Breaking News:

Korupsi Edhy Prabowo

KPK Dalami Munculnya Nama Fahri Hamzah dan Azis Syamsuddin di Sidang Suap Lobster

Fakta sidang perkara ini baik keterangan saksi maupun para terdakwa selanjutnya akan dianalisa tim jpu KPK dalam surat tuntutannya

Editor: Bambang Putranto
TRIBUNNEWS.COM/Firda Fitri Yanda
Nama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin muncul dalam persidangan kasus suap izin ekspor benur 

Safri menjawab hanya menjalankan perintah.

"Maksudnya perintah beliau saya jalankan kalau untuk membantu secara umum ya," jawab Safri.

Jaksa kembali menegaskan berarti ada perintah dari Edhy Prabowo.

Safri pun mengamini hal itu.

Majelis hakim pun mengambil alih sidang.

Hakim lanjut menanyakan kepada saksi Safri, apakah mengetahui perusahaan apa yang akan dipakai oleh Azis Syamsudsin dalam ikut sertanya dalam budidaya lobster.

"Apa yang dimaksud Safri ini, nanti dulu sampai Syamsuddin dulu. Wakil Ketua DPR mau ikutan budi daya lobster. Saksi bisa dijelaskan PT apa yang berkaitan dengan nama itu?” tanya majelis hakim.

Mendengar pertanyaan majelis hakim, Safri pun tak ingat perusahaan apa yang dipakai oleh Azis tersebut.

"Saya tidak ingat," jawab Safri.

Kemudian, jaksa KPK kembali melanjutkan dengan memperlihatkan isi percakapan pada 16 Mei.

Dimana, percakapan itu diawali oleh Edhy Prabowo kepada Safri, yang dibacakan ulang oleh jaksa KPK.

"Saf, ini tim pak Fahri Hamzah mau jalan lobster. Langsung hubungi dan undang presentasi," begitu isi percakapan tersebut.

Kemudian Safri membalas isi percakapan itu, "Oke bang".

Jaksa KPK pun kembali mempertegas apa benar isi percakapan ini.

"Benar itu?” tanya Jaksa kepada Safri.

"Betul," jawabnya.

Namun Safri kembali tak ingat perusahaan apa yang dipakai oleh Fahri Hamzah dalam mnegikuti izin budidaya lobster, ketika ditanya oleh jaksa.

"Berarti memang ada perintah dari Edhy? Saudara saksi masih ingat nama perusahaannya?” tanya jaksa.

"Saya tidak tahu, tapi saya hanya koordinasi dengan saudara Andreau," jawab Safri.

Salah satu tim penasihat hukum Edhy Prabowo, menyampaikan keberatannya atas pertanyaan yang terus dicecar oleh Jaksa kepada saksi Safri mengenai perusahaan yang dipakai kedua orang tersebut.

Tim PH pun menyampaikan keberatan kepada majelis hakim.

"Yang mulia, jika diperkenankan karena saksi ini beberapa kali ditanya nama PT-nya tidak pernah mengetahui. Saya pikir ini kan persoalan etika juga harus dijunjung, Yang Mulia," kata tim PH.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah seusai wawancara khusus dengan Tribun Network di Jakarta, Kamis (3/6/2021).
Nama Fahri Hamzah disebut dalam sidang kasus suap izin ekspor benur (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Mendengar permohonan tim hukum, majelis hakim pun memberikan penjelasan, bahwa apa yang disampaikan jaksa KPK maupun saksi ini berasal dari sebuah barang bukti dalam perkara tersebut.

"Itu kan bagian dari barang bukti. Dia kan menjawab apa adanya, tidak tahu. PT-nya apa, tidak tahu. Ya sudah itu. Itu kan terkait dengan barang bukti elektronik. UU ITE mengakui itu sebagai alat bukti. Lanjut," kata majelis hakim.

Dalam dakwaan, Edhy diduga menerima suap sekitar Rp24.625.587.250.000 dan 77 ribu dolar AS terkait perizinan ekspor benur tahun 2020.

Jaksa Ronald merinci penerimaan suap Edhy diterimanya melalui perantara yakni, Sekretaris Pribadinya Amiril Mukminin dan staf khususnya Safri.

Kemudian melalui staf pribadi Istri Edhy, Iis Rosita Dewi selaku Anggota DPR RI, Ainul Faqih; dan staf khusus Edhy, Andreau Misanta Pribadi.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul KPK Dalami Munculnya Nama Fahri Hamzah dan Azis Syamsuddin di Sidang Suap Lobster

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved