Berita Jakarta

Tarwiyah Tidak Sabar Tempati Rumah Panggung di Kebon Pala, Tak Khawatir Kebanjiran Lagi

Dengan direnovasinya rumah di Jalan Kebon Pala, Kampung Melayu menjadi rumah panggung membuat warga lega tak takut kebanjiran lagi

Grafis Wartakotalive.com/galih
Rumah panggung di Kampung Melayu, Jakarta Timur membuat warga senang 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Mata Tarwiyah (72) berkaca-kaca. Suara warga RT 13 RW 04 Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, ini bergetar.

Ia semringah, meyakini ada harapan untuk tetap beraktivitas di dalam rumah saat banjir menyerang permukiman padat tersebut.

Tarwiyah merupakan salah satu warga yang rumahnya dipugar menjadi model panggung.

Jalan Kebon Pala RT 13 RW 04 memang kerap menjadi langganan banjir terutama saat musim hujan tiba. Rumah warga di Kebon Pala minimal terdiri dua lantai.

Jika bagian dasar terendam luapan air Kali Ciliwung, mereka bertahan di lantai dua. Namun hal itu tak kuasa dilakukan jika air bertambah tinggi.

Baca juga: Pembangunan Rumah Panggung Berlanjut. Anwar: Bakal Ada Dua Lokasi Lain Proyek Rumah Panggung

Baca juga: Banjir Setinggi 120 Cm Rendam Permukiman Warga di Kampung Melayu Akibat Kali Ciliwung Meluap

Pilihan teraman adalah mengungsi. Harapan muncul ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) berencana merenovasi rumah warga terdampak banjir di RT 13 RW 04 Kampung Melayu.

Ada 40 rumah yang direnovasi menjadi model panggung.

Dari 40 rumah tidak seluruhnya dibedah total. Ada 18 rumah kategori rusak berat dan tidak layak yang sudah diubah menjadi model panggung.

Sisanya dilakukan bedah tampak muka (fasad) agar tampak rapi.

Rumah panggung sendiri merupakan bangunan berlantai tiga disertai teras dan tiang penyangga.

Tarwiyah menjadi salah satu warga yang rumahnya diubah model panggung. Ia mengaku tinggal di wilayah tersebut sejak masa anak-anak.

Rumah Tarwiyah yang tadinya hanya dua lantai kini ketambahan satu lantai.

Temboknya dicat warna-warna cerah dengan lantai satu beralasan keramik.

Lantai dua dan tiga dibuat beralas karpet lengkap dengan kamar mandi. Tarwiyah merasa keberadaan kamar mandi di lantai dua membuatnya kelak tetap beraktivitas meski banjir menerjang.

"Udah dari lahir kali tinggal di sini jadi kalau banjir sudah biasa. Bahkan di lantai dua saja pernah kebanjiran juga," kata Tarwiyah kepada Warta Kota belum lama ini.

Puluhan rumah di RT 13 RW 4, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, dibedah untuk menjadi rumah panggung demi mengatasi banjir yang kerap melanda kawasan tersebut. 
Puluhan rumah di RT 13 RW 4, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, dibedah untuk menjadi rumah panggung demi mengatasi banjir yang kerap melanda kawasan tersebut.  (Wartakotalive.com/Junianto Hamonangan)

Tarwiyah sekarang tinggal bersama anak dan cucunya.

Ia mengaku sudah tidak sabar untuk segera menempati rumah "barunya" tersebut. Selain itu, ia berencana membuka toko kelontong di halaman rumah.

"Dagangnya nanti di teras saja, emang dari dulu orang sini tahu kalau saya ini berdagang. Warung keluarga istilahnya. Ya, senenglah begini (direnovasi), jadi bagus kan. Terima kasih untuk semua pihak yang membantu," katanya.

Selama rumahnya direnovasi, Tarwiyah menempati rumah kontrakan. Sewanya disubsidi Rp 500.000.

Jadi ia cukup menambah Rp 300.000 sebab sewa kontrakanya per bulan Rp 800.000.

Warga lainnya, Minah (70), menyatakan pertama kali tahu rumahnya akan diubah menjadi model panggung saat didata pengurus RT/RW setempat.

Ketika diwawancara, Minah kerap melempar senyum. Sesekali pandangannya fokus menatap rumahnya yang dipugar.

"(Saya) Dimintain KK (Kartu Keluarga), KTP, surat-surat lah pokoknya. Pas tahu mau dibenerin, ya kami senang dong. Enggak bayar (proses renovasi) lagi kan," ujar Minah.

Kegembiraan juga dirasakan Yani (57). Ia yakin rumah vertikal ini dapat membatasi jangkauan air hingga ke bagian teratas.

Seperti Tarwiyah, Yani berencana membuat teras rumah sebagai tempat untuk berjualan tempe goreng tepung hingga beraneka lauk pauk. 

Kebon Pala bukan yang pertama 

Wakil Ketua II Baznas Bazis DKI, Saat Suharto Amjad mengungkap latar belakang pihaknya mengusulkan ide membedah rumah warga di wilayah Kampung Melayu menjadi model panggung kepada Pemkot Jakarta Timur.

Menurutnya semua berawal dari bencana banjir yang kerap menimpa Kampung Melayu.

Pihaknya kemudian mendapat laporan banjir kerap mengakibatkan beberapa rumah rusak.

Saat menilai kondisi alam adalah karunia Allah sehingga mesti disikapi secara positif dan ramah terhadap lingkungan.

"Penataan kampung ini menggunakan konsep dasar 'Kampung Regeneration' di mana kita mulai dari kerawanan atau kerentanan kampung yang bisa dikurangi lalu meningkatkan potensi kekuatan kampung," ujar Saat kepada Warta Kota.

Selama ini pihak Baznas Bazis DKI, lanjut Saat, belajar kepada para arsitek yang meminimalkan kerentanan utama banjir menggunakan konsep rumah panggung.

Kohesivitas sosial diatasi dengan konsep ruang sosial mengingat potensi masyarakat di kampung tersebut adalah pembuat makanan kue basah.

Ketika disinggung perihal anggaran, Saat menyebut satu renovasi rumah ke model panggung menelan biaya Rp 79 juta. Ada 18 unit yang direnovasi. Sedangkan 25 rumah lainnya cuma diubah fasad, anggarannya Rp 14,4 juta per unit. Anggaran pembangunan rumah panggung diambil Baznas Bazis DKI dari pos "Fuqoro wal masakin".

"Jika dana dari para muzaki mempercayakan pengelolaan zakat, infak, sedekah, kepada kami masih ada, dan kelompok sasarannya sesuai peruntukan dana dari zakat, serta masyarakat menerima, InsyaAllah akan kami lanjutkan," katanya.

Sudah pernah ada

Saat menambahkan, rumah model panggung seperti di Kampung Melayu pernah dibangun sebanyak tujuh unit di wilayah RT 10 RW 11 Kramat Jati, Jakarta Timur, pada akhir tahun 2019.

Kala itu terjadi banjir yang mengakibatkan tujuh rumah mengalami rusak berat sehingga membutuhkan perbaikan.

"Setelah kami assessment terhadap tanah dan calon penerima manfaat telah sesuai, kami berdialog dengan masyarakat membangun model desain rumah panggung dengan lantai dasar untuk kegiatan komunal masyarakat. Maka kesuksesan itu kami jadikan sebagai acuan untuk membangun dengan memperhatikan kondisi setiap lingkungan yang berbeda," tuturnya.

Saat menyebut setiap tahun Baznas Bazis DKI membangun 400 hingga 500 rumah yang tak layak huni. Biasanya satu hingga tiga unit rumah tak layak huni untuk setiap kelurahan di atas tanah yang legalitasnya jelas: milik masyarakat miskin ber-KTP DKI Jakarta.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved