Kamis, 28 Mei 2026

Info Balitbang Kemenag

Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Tak Berjalan Efekfif di Masa Pandemi Covid-19

Sejumlah siswa kelas 7 SMP N 2 Kairatu Barat mengatakan bahwa, mereka cenderung merasa jenuh dan cepat bosan saat belajar sendiri di rumah.

Tayang:
Penulis: Ichwan Chasani | Editor: Ichwan Chasani
Dok. Ditjen Bimas Kristen
Direktur Jenderal Bimas Kristen, Prof. DR. Thomas Pentury, M.Si dengan pejabat Es. II dan para Rektor PTKKN pada acara Pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Pusat dan Daerah Tahun 2021 di Novotel, Bogor, Selasa (20/04/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM — Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) ternyata tidak berjalan dengan efektif di masa pandemi Covid-19.

Sejak kebijakan belajar dari rumah diberlakukan pada bulan April sampai akhir semester genap pada bulan Juni 2020 bisa dikategorikan proses pembelajaran tersebut tidak berjalan dengan efektif.

Demikian hasil temuan penelitian yang dilakukan oleh Jenri Ambarita, M.Pd.K beberapa waktu lalu.

Berdasarkan observasi awal penelitian (preliminary research) kepada sejumlah guru Pendidikan Agama Kristen dari berbagai provinsi di Indonesia terdapat berbagai permasalahan dalam pembelajaran jarak jauh di masa pandemi covid-19, diantaranya  ada 48,7 persen guru PAK hanya memberikan tugas kepada peserta didik tanpa ada interaksi; 48,5 persen melakukan pembelajaran online; sebanyak 1 persen tetap melaksanakan tatap muka; dan  Sebanyak 1,7 persen guru PAK yang tidak melaksanakan aktifitas pembelajaran (berhenti total).

Studi lapangan yang telah peneliti lakukan pada bulan Juni 2020 di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, serta informasi yang peneliti dapatkan dari guru Agama Kristen sekaligus bagian kurikulum (Corlina, 2020) dan Kepala sekolah (Saija, 2020) mengatakan bahwa pembelajaran yang diterapkan selama covid-19 adalah penugasan tanpa ada interaksi lain untuk menjelaskan materi pembelajaran.

Informasi yang peneliti juga temukan adalah bahwa guru-guru di sekolah tersebut memiliki laptop, android atau computer, demikian halnya dengan peserta didik juga 70 persen memiliki Android yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung aktifitas pembelajaran. Namun, kenyataannya semua perangkat itu tidak dimanfaatkan untuk melaksanakan pembelajaran online di masa pandemi Covid-19.

Sejumlah siswa kelas 7 SMP N 2 Kairatu Barat mengatakan bahwa, mereka cenderung merasa jenuh dan cepat bosan saat belajar sendiri di rumah. Setiap hari mereka diperhadapkan dengan tugas yang banyak dari setiap mata pelajaran berbeda tanpa ada penjelasan materi dari guru.

Hal ini menjadi keluhan banyak peserta didik sehingga banyak yang tidak mengerjakan tugas dan bahkan asal menjawab tanpa pemahaman yang benar.

Hal ini dikhawatirkan akan membuat anak kehilangan konsep inti dari kurikulum yang seharusnya dikuasai lebih dulu sebagaimana disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbang dan Perbukuan) Totok Suprayitno.

Hal lain yang juga terabaikan dalam pembelajaran jarak jauh adalah penguatan pendidikan karakter peserta didik. Kebijakan belajar dari rumah membuat guru tidak bisa secara langsung mendampingi/mengawasi peserta didik. Oleh karena itu peran orang tua sangatlah sentral saat belajar dari rumah.

Masih berdasarkan wawancara bersama guru PAK di SMP N 2 Kairatu Barat mengatakan bahwa guru menggunakan aplikasi whatsapp hanya untuk mengingatkan pengumpulan tugas yang telah diberikan.

Namun, peran orang tua sebagai pendamping akademik sangat sulit untuk diimplementasikan untuk masyarakat Kairatu secara umum dan orang tua siswa SMP N 2 Kairatu Barat secara khusus.

Metode penelitian
Penyajian materi Pendidikan Agama Kristen di sekolah masih sangat jauh dari pemanfaatan teknologi. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada guru Pendidikan Agama Kristen Indonesia dan Guru PAK di SMP Negeri 2 Kairatu Barat.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan kemampuan guru PAK dalam memanfaatkan teknologi untuk merancang media pembelajaran yang menarik.

Kondisi ini seolah memaksa guru Pendidikan Agama Kristen hanya sekedar memberikan tugas, bahkan beberapa guru PAK tidak melaksanakan aktifitas pembelajaran alias libur.

Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk pribadi yang berakhlak dan berkarakter yang kuat.

Untuk itu, diharapkan setiap guru PAK mampu merancang dan menciptakan pembelajaran/media pembelajaran yang menarik sehingga tujuan pembelajaran boleh tercapai dengan baik.

Teknologi komputer memungkinkan seseorang untuk mengeksplorasi data dan informasi secara lebih luas dan praktis. Perkembangan teknologi juga memberikan inovasi dalam proses pembelajaran dan juga membuat pembelajaran menjadi menarik.

Pengembangan media pembelajaran ditujukan untuk menarik perhatian siswa dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
Media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dapat menarik minat siswa dengan memanfaatkan teknologi komputer.

Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan media pembelajaran Pendidikan Agama Kristen berbasis multimedia interaktif sebagai penguatan pendidikan karakter.

Pada pengembangan ini, peneliti menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation, namun dalam hal ini peneliti hanya sampai ke tahap uji kelayakan tanpa mengukur tingkat efektifitasnya.

Hasil dari penelitian ini berupa software yang ada dalam DVD room ataupun Flashdisk yang dapat diinstall dan disave di komputer.
Hasil pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif menggunakan Powerpoint, Corel draw, Filmora ini digunakan untuk menyampaikan pelajaran Pendidikan Agama Kristen tingkat SMP agar peserta didik dapat belajar mandiri, meningkatkan pemahaman dan untuk mendorong kreativitas pendidik dalam mengembangkan media pembelajaran.

Temuan penelitian
Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakefektifan pembelajaran di masa pandemi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bersumber dari pendidik, peserta didik maupun orang tua.

Dari 421 orang guru Pendidikan Agama Kristen yang diobservasi, ada sebanyak 204 orang (48,5 persen) yang melaksanakan pembelajaran online, 205 orang (48,7 persen) yang menerapkan pembelajaran penugasan (cukup memberikan tugas tanpa ada interaksi), sebanyak 4 orang (1 persen) yang mengatakan tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka dan sebanyak 8 orang (1,9 persen) yang menjawab tidak ada aktifitas pembelajaran.

Permasalahan yang dihadapi oleh guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembelajaran di masa pandemi bervariasi, mulai dari masalah sarana-prasarana, masalah ekonomi dan masalah keterbatasan pemahaman dan keterampilan ITC guru. Hal ini juga terjadi di SMP Negeri 2 Kairatu Barat.

Guru Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 2 Kairatu Barat hanya memberikan penugasan kepada peserta didik. Setiap hari Senin guru akan mengunjungi peserta didik ke rumah masing- masing untuk memberikan tugas dan membagikan materi pembelajaran dalam bentuk kertas fotokopi.

Pada hari Jumat berikutnya guru akan kembali datang untuk mengumpulkan tugas-tugas yang telah diberikan.
Terbatasnya sumber belajar atau media pembelajaran sebagai penghubung antara guru dengan siswa membuat pembelajarn kurang efektif.

Sejumlah siswa dan orang tua sangat mengeluh terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepada peserta didik.
Peserta didik merasa bosan dan sangat cepat jenuh ketika belajar mandiri di rumah yang diperhadapkan dengan tugas-tugas yang sangat banyak. Hal ini sangat berhubungan dengan moral atau karakter peserta didik selama belajar dari rumah.

Peserta didik tidak kreatif dalam mengerjakan tugas, tidak bersemangat saat belajar mandiri di rumah, tidak disiplin atau kurang bertanggung jawab dalam menyelesaikan tuga-tugas yang sudah diberikan oleh guru. Hal ini sering menimbulkan permasalahan antara orang tua dengan anak saat belajar di rumah.

Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan akademik, keterbatasan ekonomi yang mengharuskan orang tua untuk tetap beraktifitas di dusun (kebun), membuat orang tua tidak maksimal bahkan tidak mampu mendampingi anak saat Belajar Dari Rumah (BDR).

Oleh karena itu, orang tua berharap ada kebijakan dari lembaga pendidikan agar guru bisa mendampingi anak dalam belejar di masa pandemi Covid-19.

Media pembelajaran merupakan penghubung antar guru dengan siswa, media pembelajaran bisa dimanfaatkan oleh guru untuk menyampaikan informasi atau pesan-pean pembelajaran tanpa tatap muka. Salah satu media pembelajaran yang bisa dimanfaatkan di masa pandemi saat ini adalah multimedia interaktif.

Pengembangan multimedia interaktif pada pembelajaran PAK, dinyatakan layak oleh ahli materi dengan skor 4,09 pada kategori “baik”, ahli bahasa dengan skor 4,2 pada kategori “baik”, ahli media dengan skor 4,4 pada kategori “sangat baik”, Praktisi memberikan skor 4,2 pada kategori “baik”.

Demikian halnya dengan media pembelajaran interaktif dari sudut pendidikan karakter, menyatakan layak untuk digunakan sebagai upaya penguatan pendidikan karakter di masa pandemi covid-19.

Berdasarkan penilaian dari 1 orang dosen pendidikan karakter dan 5 orang guru PAK, multimedia interaktif memiliki dampak terhadap karakter peserta didik.

Secara tidak langsung multimedia interaktif akan berdampak terhadap penguatan nilai-nilai karakter bagi peserta didik, di antaranya: karakter Religious, Jujur, Toleransi, Cinta damai, Kreatif, Mandiri, Disiplin, Rasa Ingin Tahu, Gemar membaca, Tanggung jawab.

Muatan materi Indahnya mengampuni, tampilan media yang didesain dengan nuansa rohani Kristen, backsound lagu rohani yang sesuai dengan materi dinilai mampu memberikan penguatan terhadap nilai karakter religious peserta didik.

Materi indahnya mengampuni, cerita kehidupan Nelson mandela, model soal yang dirancang dinilai mampu memberikan penguatan terhadap nilai karakter kejujuran, Toleransi dan Cinta damai peserta didik sebagai pengguna.

Media pembelajaran yang didesain interaktif dinilai mampu menuntut peserta didik untuk semakin lebih kreatif. Media pembelajaran dilengkapi dengan fitur-fitur yang kreatif, lengkap dan mudah dipahami sehingga mampu digunakan secara mandiri oleh pengguna tanpa pendampingan dari orang lain.

Dalam menjawab soal evaluasi, pengguna akan diarahkan otomatis ke halaman materi ketika siswa salah menjawab soal, dengan demikian media pembelajaran interaktif dinilai mampu memberikan dampak terhadap penguatan nilai karakter gemar membaca dan rasa ingin tahu peserta didik.

Pada slide kedua media pembelajaran, mengajak peserta didik untuk terlibat aktif dalam bernyanyi dan berdoa sebagai pembukaan, hal ini dinilai mampu berdampak terhadap penguatan nilai karakter kedisiplinan dan rasa tanggung jawab peserta didik.

Rekomendasi
Dari temuan penelitian pengembangan multimedia interaktif pada pembelajaran PAK, maka peneliti merekomendasikan beberapa hal, yaitu :

Pertama, Kemenag RI membuat program dan mendampingi guru-guru Pendidikan Agama Kristen berupa diklat/workshop secara berkesinambungan untuk meningkatkan kreatifitas guru PAK.

Kedua, Kemenang RI Pusat dan Kemenag Daerah harus mensinkronkan kebijakan terhadap pengembangan kompetensi dan keterampilan guru PAK, sehingga lebih merata.

Ketiga, Kemenag RI pusat dan daerah hendaknya memberikan ruang/wadah bagi guru-guru PAK yang memiliki keterampilan ICT untuk memperlengkapi rekan-rekan guru PAK di daerahnya masing-masing.

Keempat, Kemenag RI pusat dan daerah hendaknya merekrut guru PAK sebagai Guru Penggerak sebagaimana kebijakan dalam Kemendikbud RI.

Kelima, Kemenag RI hendaknya melaksanakan workshop pembuatan media pembelajaran berbasis digital secara kontinyu bagi guru-guru PAK. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved