Breaking News:

Pilpres 2024

Baliho Puan Maharani Muncul di Jatim, Wasekjen PDIP: Menunjukkan Kesiapan Ditunjuk Maju Pilpres 2024

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP PDIP Utut Adianto menilai wajar adanya baliho tersebut.

Editor: Yaspen Martinus
ISTIMEWA
Baliho bergambar Ketua DPR Puan Maharani terpasang di sejumlah titik di Jawa Timur. 

Yang lain belum ada cerita. Puan Maharani cerita apa wong crito ora oleh (tidak boleh)? Tetep wae (tetap saja) surveine (surveinya) rendah.

Pokoke rumus (rumusnya) Puan Maharani Teh Botol Sosro. Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro. Ya to?

Siapapun calon presidennya, wakile PM. Masuk akal ra? (Masuk akal tidak?) Apakah presidene Ganjar wakile Puan? Ya ga bener.

Dalam soal capres, DPD PDI Perjuangan tidak sejalan dengan kemauannya Ganjar.

DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah tidak sejalan dengan kemauannya Ganjar. Dalam hal pencalonan presiden.

Apa yang dilakukan DPD PDIP? Menunggu titah ketua umum. Kita sudah mempersiapkan. Kenapa? Saya akan ajak bicara ketua umum, saya jelaskan.

“Ora cul, iki aku intine Ganjar yang akan saya kasih rekomendasi”. Mohon izin bu saya mengundurkan diri.

Berani cul, berani, kenapa takut? Ngko nek Ganjar dikei (nanti kalau Ganjar diberikan) rekomendasi.

Kemungkinan iki ono ora (Kemungkinan ini ada tidak)? Ya ada, tapi nol koma nol nol persen (0,00%).

Sih ono (selama masih ada) Mbak Puan ra iso No (tidak bisa dong), teorine sopo (teori siapa)?

Lha dulu Pak Jokowi bisa. Lha dulu Mbak Puan sih indil-indil (imut-imut). Saiki ora iso (kalau sekarang tidak bisa).

Semua lorong kekuasaan Istana tahu, semua lorong di Senayan tahu, kurang opo (kurang apa)?

Kekuasaan republik itu hanya ada di dua titik, Senayan dan Istana.

Mbak Puan pernah bergerak di dua lorong itu kok, pengalamane wis duwe (sudah punya). Elite-elite wis kenal kabeh (sudah kenal semua), lebih gampang untuk berembuk.

Nanti kalau saya menegur, dia (Ganjar) marah.

"Memang kamu siapa Cul negur-negur aku? Sing iso negur aku ki Bu Mega." Kan ngono cocote dekke (Kan begitu mulutnya dia/Ganjar).

DPD dan Ganjar beda pendapat. Ben sing biji (biar yang menilai) ketua umum.

Nek aku dikei (kalau saya diberi) kewenangan yo tak (ya akan) tarung, tarung. Aku ra peduli (enggak peduli).

Ning tak kei reti sampeyan semua (tapi saya beritahu kalian semua). Kalau rekom ke Ganjar, Bambang Pacul mengundurkan diri dari jabatannya.

Satrio (ksatria) pak. Ora sudi aku didadekne (tidak sudi aku jadi) wong edan (orang gila).

Hingga berita ini diturunkan, Tribunnews sudah berusaha mengkonfirmasi rekaman suara tersebut ke Bambang Pacul melalui pesan aplikasi WhatsApp, namun pesan itu hanya di-read (checklist dua warna biru).

Begitu pula dengan konfirmasi kepada jajaran DPP PDIP, mulai dari Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, hingga Wasekjen DPP PDIP Arif Wibowo juga belum ditanggapi.

Bantah Rebutan Jadi Capres

Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu Bambang Wuryanto menjelaskan alasan tidak undangnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dalam acara partai di Kantor DPD PDIP Jateng, Kota Semarang, Sabtu (22/5/2021).

Acara itu turut dihadiri Ketua DPP PDIP Bidang Politik dan Keamanan Puan Maharani.

Menurut pria yang akrab disapa Bambang Pacul itu, ada etika yang telah dilanggar oleh Ganjar.

Baca juga: Divonis 18 Tahun Penjara dan Bayar Kerugian Negara Rp 185 M, Maria Pauline Lumowa Masih Pikir-pikir

Di mana ada keinginan Ganjar untuk maju sebagai calon presiden (capres) 2024, yang hal itu dinilai terlalu ambisius.

Padahal, persoalan pencapresan merupakan ranah Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri.

"Kunci politisi itu adalah memahami keinginan seseorang."

Baca juga: Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah: Jumlah Pengangguran Indonesia Berkurang 950 Ribu Orang

"Kalau itu sesuai dengan tata krama, fatsun etika."

"Tetapi ada wilayah yang kita mesti hati-hati."

"Kalau wilayah aku pengin jadi calon presiden itu wewenangnya Bu Ketum," kata Bambang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/5/2021).

Baca juga: Hari Ini KPK Bahas Nasib 75 Pegawai, Novel Baswedan: Masalahnya di Firli Bahuri, Bukan Lembaga Lain

Ketua DPD PDIP Jawa Tengah itu kembali menegaskan, terkait pencapresan sudah ada pakem menurut aturan partai.

Bambang mengungkapkan, sudah ada sinyal dari PDIP Jateng jika sikap Ganjar yang terlalu ambisi dengan jabatan presiden, tidak baik.

Atas dasar itu, DPD PDIP Jateng tidak mengundang Ganjar dalam agenda yang dihadiri Puan Maharani tersebut.

Baca juga: Lonjakan Kasus Covid-19 Akibat Mudik Lebaran Sudah Terlihat, Bisa Terus Meningkat Sampai Medio Juni

"Maka ketika Mbak Puan rawuh ke Jawa Tengah, maka kami mohon maaf lah rapat DPD."

"Iki piye? Ya udah dikasihlah peringatan dulu, biar nanti kita ngobrol."

"Jangan diundang dulu. Just simple as that, kau aja yang kemudian muter-muter, ini masalah internal," ujar Sekretaris Fraksi PDIP DPR itu.

Baca juga: 596 Pemudik yang Hendak Kembali ke Jakarta Positif Covid-19, Polisi: Sampai Kapan Ini akan Selesai?

Bambang menegaskan persoalan tersebut hanyalah dinamika internal partai.

Dia menolak hal itu disebut sebagai perebutan capres antara Puan dan Ganjar.

"Jadi itu sangat sepele, bukan soal rebutan capres antara Mbak Puan dan Pak Ganjar, durung ono kode bu ketum," bebernya.

Baca juga: 97 Ribu ASN Fiktif Digaji dan Dapat Pensiun Sejak 2014, DPR Minta Pemerintah Usut Aliran Dananya

Sebelumnya diberitakan, tidak diundangnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam acara PDIP di Panti Marhaen, Kantor DPD PDIP Jateng, Kota Semarang, Sabtu (22/5/2021), menjadi sorotan.

Padahal, seluruh kepala daerah, baik bupati dan wali kota serta wakil, yang merupakan kader PDIP se-Jawa Tengah, hadir dalam acara pengarahan yang diberikan Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

Pengarahan tersebut dilakukan bertepatan dengan puncak rangkaian acara HUT ke-48 PDIP.

Baca juga: ABK dari India Bakal Langsung Dikarantina di Kapal Selama 14 Hari Saat Tiba di Indonesia

Puan yang merupakan putri Ketua Umum PDIP Megawati Suekarnoputri ini memberi pengarahan kader untuk penguatan soliditas partai menuju Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2024.

Tidak hanya kader dari eksekutif, kader dari legislatif dan struktur partai pun diundang.

Namun, dalam acara, tidak tampak Gubernur Jateng yang juga merupakan kader PDIP Ganjar Pranowo.

Baca juga: Minta Polisi Usut 97 Ribu ASN Fiktif, Wakil Ketua Komisi III DPR: Jelas Ada yang Tidak Beres

Dalam undangan yang tersebar, tertulis susunan acara atau agenda antara lain arahan Puan Maharani kepada seluruh kader partai Jateng secara tatap muka yang diikuti DPR RI Jateng, DPD Jateng, DPRD Provinsi Jateng, kepala daerah, dan wakil kader se-Jateng.

Dalam akhiran tulisan peserta tatap muka tersebut tertulis 'Kecuali Gubernur'.

Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP PDIP yang juga Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto membenarkan semua kepala daerah di Jateng dari PDIP diundang, kecuali gubernur.

Baca juga: Kirim Surat ke Mabes Polri, ICW Minta Kapolri Tarik Firli Bahuri Sebagai Ketua KPK Atau Dipecat

Ia pun mengungkapkan alasan tidak diundangnya orang nomor satu di Jateng tersebut.

"Tidak diundang! (Ganjar) wis kemajon (kelewatan atau kebablasan)."

"Yen kowe pinter, ojo keminter," kata Bambang Wuryanto, dalam pernyataan tertulis yang diterima Tribunjateng.com, Minggu (23/5/2021).

Baca juga: Dua Kali Diperiksa Dewan Pengawas KPK, Azis Syamsuddin Janji Ikuti Proses Hukum

Menurutnya, DPD PDIP Jateng berseberangan dengan sikap Ganjar Pranowo perihal langkah pencapresan di 2024.

Ia menyebut dengan terang-terangan, Ganjar terlalu berambisi maju dalam Pilpres 2024, sehingga meninggalkan norma kepartaian.

Karena perbedaan pendapat itu, Ganjar sebagai Gubernur Jateng tak diundang dalam kegiatan tersebut.

Baca juga: Sejak Disebut KPK di Kasus Wali Kota Tanjungbalai, Azis Syamsuddin 3 Kali Absen Rapat Paripurna DPR

Padahal, semua kepala daerah dan wakilnya dari partai berlambang kepala banteng itu hadir secara langsung.

Di satu sisi, belum ada instruksi dari Ketua Umum Megawati Sukarnoputri.

Di sisi lain, sikap Ganjar dinilai tidak baik bagi keharmonisan partai yang wajib tegak lurus pada perintah ketua umum.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Beda Isolasi dan Karantina di Masa Pandemi Covid-19

"Wis tak kode sik. Kok soyo mblandang, ya tak rodo atos (sudah saya kasih kode, tapi malah tambah kebablasan)."

"Saya di-bully di medsos, ya bully saja. Saya tidak perlu jaga image saya,'' tegas Bambang. (Chaerul Umam)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved