Breaking News:

Pojok Legislator

Kisah Adi Suwardi Jadi Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Asli Kampung Cicadas, Kuliah di Ibnu Khaldun

Berbagai kisah Adi Suwardi untuk menjadi anggota DPRD Kabupaten Bogor. Berasal dari Kampung Cicadas, Gunung Putri dan kuliah di Ibnu Khaldun Bogor.

Penulis: Hironimus Rama | Editor: Dodi Hasanuddin
Wartakotalive.com/Dodi Hasanuddin
Kisah Adi Suwardi Jadi Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Asli Kampung Cicadas, Kuliah di Ibnu Khaldun. 

WARTAKOTALIVE.COM, CIBINONG - Kisah Adi Suwardi jadi anggota DPRD Kabupaten Bogor, asli Kampung Cicadas, Gunung Putri, kuliah di Ibnu Khaldun Bogor

Jalan hidup setiap orang untuk mencapai kesuksesan memang penuh lika-liku.

Ada umumnya orang-orang sukses memulai perjuangannya dari tingkat bawah.

Hal ini juga dialami oleh Adi Suwardi, Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor.

Berawal dari kepala desa, Adi berhasil menggapai kesuksesan dalam politik dengan terpilih jadi anggota DPRD Kabupaten Bogor.

Lalu, seperti apa perjuangan Adi masuk ke gedung dewan? Berikut kisahnya.

Baca juga: KPK Sambangi DPRD Kabupaten Bogor, Sampaikan Sejumlah Agenda Penting Terkait Pemkab Bogor

Adi Suwardi lahir di Bogor, tepatnya di Kampung Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor pada Januari 1960.

Dia menghabiskan masa kecilnya di Cicadas hingga menempuh pendidikan SD.

Adi mengaku kecilnya sangat indah karena selalu manja orang tua.

"Saya anak bontot dari 9 bersaudara. Jadi kata orang, anak bungsu itu paling dimanjalah," kata Adi kepada Wartakotalive.com beberapa waktu lalu.

Pendidikan SMP dan SMA ditempuh di Cibinong. Lulus SMA tahun 1979, Adi lalu melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Baca juga: DPRD Kabupaten Bogor Setujui Usulan Pemkab Bogor Ruislag Tanah dengan PT Dua Berkat Properti

Adi merasa sangat dekat dengan orangtuanya. Ada banyak momen-momen indah yang dikenangnya hingga kini.

"Pada tahun 1976, orangtua ke tanah suci untuk ibadah haji. Saya ditinggalkan, sampai nangis-nangis," ungkapnya.

Saat itu Adi diminta keliling ke toko-toko mitra usaha sang ayah menagih duit untuk menambah uang saku di tanah suci.

"Pagi-pagi saya keliling ke toko-toko. Begitu saya pulang dari Depok hingga Cimanggis pakai  motor, orang tua sudah berangkat," tutur Adi.

Dia pun sedih dan menangis, lalu mengejar bis rombongan haji. 

"Akhirnya ketemu di Taman Mini. Di situ saya menyerahkan sejumlah uang untuk uang saku di tanah suci. Itu sangat berkesan," paparnya.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved