Breaking News:

Pasien Covid-19 di Kota Depok Sembuh Maupun Meninggal Tak Dikenakan Biaya Apapun, Termasuk Pemakaman

Semua pembiayaan pasien Covid-19 akan ditanggung pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Penulis: Vini Rizki Amelia | Editor: Max Agung Pribadi
Warta Kota
Direktur RSUD Depok, dr. Devi Maryori saat memberikan keterangan terkait komplain Ketua Komisi D, Supriyatni di Gedung DPRD Depok, Komplek Perkantoran Kota Kembang, Grand Depok City, Cilodong, Senin (6/1/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok dr. Devi Maryori mengatakan, semua pembiayaan pasien Covid-19 akan ditanggung pemerintah.

Dalam hal ini pemerintah pusat diwakili Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Pihak RS nantinya akan mengklaim seluruh biaya pasien secara perorangan kepada Kemenkes, baik setiap pasien dari sakit hingga sembuh ataupun pasien yang akhirnya meninggal dunia akibat Covid-19.

Baca juga: Isnawa Adji Instruksikan Jajarannya Cek Kesiapan Lima GOR untuk Isolasi Pasien Covid-19 Kategori OTG

Untuk biaya perorangnya, Devi mengaku tak mengetahui secara detil berapa dana yang digelontorkan atau pagu yang diberikan oleh Kemenkes untuk tiap pasiennya.

Selama ini, kata Devi, jumlah pembiayaan bervariasi antar satu pasien dengan pasien lainnya. Sehingga tak bisa dipatok berapa anggaran yang diberikan.

"Enggak tahu berapa jumlah rupiahnya ya, karena selama ini banyak sekali barvariasi (jumlah biaya) tergantung jumlah hari perawatan dan berat ringannya. Intinya, tergantung hari rawat dan apa obat yang dipakai selama perawatan, itu ada paketan-paketannya," papar Devi saat dikonfirmasi wartawan melalui sambungan telepon, Senin (14/6/2021).

Baca juga: UPDATE Vaksinasi Covid-19 RI 14 Juni 2021: Suntikan Pertama 20.424.048, Dosis Kedua 11.615.862 Orang

Namun demikian, dari pengalaman yang terjadi selama ini, Devi memastikan tak adanya limit atau batasan anggaran dalam setiap dana yang digelontorkan bagi para pasien.

"Enggak ada sih ya (batasan biaya). Kalau pasien itu (bergejala) berat dan harus lama dirawat ya kita rawat. Pernah ada kami merawat pasien hingga 45 hari dan itu di klaim semua ke Kemenkes," akunya.

Lama tidaknya perawatan pasien, diakui Devi ditentukan berdasarkan data klinis yang dialami masing-masing pasien.

Baca juga: Antisipasi Peningkatan Kasus Covid-19, Disiapkan 2.500 Tempat Tidur di Rusun Nagrak

Jika memang pasien tersebut harus dirawat lama, lanjut Devi, maka pihaknya akan terus melakukan perawatan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved