adam-Content Manager Gramedia Digital, Brilliant Yotenega-Co-founder Storial.co. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Riset Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 2019 menunjukkan, 75 persen penerbit menemukan bukunya dibajak.

Bahkan, buku bajakan tersebut beredar di market place.

Namun, penerbit tidak bisa melaporkan market place, walaupun mereka menyediakan tempat penjualan buku bajakan.

Pelaku pembajakan berlindung di balik Surat Edaran Menkominfo Nomor 5/2016.

Padahal Undang-Undang Nomor 28/2014 melarang pembajakan, tetapi masuk delik aduan. Tanpa pengaduan tidak bisa diproses.

Baca juga: Peringati Hari Janda Internasional, Myrna Soeryo Luncurkan Buku The Dark Alley (Lorong Gelap)

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar Terbitkan 5 Buku di HUT Ke-62, Ini Isi Pesan yang Disampaikan

"Ini merepotkan kalau harus didasari aduan, karena pastinya akan menyita waktu," kata Bagus Adam, Content Manager Gramedia Digital.

Bagus Adam mengatakannya saat acara 'Talk  Show Pandemi dan Masa Depan Buku Digital' yang digelar Perpustakaan Nasional secara virtual, Kamis (1/07/2021).

Meski demikian, kata Bagus Adam, pihaknya enggan berpolemik panjang soal buku pembajakan.
Gramedia justru memilih jalur melawan pembajakan. 

Misalnya, menyediakan paket berlangganan murah, menyediakan perpustakaan umum digital.

Bekerja sama dengan market place melawan pembajakan, bersinergi dengan penulis/pengarang, hingga mendukung tim pemberantasan pembajakan yang dibentuk Ikapi.

Baca juga: Tingkatkan Budaya Literasi, Pemkot Depok Dapat Bantuan Mobil Perpustakaan Keliling dan Paket Buku  

Baca juga: Luncurkan Buku Sil Vous Plait, Penerbit Erlangga Dorong Prestasi Siswa SMK Belajar Bahasa Prancis

"Industri buku bukanlah industri gratisan. Namun, jangan sampai pemerintah seolah-olah melindungi para toko bajakan," kata Bagus.

Hal senanda juga disampaikan Brilliant Yotenega,  Co-founder Storial.co.

Dia sependapat dengan Bagus bahwa industri buku bukan industri gratisan. 

Bahkan, keuntungan yang didapat penulis hanyalah 10 persen. Belum lagi daftar tunggu buku untuk dipajang di toko buku yang bisa memakan waktu 6–12 bulan.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved