Breaking News:

Sembako Akan Kena Pajak Bikin Gerah Masyarakat,Staf Khusus Sri Mulyani Beri Penjelasan Panjang Lebar

Staf Khusus Menkeu Sri Mulyani, Yustinus Prastowo pun memberikan penjelasan panjang lebar mengenai rencana pemerintah mengenakan PPN sembako.

Editor: Mohamad Yusuf
Istimewa
Account Officer Mikro Bank DKI (kiri) tengah memberikan penjelasan kepada seorang pedagang pasar (kanan) dalam kegiatan canvasing di Pasar Santa, Jakarta (28/4) lalu. Di tahun 2020 Bank DKI menyalurkan kredit sebesar Rp 35,66 triliun. Rencana pemerintah kenakan mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap sejumlah barang termasuk bahan pokok (sembako) bikin gerah masyarakat. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Rencana pemerintah kenakan mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap sejumlah barang termasuk bahan pokok (sembako) bikin gerah masyarakat.

Bahkan DPR pun menilai rencananya mengenakan PPN pada sembako tidak tepat apalagi saat ini masih masa pandemi covid-19.

Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani, Yustinus Prastowo pun memberikan penjelasan panjang lebar mengenai rencana pemerintah mengenakan PPN sembako.

Baca juga: Kisah Wanita di Lebak, Wajahnya Digergaji Suami karena Menolak Diajak Mandi Bareng saat Bulan Puasa

Baca juga: Detik-detik Pria Berambut Gondrong Ditangkap karena Pukul Polisi Saat Razia Prokes di Solo

Baca juga: Pengamat Sebut Pantas Elektabilitas Anies Kalahkan Prabowo, karena Kerap Jadi Subjek Pemberitaan

Yustinus Prastowo memberikan penjelasan di akun Twitternya @prastow pada Rabu (9/6/2021).

Diketahui, dalam Rancangan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan (RUU KUP), sembako termasuk di antaranya beras dan gula konsumsi dihapus dari daftar barang yang dikecualkan dalam pemungutan PPN.

Selain itu, dalam RUU tersebut, besaran PPN juga dinaikan dari 10 persen menjadi 12 persen.

Atas hal ini, Yustinus Prastowo memberikan penjelasan di akun Twitternya. 

Di awal penjelasanya, Prastowo memahami reaksi masyarakat atas rencana kenaikan PPN dan pengenakan PPN terhadap sembako. 

"Wacana kenaikan tarif PPN mendapat respon cukup hangat. Ini hal positif karena kesadaran akan pentingnya pajak semakin tinggi. Pajak adalah pilar penyangga eksistensi negara. Saya perlu berbagi konteks yg lebih luas agar kita dapat mendudukkan semua wacana secara jernih. #utas

1. Saya bisa memaklumi reaksi spontan publik yg marah, kaget, kecewa, atau bingung. Eh, kenaikan tarif PPN berarti naiknya harga2 dong. Apalagi ini pemulihan ekonomi. Pemerintah sendiri struggle dg APBN yg bekerja keras, mosok mau bunuh diri? Begitu kira2 yg saya tangkap," tulisnya. 

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved