Breaking News:

Berita Video

VIDEO Sembako hingga Buah Mau Dipajak Pemerintah, Pedagang di Bekasi Menolak

"Saya belun tahu malah. Ya kalau memang begitu, saya sebagai pengusaha kecil sangat keberatan," tutur Nawi saat ditemui di lokasi, Sabtu (12/6/2021).

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Ahmad Sabran

WARTAKOTALIVE.COM, Bekasi Timur -- Pemerintah berencana memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPn) pada komoditas pangan seperti sembako, daging hingga sayur serta buah-buahan.

Rencana yang tertuang dalam Draf Revisi Kelima Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU KUP) tersebut, sontak direspons secara negatif oleh para pedagang di Pasar Baru Bekasi, Bekasi Timur.

Seperti Mat Nawi (60) penjual buah-buahan yang bahkan belum mengetahui kabar pengenaan PPn pada komoditas buah-buahan. Ia pun terang-terangan menolak apabila para barang yang dijualnya juga dikenakan PPn.

"Saya belun tahu malah. Ya kalau memang begitu, saya sebagai pengusaha kecil sangat keberatan," tutur Nawi saat ditemui di lokasi, Sabtu (12/6/2021).

Alasannya, masyarakat yang membeli buah-buahan merupakan kalangan menengah ke atas yang tak banyak jumlahnya.

Belum lagi, pendapatannya pun sangat tak menentu seiring masih mewabahnya pandemi Covid-19. Daya beli masyarakat masih menurun lantaran perekonomian belum stabil.

"Kalau usaha seperti ini kan tidak menentu, kalo lagi rame ya rame, kadang juga sepi, jadi omzet juga tidak menentu," katanya.

Pengenaan PPn secara otomatis akan menaikan harga beli buah-buahan yang dipasok dari Pasar Induk Kramat Jati dan Cibitung.

Terlebih lagi, pengenaan nilai pajak sebesar 12 persen disebut Nawi terlalu tinggi.

"Ya nanti imbasnya sudah pasti harganya jadi naik. Apalagi kalau 13 persen. Sekarang saja saya ambil untungnya tipis banget," tutur Nawi.

Senada dengan Nawi, pedagang sembako bernama Samsul (34) tak sepakat apabila dagangannya dikenakan PPn. Selain memberatkan pedagang, kenaikan harga juga berpotensi menjatuhkan daya beli masyarakat.

"Kegedean itu sih kalau 12 persen, sekarang kalau barang harga tambah 500 perak, sedangkan dagang sepi begini. Enggak nutup sama operasional. Pembeli kan tahu sendiri, harga naik dikit saja pindah," kata Samsul. (abs)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved