Breaking News:

Berita Jakarta

Tanggapi Pengakuan Sopir Soal Layanan Bongkar Muat Barang Molor 5 Jam, Dirut JICT: Tidak Benar Itu

Ade memastikan bahwa pelayanan bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Priok tanpa kendala dan tetap berjalan normal meski pungli sudah diberantas

Penulis: Junianto Hamonangan | Editor: Dedy
Wartakotalive.com
Manajemen PT JICT memberikan klarifikasi terkait kasus pungli yang digelar di kantor JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (16/6/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, TANJUNGPRIOK --- Molornya pelayanan bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Priok hingga berjam-jam kendati sudah tidak ada pungutan liar (pungli), dibantah pihak Jakarta International Container  Terminal (JICT). 

Menurut Direktur Utama Jakarta International Container Terminal (JICT) Ade Hartono, apa yang dikeluhkan para sopir truk kontainer terkait pelayanan bongkar muat barang tidak benar. 

"Sebenarnya dari pengakuan masih gali informasi itu, jujur informasi tentang yang berkembang di media masih sulit untuk diketahui kebenarannya," kata Ade, di kantor JICT, Rabu (16/6/2021).

Ade memastikan bahwa pelayanan bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Priok tanpa kendala dan tetap berjalan normal meski pungli sudah diberantas oleh aparat. 

"Tapi yang pasti pelayanannya kami masih prima dan kami selalu menjaga layanan di lapangan," ujarnya.

Sebelumnya seorang sopir kontainer, Rofiudin (23) mengaku membutuhkan waktu hingga 5 jam untuk proses bongkat muat barang sejak praktik pungli telah ditertibkan oleh aparat kepolisian. 

"Ngaretnya tergantung, kadang 5 jam. Bisa masuk jam 8 malam, keluar pagi," katanya saat berada di Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (16/6/2021).

Rofiudin menuturkan sebelum ada pungutan liar operator RTG ditertibkan, proses bongkar muat barang berlangsung secara cepat. Namun semua itu berubah pascapemberantasan pungli. 

"Sekarang diperlambat. Gara-gara nggak ada Rp 5 ribu diperlambat," keluh pria asal Serang itu. 

Ketika masih ada praktik pungli, setiap harinya ia harus menyiapkan uang sebesar Rp50 ribu untuk memuluskan perjalanan. 

Uang sebesar itu dikeluarkan saat keluar terminal petikemas ekspor impor di Cikarang, Jawa Barat hingga ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Selain dialami di dalam terminal atau pelabuhan, uang tersebut juga digunakan untuk para preman jalanan yang menghadang di jalan. 

"Kalau dari preman-preman kadang minta goceng (Rp5 ribu). Dia ngotot atau Rp10 ribu," ujar pria yang sudah bekerja selama 5 tahun itu.

Baca juga: Geram Ada Pungutan Liar, Dirut JICT Tegur Keras Vendor Outsourcing dan Minta Pelaku Pungli Diganti

Baca juga: Diguyur Hujan 1 Jam Selasa Lalu, Pondok Hijau Permai Masih Banjir, Warga Sebut Bisa 3 Hari Surutnya

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved