Kesehatan
Tabung Kekuatan Tulang sejak Dini agar Menjadi Lansia Sehat dan Aktif
Menjadi tua sehat dan tetap aktif harus diupayakan sejak dini. Salah satu caranya, berolahraga secara rutin.
Penulis: LilisSetyaningsih |
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Saat seorang berulang tahun, doa favorit dipanjatkan yakni panjang umur.
Namun, menjadi tua kerap ditakuti banyak orang.
Setelah memasuki masa pensiun, muncul perasaa kesepian, dan sering sakit.
Akibatnya para lansia (lanjut usia) merasa tidak berguna bahkan menganggap hanya menjadi beban keluarga.
Baik secara ekonomi ataupun dari aktivitas yang membutuhkan bantuan orang lain akibat disabilitas.
Padahal jumlah lansia semakin banyak di Indonesia. Dalam waktu hampir lima dekade (1971-2019), populasi lansia di Indonesia meningkat hingga dua kali lipat.
Tahun 2020, berdasarkan Laporan Statistik Penduduk Lanjut Usia, terdapat 26,82 juta lansia di Indonesia atau 9,92 persen dari total populasi.
Hal tersebut membuat Indonesia menghadapi transisi menuju kondisi penuaan penduduk.
Baca juga: Heboh Pengunjung Eksklusif di Ragunan, Humas TMR Berkilah Mereka Kaum Disabilitas dan Lansia
Jumlah populasi lansia terus meningkat, aspek kesehatan menjadi salah satu faktor penting untuk mewujudkan lansia sejahtera.
Dr Riskiyana Sukandhi Putra MKes, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan RI mengatakan, Usia Harapan Hidup (UHH) diperkirakan akan terus meningkat.
Dampaknya, jumlah penduduk lanjut usia akan bertambah.
Saat ini, kelompok usia lanjut di Indonesia telah berada di atas 7 persen dari total keseluruhan penduduk.
Jika angkanya sudah mencapai 10 persen, Indonesia akan berubah menjadi negara dengan struktur penduduk tua (ageing population).
Dia mengatakan, jumlah lansia bertambah tidak masalah ketika lansia dapat menikmati kualitas hidup optimal sampai akhir hayatnya yakni sehat, mandiri, aktif, dan produktif.
Peningkatan jumlah lansia merupakan salah satu indikator keberhasilan pencapaian pembangunan nasional terutama bidang kesehatan.
Sebaliknya menjadi masalah bila terjadi peningkatan angka beban tanggungan usia produktif.
"Kondisi lansia yang sehat, bugar dan produktif ditentukan salah satunya oleh aktivitas fisik yang dilakukan secara baik, benar, terukur dan teratur (BBTT) sejak usia dini," ujar Riskiyana.
Riskiyana mengatakannya saat menjadi pembicara di media briefing 'Rayakan Lansia yang Sehat, Aktif, dan Bahagia' dalam rangka hari lanjut usia Nasional 2021, Jumat (28/5/2021).
Baca juga: Gubernur Ganjar Targetkan Vaksinasi Lansia Naik 100 Persen Hingga Pekan Depan
Kesehatan tulang
Tidak bisa mandiri menjadi salah satu momok menjadi tua. Hal itu akibat terjadinya disabilitas.
Angka disabilitas pada lansia mencapai 26 persen dan 35 persen lansia menderita penyakit sendi.
Dr Bagus Putu Putra Suryana SpPD-KR, Ketua Umum Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) mengatakan, orang usia lanjut memiliki risiko berbagai ancaman penyakit tidak menular.
Misalnya, jantung, stroke, dan osteoporosis.
Satu di antara tiga wanita diatas usia 50 tahun menderita osteoporosis. Sementara pada pria, satu di antara lima pria diatas 50 tahun menderita osteoporosis.
Osteoporosis masih menjadi masalah global. Lebih dari 10 juta orang di seluruh negeri diperkirakan menderita osteoporosis.
Lansia salah satu kelompok risiko Osteoporosis. Seiring bertambahnya usia kehilangan lebih banyak kepadatan tulang.
Jika kehilangan kepadatan tulang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan osteoporosis sehingga berisiko mengalami patah tulang.
Menurut data dari World Health Organization (WHO), 50 persen kejadian patah tulang disebabkan oleh osteoporosis.
Patah tulang dapat menyebabkan rasa nyeri, disabilitas, deformitas hingga meningkatkan risiko kematian akibat komplikasi medis.
Baca juga: Pemerintah Kabupaten Bogor Minta Satgas Covid-19 Kecamatan Genjot Vaksinasi untuk Lansia
Untuk itu, investasi kesehatan tulang dan otot agar tetap kuat merupakan tujuan penting dilakukan setiap orang usia berapa pun dalam setiap tahap kehidupan.
Cintai tulang Sejak Dini
Menjaga kesehatan tulang kuat sejak dini harus dilakukan agar tulang tetap kuat saat usia lanjut.
Bagus mengatakan, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah osteoporosis antara lain, mengonsumsi kalsium.
Takaran kalsium yang dibutuhkan 1.000 miligram setiap hari untuk wanita berusia di bawah 50 tahun dan pria berusia di bawah 70 tahun.
Kebutuhan kalsium akan meningkat menjadi 1.200 miligram setiap hari untuk wanita berusia di atas 50 tahun dan pria berusia di atas 70 tahun.
Selain kalsium juga harus mendapatkan vitamin D cukup. Fungsinya untuk membantu penyerapan dan pemasukan kalsium ke dalam tulang.
Melakukan olahraga menahan beban secara teratur (bisa dimulai dengan berjalan kaki 15-20 menit setiap harinya), mengurangi kafein dan alkohol, berhenti merokok.
Serta mencukupi kebutuhan nutrisi lainnya seperti kalium, protein, dan mineral agar penyerapan kalsium dan pembentukan tulang baru berlangsung optimal dalam tubuh.
"Tetap bergerak di luar maupun di dalam ruangan," kata Bagus.
Baca juga: Wings Food Luncurkan Milku, Susu Untuk Kesehatan Tulang dan Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Anjuran latihan fisik
Latihan fisik pada lansia berguna untuk mempertahankan tonus dan kekuatan otot, dan memperbaiki keseimbangan.
Latihan fisik ini dilakukan minimal 30-60 menit setiap hari atau 150-300 menit/minggu.
"Latihan fisik dapat mengurangi risiko terjatuh pada lansia," katanya.
Selain itu secara teratur dilakukan pemeriksaan BMD (bone mineral density) untuk memastikan diagnosis osteoporosis.
Dr Siti Pariani MS MSc PhD FISPH FISCM, Ketua dan Pendiri Komunitas Lansia Sejahtera Surabaya mengatakan, kondisi lansia di Indonesia memiliki banyak tantangan.
Alasannya, karakteristik mereka berbeda dibandingkan dengan saat masih muda.
Namun, para lansia harus tetap melakukan aktivitas fisik secara optimal agar seluruh organ tubuh tetap berfungsi dan mendapatkan kualitas hidup lebih baik.
Aktivitas fisik untuk lansia bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing dengan intensitas sedang seperti jalan kaki jarak dekat.
Membersihkan rumah, bersepeda santai, naik tangga, hingga berkebun.
Selain itu, lansia juga perlu melakukan olah pikir seperti membaca buku dan belajar hal baru, olah rasa seperti membantu orang lain dan menjadi orang sabar.
Olahraga dengan melakukan aktivitas fisik, serta olah spiritual mendekatkan diri dan mengharapkan ridho dari Tuhan Yang Masa Esa.
TA Erjinyuare Amigo MKep NsSpKepKom, Direktur Litbang Yayasan Indonesia Ramah Lansia mengatakan, edukasi kesehatan sebagai faktor penting agar lansia dapat menjaga kesehatan secara mandiri.
Rhesya Agustine, Marketing Manager Anlene, Fonterra Brands Indonesia, mengatakan, bertepatan Hari Lanjut Usia Nasional 2021, Anlene mengadakan rangkaian kegiatan.
Kegiatan itu berlangsung 25-29 Mei 2021 untuk memberdayakan peran dan potensi lansia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/jalan-kaki21509.jpg)