Breaking News:

Kisah Tokoh

Kisah Brigjen Wismoyo Arismunandar Ragukan SBY Bertugas di Timor Timur, Ini Penyebabnya

Kisah Brigjen Wismoyo Ragukan SBY Bertugas di Timor Timur, Ini Penyebabnya. Simak selengkapnya di dalam berita ini.

YouTube@Susilo Bambang Yudhoyono
SBY 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, ternyata memiliki kisah unik dengan Timor Timur dan Wismoyo Arismunandar. 

Peristiwa terjadi saat SBY masih berpangkat Letkol dan ditugaskan memimpin Yonif 744 di Dili, Timor Timur, jauh sebelum provinsi termuda Indonesia itu meminta berpisah dengan NKRI.

Ketika itu SBY baru mengikuti Kursus Komandan Batalyon (Susdanyon). 

Ia tercatat sebagai peserta termuda, karena kebanyakan peserta kursus tersebut adalah alumnus Akabri angkatan 1970 atau 1971, sedangkan SBY angkatan 1973.

Baca juga: Siap Lamar Lesti Kejora Hari Minggu Sore Ini, Rizky Billar: Pasti Nervous Tapi Insya Allah Saya Siap

Sebagai lulusan terbaik kedua, saat itu ada kebiasaan komandan batalyon boleh memilih batalyon yang ia inginkan.

“Waktu itu aku mendengar kabar sepertinya SBY akan ditempatkan di Jawa Timur . Itu kabar gembira karena selama ini kami kesulitan untuk bisa menjenguk orangtua SBY di Pacitan (Jawa Timur),” ujar Ani Yudhoyono, istri SBY, dalam buku ‘Ani Yudhoyono, Kepak Sayap Putri Prajurit’, karya Alberthiene Endah, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Namun kenyataan berbeda dengan harapan. Pimpinan TNI AD menetapkan SBY memimpin Yonif 744, di Dili, Timor Timur.

Saat itu Timor Timur menjadi provinsi ke-24 Indonesia, sebelum akhirnya merdeka pada 1999 dan menjadi Republik Timor Leste.

Itu bukan penugasan beberapa bulan seperti pernah dialami SBY sebelumnya namun untuk penempatan dua tahun.

Baca juga: Sistem Password Kerap Dibobol, Apple Berencana Ganti Sistem Login dengan Face dan Touch ID

Oleh karena itu SBY disarankan membawa serta keluarganya. Saat itu SBY sudah mempunyai dua anak yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhyono (Ibas).

“Bukan main syoknya aku. Mendengar kabar itu benakku langsung teringat pada wacana sejumlah istri perwira yang suaminya pernah ditugaskan di Timor Timur dalam waktu cukup lama,” ujar Ani Yudhyono. Putri ketiga Letjen Purn Sarwo Edhie Prabowo tersebut meninggal dunia pada 1 Juni 2019 di Rumah Sakit Universitas Nasional, Singapura, akibat penyakit kanker.

Namun SBY menguatkan hati sang istri. Desember 1986 SBY dan keluarga berangkat ke Timor Timur, namun mampir dulu ke Bali karena SBY harus menghadap kepada Kepala Staf Kodam Udayana, Brigjen TNI Wismoyo Arismunandar.

Pada saat itu Timor Timur merupakan wilayah kerja Kodam Udayana.

Kejadian unik terjadi ketika SBY bertemu Wismoyo. Sang jenderal meragukan SBY bertugas di daerah konflik karena raut wajahnya bersih dan kulit tubuhnya terang.

“Komandan batalyon kok kulitnya bersih begini,” komentar Wismoyo. Walhasil SBY diminta tinggal dulu di Bali, padahal jadwal semula hanya satu hari berada di Pulau Dewata itu.

Baca juga: Wanita Sopir Taksi Online Dibunuh, Mayatnya Dibuang ke Jurang, Pelaku Sindikat Pencurian Mobil

Ia diminta menjadi pelatih para bintara di Kodam udayana, tepatnya di Resimen Induk Infanteri. Wismoyo ingin melihat seberapa besar kemampuan SBY melatih anak buah.

Keluarga SBY mendapat kamar kontrakan berukuran sedang di sebuah mes kawasan Renon, tengah Kota Denpasar. Tugas melatih itu ternyata berlangsung dua minggu, sebelum Wismoyo memutuskan memberangkatkan SBY ke Timor Timur.

Sampai di Bandara Dilli, SBY dijemput Komandan Pleton 2 Kompi D, Yonif 744, Letnan Dua Infanteri Wiyarto. Ny Ani terkejut ketika Wiryanto menyerahkan sejumlah perangkat prajurit kepada SBY. Ada senjata, ransel berserta isinya, dan helm baja.

Teror telepon

Ternyata untuk menuju markas Yonif 744, SBY harus berlari sambil membawa beban seberat 25 kg.

“Aku hanya bisa bengong sambil menggandeng Agus dan Ibas. Suamiku dengan gagah berlari, terus menjauh, dan makin lama jadi tak terlihat,” ujar Ani.

Ny Ani lalu diberitahu seorang penyambut, SBY diharuskan lari sejauh 15 km menuju markas di Taibesi, Dili, dan menghadap Komandan Korem Kolonel M Yunus Yosfiah. Mengetahui hal itu Ani Yudhoyono merasa nelangsa.

“Tangisku tumpah perlahan. Sambil terus menggandeng Agus dan Ibas, kupalingkan wajahku agar kedua anakku tidak melihat ibu mereka menangis,” tambah Ani.

Baca juga: Terus Berinovasi, Warung Favorit Jokowi di Tarakan Mampu Raih Omset Ratusan Juta Perbulan

Beruntung ada dua perwira yang menghampiri mereka, yaitu Mayor Infanteri Robert Simbolon dan Mayor Infanteri M yasin, rekan seangkatan SBY.

Mereka mengatakan siap mengantarkan ke mes di Dili yang baru dapat dimasuki menjelang malam hari karena sebelumnya harus dibenahi lebih dulu.

Menjelang tengah malam SBY baru muncul. Tubuhnya berkeringat, wajahnya lusuh.

Belakangan SBY menjelaskan tradisi penyambutan yang unik tersebut sebenarnya cukup berisiko.

Tidak ada yang bisa menjamin sang komandan batalyon akan sampai di Dili dalam kondisi fisik yang segar.

Berlari sejauh 15 km sambil membawa beban berat, risiko terjatuh bisa saja terjadi. Manakala sang komandan terjatuh di depan anak buahnya, bukan tidak mungkin akan mempengaruhi wibawanya.

Ani Yudhoyono kemudian menemui kejutan yang lain, yaitu ketika ia belanja di pasar. Pasalnya harga sayuran dan bahan makanan benar-benar mahal, sekitar tiga sampai empat kali lipat harga di Jakarta.

Uang belanja yang biasanya cukup untuk membeli sayuran dan lauk pauk, hanya cukup untuk membeli bumbu.

Baca juga: Sistem Password Kerap Dibobol, Apple Berencana Ganti Sistem Login dengan Face dan Touch ID

Beruntung gaji prajurit di Timor Timur ternyata dua kali lebih besar. Problem berikutnya yaitu air bersih. Bukan main sulitnya mendapat air yang layak pakai.

Walau ada PDAM namun airnya cokelat, bercampur butiran tanah. Solusinya, sebelum dipakai air PDAM harus diendapkan terlebih dahulu di sebuah tong.

Selain itu jika turun hujan harus segera menampung curahan air dari langit itu.

Horor lainnya adalah adanya teror yang sering muncul.

“Telepon bordering, jika diangkat tidak ada suara atau muncul suara menyeramkan yang tidak jelas. Aku diberitahu SBY untuk menutup telepon jika ada tanda-tanda mencurigakan.”

*Dikutip dari buku ‘Ani Yudhoyono, Kepak Sayap Putri Prajurit’, karya Alberthiene Endah, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul SBY Terima Sambutan Mengejutkan saat Tugas di Timor Timur.

Penulis: Febby Mahendra

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved