Breaking News:

Berita Video

VIDEO Indonesia Zona Cincin Api, BPPT Kembangkan Alat Canggih Deteksi Dini Bencana Tsunami

Riza menuturkan sistem pendeteksi dini bencana dasar laut dibutuhkan bagi wilayah Indonesia. 

Penulis: Rizki Amana | Editor: Ahmad Sabran

WARTAKOTALIVE.COM, SETU - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan sistem peringatan dini tsunami atau yang lebih dikenal dengan Indonesia Tsunami Early Warning System atau Teknologi InaTEWS. 

Kepala BPPT, Hammam Riza mengatakan pengembangan sistem peringatan bencana berbasis teknologi itu menggunakan berbagai instrumen sesuai dengan kebutuhan lokasi, seperti Teknologi Buoy (InaBuoy), Teknologi Kabel Optik Bawah Laut (InaCBT - Cable Based Tsunameter), Teknologi Coastal Acoustic Tomografi (InaCAT), hingga Pemodelan berbasis Kecerdasan Artifisial.

Hal tersebut guna mendukung pendeteksian dini benacan di dasar laut yang berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

"BPPT sejak Tahun 2019 telah membangun tiga teknologi tersebut dalam rangka mendukung InaTEWS Nasional BMKG," katanya dalam kegiatan konferensi pers di kawasan Puspiptek, Setu, Kota Tangsel, Selasa (8/6/2021).

Riza menuturkan sistem pendeteksi dini bencana dasar laut dibutuhkan bagi wilayah Indonesia. 

Pasalnya, Indonesia berada di zona Ring of Fire karena letak geografisnya berada di antara pertemuan 3 lempeng tektonik besar yakni lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. 

Kata ia, pertemuan tiga lempeng besar itu menjadikan Indonesia terkategori sebagai zona rawan gempa.

Ditambah, Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia hiblngga daerah padat penduduk seperti mayoritas Pulau Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTT, Sulawesi, hingga Ambon merupakan daerah yang rawan akan terjadinya gempa bumi dan hanya sebagian kecil Pulau Jawa bisa dikatakan aman dari ancaman gempa.

"Melihat dari kondisi tersebut serta histori kebencanaan, upaya mitigasi bencana terintegrasi sudah sepatutnya diterapkan di Indonesia," jelasnya. 

Di sisi lain, sejumlah peristiwa bencana alam seperti bencana besar di Tahun 2018 yang menerpa Lombok, Palu, dan Selat Sunda menjadi pengalaman berharga bagi semua pihak dalam memperingatkan datangnya bencana sedini mungkin. 

Hal tersebut juga sesuai arahan Perintah Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2019  tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.

"Sensor tsunami dari InaTEWS BPPT dapat mengirimkan data secara berkesinambungan kepada BMKG dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia," jelasnya. 

Ia pun memastikan pihaknya telah menyusun grand design peta jalan teknologi mitigasi dengan mengoperasikan InaBuoy di 13 lokasi, InaCBT di 7 lokasi, InaCAT di 3 lokasi dan didukung dengan pengolahan kecerdasan artifisial. 

"Semua Teknologi InaTEWS ditargetkan akan beroperasi penuh pada tahun 2024," pungkasnya. (m23) 

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved