Breaking News:

Opini

Berteriaklah Biar Dunia Memandangmu, Kartini Masa Kini

Tiap tahun masyarakat Indonesia merayakan Hari Kartini pada tanggal 21 April. Apa makna peringatan tokoh emansipasi wanita itu bagi seorang mahasiswi?

istimewa
Guru mengajar sejumlah siswi di sebuah desa di pelosok Tasikmalaya, Jawa Barat. Pengajaran untuk berpikir kritis dan bersikap terbuka perlu ditanamkan sejak dini di bangku sekolah agar siswa terbiasa untuk bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu. 

Data maraknya pernikahan dini dan rendahnya kualitas pendidikan perempuan ini sepertinya semakin memvalidasi kondisi “dapur rumah perempuan”.

Baca juga: Makna Hari Kartini di Masa Pandemi Covid-19, Ini Penjelasan Kapolsek Pondok Aren Kompol Riza Sativa

Khawatirnya, ini semakin memberi kungkungan pada perempuan dibalik kata kodrat.

Maka, akan jadi berbahaya kalau yang seharusnya merasa dirugikan malah menerima dengan lapang dada.

Bukti tentang masalah ini juga datang dari lingkungan institusi pendidikan sekitar saya.

Para petugas ATC Bandar Soekarno-Hatta mengenakan kebaya lengkap saat berdinas memperingati Hari Kartini, Minggu (21/4/2019)
Para petugas ATC Bandar Soekarno-Hatta mengenakan kebaya lengkap saat berdinas memperingati Hari Kartini, Minggu (21/4/2019) (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Fakta mengatakan, pimpinan dan wakil pimpinan organisasi representatif mahasiswa diduduki oleh laki-laki selama 7 tahun berturut-turut.

Apakah ini kebetulan?

Mungkinkah selama 7 tahun tidak ada satupun perempuan yang cakap mengisi posisi tersebut?

Jawabannya jelas tidak.

Baca juga: Kumpulan Kata Inspiratif untuk Peringatan Hari Kartini 21 April, Cocok Dibagikan di Media Sosial

Lagi-lagi yang ada hanya perempuan yang tidak berani berbicara.

Karena pun diskriminasi dapat didobrak dengan suara.

Dengan paradigma dan level kepasrahan seperti penjabaran diatas, perjalanan perjuangan emansipasi wanita oleh R.A Kartini seabad yang lalu ternyata hanya cerita legendaris tanpa hasil.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, 3 Pemain Persija Putri Sampaikan Harapan dan Doa Spesial

Teriakan para aktivis yang mati-matian memperjuangkan hak-hak kaum perempuan jadi nihil.

Kesempatan yang sudah mulai terbuka untuk perempuan hanya akan jadi fosil.

Intinya, fasilitas memadai dan pengetahuan teoritis rumpang tanpa mental berani bicara.
Ini penting jadi perhatian tiap individu, dalam konteks bacaan ini terlebih untuk kita perempuan muda.

Memangnya siapa yang bisa dengar bising di kepala selain yang punya?

20180422 Peringatan Hari Kartini Bertema 1000 Kartini Nusantara
20180422 Peringatan Hari Kartini Bertema 1000 Kartini Nusantara (warta kota/nur ichsan)

Perubahan itu milik siapapun yang mau berubah, akan tetapi siapa pula yang akan mengambil langkah kalau dirasa tidak ada masalah?

Mereka yang dalam bayang-bayang dan tidak berani berkembang itu pesuruh namanya, bukan perempuan.

Terakhir, teruntuk seluruh perempuan muda Indonesia yang merasa saat ini masih bungkam, yakin mau jadi babu selamanya? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved