Breaking News:

Menuju COP-4 Konvensi Minamata, Indonesia Gelar Webinar Hybrid Memerangi Perdagangan Ilegal Merkuri

Webinar ini dilaksanakan jelang kepemimpinan Indonesia sebagai tuan rumah The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4) Konvensi Minamata

Editor: Lucky Oktaviano
Istimewa/Humas KLHK
Jelang kepemimpinan Indonesia sebagai tuan rumah The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4) Konvensi Minamata, November 2021 mendatang, Indonesia menyelenggarakan webinar internasional bertajuk “Memerangi Perdagangan Merkuri Ilegal” secara hybrid di Yogyakarta (18/6). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Indonesia menyelenggarakan webinar internasional bertajuk “Memerangi Perdagangan Merkuri Ilegal” secara hybrid di Yogyakarta (18/6).

Webinar ini dilaksanakan Jelang kepemimpinan Indonesia sebagai tuan rumah The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4) Konvensi Minamata, November 2021 mendatang, 

Webinar yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini bertujuan menggalang dukungan internasional dan masukan terhadap usulan deklarasi yang akan diajukan Indonesia untuk memerangi perdagangan merkuri ilegal.

Pada saat konferensi Pers, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong menyatakan bahwa saat ini Konvensi Minamata sudah diratifikasi atau ditandatangani oleh 131 Negara.

"Perdagangan merkuri ilegal menjadi salah satu masalah global, karena merkuri ini termasuk kategori bahan berbahaya beracun. Persoalan ini harus diatasi tidak hanya oleh satu Negara, tetapi oleh semua Negara yang sudah meratifikasi Konvensi Minamata tersebut," kata  Alue.

Alue menjelaskan bahwa estimasi nilai perdagangan ilegal merkuri mencapai lebih dari 200 juta USD per tahun atau mendekati PDB tahunan suatu negara.

Disamping itu, terungkap jumlah pemakaian Merkuri pada produksi emas global mencapai 15 – 25 %.

Emisi yang dikeluarkan oleh Merkuri berasal dari lebih 70 negara di dunia dengan angka 1400 ton per tahunnya.

Selain itu, jumlah pelaku penambang emas skala kecil (PESK) secara global diestimasi sebanyak 10–19 juta orang termasuk 4–5 juta terdiri dari wanita dan anak-anak.

Lebih lanjut Alue menerangkan, khusus pada kasus Merkuri di Indonesia, berdasarkan data Kementerian ESDM, jumlah lokasi penambangan ilegal untuk komoditas mineral sebanyak 2.645 lokasi, dimana lebih dari 85%-nya adalah tambang emas ilegal.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved