Breaking News:

Tenis Meja

Menepuk Inspirasi dari Klinik Pingpong, Menyiapkan Anak Jadi Atlet Tenis Meja Indonesia Masa Depan

Di sudut Rengas, Tangerang Selatan, Klinik Pingpong bergerak membina bibit-bibit atlet tenis meja masa depan Indonesia.

Penulis: Max Agung Pribadi | Editor: Max Agung Pribadi
istimewa
Pelatih Rangga Aulia (kanan) melatih pukulan top spin salah satu anak asuhnya di sekolah tenis meja Klinik Pingpong, di Aula Kompleks PU, Rengas, Ciputat Timur, Sabtu (19/6/2021). 

Namun dengan keterbatasan yang ada, saat ini ia sendiri yang melatih anak-anak tersebut.  

Lalu bagaimana mengetahui seorang anak memiliki bakat untuk bermain pingpong?

Rangga mengatakan, hal itu dapat dilihat dari kelincahan (agility) gerak tubuhnya.

“Coba saja ia melakukan gerakan olah raga sederhana seperti lari lurus dan zigzag, sudah bisa kelihatan dari gerakannya. Karena pingpong yang utama itu kelincahan tangan dan kaki, sama seperti olahraga permainan lainnya,” tuturnya.

Sebagai awalan, anak-anak diajak untuk mengenal teknik dasar bermain pingpong dan latihan  penguatan kaki.

Suasana latihan di Klinik Pingpong.
Suasana latihan di Klinik Pingpong. (Warta Kota/Max Agung Pribadi)

Mereka diajak berlari mengelilingi lapangan seputar aula tersebut lima putaran.

Setelah itu dilanjutkan dengan praktik berlatih memukul bola dengan berbagai teknik.

"Teknik yang benar adalah dengan spin, raket dalam posisi miring, bukan hanya membentur bola dengan raket. Kalau membentur itu kemungkinan bola hidup hanya 70 persen, tapi dengan pukulan spin, peluangnya sampai 99 persen. Ini salah satu teknik dasar yang perlu mereka kuasai," tutur Rangga. 

Baca juga: Penyidik Kejari Langsung Menahan Ketua KONI Kota Tangsel Setelah Ditetapkan Tersangka, Ini Alasannya

Teori dan praktik diajarkan berbarengan pada sesi latihan yang berlangsung dari pukul 14.00 sampai 18.00 WIB.

Terhadap setiap anak, materi latihannya bisa berbeda-beda sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang mereka alami. 

"Prinsipnya mana yang masih lemah, itu kita perkuat, kita lakukan pengulangan dan peningkatan. Bagian yang sudah kuat, kita tambahkan porsinya supaya lebih baik lagi," tutur Rangga yang juga memberikan kursus privat bagi mereka yang hendak menekuni pingpong.

Baca juga: Kejari Kota Tangsel Khawatir Ketua KONI Menghilangkan Barang Bukti pada Kasus Korupsi Dana Hibah

Rangga memang hidup dari pingpong

Lalu bagaimana ia membiayai Klinik Pingpong?

Ia mengatakan, hingga kini ia berjalan bersama para donatur yang kerap memberi bantuan.

Salah satunya Budi Cahya, alumni Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung yang kini menjabat komisaris di sejumlah BUMD di Pemprov Jawa Barat.

Budi yang sudah lama menggemari pingpong menyediakan fasilitas berlatih Klinik Pingpong seperti meja, net, bola, dan raket yang memadai.

Hanya untuk fasilitas awal itu Budi merogoh kocek tak kurang dari Rp 50 juta.

Memang tak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk itu.

Namun Budi bersama Rangga bertekad dengan segenap kemampuannya mendidik anak-anak yang ingin belajar menekuni pingpong sebagai olahraga prestasi. 

Mereka berusaha berlatih secara mandiri.

Para pengurus dan murid sekolah tenis meja Klinik Pingpong di Rengas, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.
Para pengurus dan murid sekolah tenis meja Klinik Pingpong di Rengas, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. (Warta Kota/Max Agung Pribadi)

Ini sekaligus mengisi kekosongan pembinaan dan kegiatan akibat persoalan berlarut-larut di tubuh Pengurus Pusat PTMSI yang terpecah menjadi beberapa kubu.

Tak ingin larut dalam masalah tersebut, Budi dan kawan-kawan berusaha menghidupkan kegiatan sekolah pingpong yang terbuka bagi siapapun lewat Klinik Pingpong.

Anak-anak diberi wadah untuk mengembangkan bakat, kemauan, dan impian mereka menjadi atlet tenis meja Indonesia yang andal.

“Belum tahu ke depannya seperti apa. Yang terpenting sekarang jalan dulu, apa yang bisa kami kerjakan untuk membina atlet sejak usia dini di sekitar tempat tinggal, kami kerjakan secara mandiri. Sambil kami melihat berbagai kemungkinan untuk mengembangkannya,” tutur Budi.

Apa yang dilakukan Klinik Pingpong dan para pencinta olah raga ini di pelosok Tangerang Selatan seperti oase di padang gurun.

Mungkin para pengurus tenis meja yang bertikai bisa menepuk inspirasi dari Klinik Pingpong, dengan segera berdamai dan menemukan solusi terbaik demi memajukan tenis meja Indonesia.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved