Breaking News:

Waduh! Ada Hampir 100.000 ASN Misterius Terima Gaji dan Pensiun Selama 12 Tahun, Kok Bisa?

Ada sekitar 97.000 data ASN atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang misterius sejak tahun 2002 hingga tahun 2014.

Editor: Mohamad Yusuf
Warta Kota/Henry Lopulalan
Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengungkap bahwa pihaknya menemukan hampir 100.000 data Aparatur Sipil Negara (ASN) yang misterius sejak 2002 hingga 2014. Bahkan ribuan ASN tersebut selama itu masih menerima gaji atau pensiun. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Mengejutkan, Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengungkap bahwa pihaknya menemukan hampir 100.000 data Aparatur Sipil Negara (ASN) yang misterius sejak 2002 hingga 2014.

Bahkan ribuan ASN tersebut selama itu masih menerima gaji atau pensiun.

Meskipun keberadaan orangnya sendiri tidak ada.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala BKN Bima Haria Wibisana, dalam tayangan Kick-Off Meeting Pemutakhiran Data Mandiri ASN dan PPT non ASN YouTube BKN #ASNKINIBEDA, Senin (24/5/2021).

Baca juga: Kisah Wanita di Lebak, Wajahnya Digergaji Suami karena Menolak Diajak Mandi Bareng saat Bulan Puasa

Baca juga: Detik-detik Pria Berambut Gondrong Ditangkap karena Pukul Polisi Saat Razia Prokes di Solo

Baca juga: Pengamat Sebut Pantas Elektabilitas Anies Kalahkan Prabowo, karena Kerap Jadi Subjek Pemberitaan

Dirinya mengungkapkan, tepatnya ada sekitar 97.000 data ASN atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang misterius sejak tahun 2002 hingga tahun 2014.

Bima mengatakan, 97.000 data ASN misterius tersebut menerima gaji hingga pensiun.

"Ternyata hampir 100.000 tepatnya 97.000 data (ASN) itu misterius dibayarkan gajinya, dibayar iuran pensiun tapi tidak ada orangnya," ujar Bima, dikutip dari Tribunnews.

Bima pun menyebut temuan tersebut juga setelah adanya proses pemutakhiran data ASN, di mana Indonesia baru melakukannya dua kali.

Bima menyebut di mana proses tersebut dilakukan pada tahun 2002 dan tahun 2014.

Proses pemutakhiran data ASN pada tahun 2002 diakui Bima menggunakan sistem yang masih manual, dan diperlukan waktu yang lama juga biaya yang sangat besar.

"Proses yang mahal dan lama itu tidak menghasilkan data yang sempurna masih banyak yang perlu dimutakhirkan, dilengkapi, bahkan masih banyak juga data-data yang palsu," ujar Bima.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved