Breaking News:

Leisure Park Dinilai Jadi Destinasi Wisata Paling Cocok dengan Kondisi Alam Indonesia

Leisure Park biasanya dibuka dengan beberapa wahana, shop art market, spot fotografi, wedding space, F&B, activity, vila, spa, dan atraksi seni budaya

Editor: Ichwan Chasani
istimewa
Seminar Arsitektur Resort & Leisure yang digelar secara virtual oleh Kenari Djaja dan Majalah Asrinesia, Kamis (20/5/2021), diikuti 500-an peserta dari berbagai kalangan. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Leisure park, yang beberapa tahun belakangan ini berkembang sangat pesat, dinilai sebagai tempat melepas penat yang paling cocok dengan kondisi alam Indonesia. Selain lahan yang digunakan bisa cukup luas, wahananya cukup variatif, bahan baku pembangunannya juga tersedia di Indonesia.

“Saya rasa Leisure Park ini yang paling cocok di Indonesia. Desain konsepnya akan terus berevolusi dan tidak akan berhenti,” ungkap Arsitek Eliezer Widagdo dari Universitas Tarumanagara, dalam Seminar Arsitektur Resort & Leisure yang digelar secara virtual oleh Kenari Djaja dan Majalah Asrinesia, Kamis (20/5/2021).

Sebelum adanya Leisure Park, publik sudah mengenal lebih dulu adanya Theme Park sebagai destinasi wisata, kemudian disusul Water Park. Menurut Eliezer, Theme Park membutuhkan sumberdaya lebih banyak dibanding Leisure Park.

“Theme park ini biayanya mahal, bisnis yang biayanya tinggi, mesin-mesinnya harus dari Eropa, semuanya mahal dan budetnya bisa sampai triliunan. Setelah era Theme Park ini, sampai tahun 2014 yang booming itu waterpark. Namun karena outdoor, banyak pengunjung wanita yang enggan berpanas-panasan, musim hujan juga nggak bisa main air,” bebernya.

Salah satu proyek Leisure Park yang serius digarap Eliezer Widagdo adalah Dusun Semilir di Semarang, Jawa Tengah. Leisure Park biasanya dibuka dengan beberapa wahana, shop art market, spot fotografi, wedding space, F&B, activity, villa, spa, dan atraksi seni budaya.

“Saya selalu katakan, villa itu lebih bagus dari pada hotel. Lebih unik dan biayanya lebih murah,” ujarnya.

Namun untuk mewujudkan Leisure Park, kata Eliezer, punya tantangan tersendiri. Eliezer yang selama 20 tahun, sejak lulus tidak pernah menerima proyek selain leisure dan wisata, mengatakan seorang arsitek yang diminta membangun area Leisure Park, dituntut untuk benar-benar bisa mengolah lahan yang tidak biasa.

Bisa saja lahan tersebut berupa pantai, tebing, danau, atau padang yang gersang. “Biasanya lahan yang indah itu kan tidak datar, luar biasa hebat dan antik. Kita juga dituntut kita punya dasar-dasar ilmu untuk mewujudkan desain kita,” ujarnya.

Pembicara lainnya, yaitu Arsitek Lanskap Bintang Nugroho, IALI dari Universitas Trisakti mengatakan, dalam bisnis, Leisure merupakan bagian dari hospitality, menyenangkan tamu. Menurutnya, industry Leisure ini terbagi empat yaitu F&B, travel & tourism, lodging, dan recreation.

“Pada dasarnya, siapa pun anda, apakah pemilik perencana investor, anda dalam menyediakan Leisure, tempat rehat yang menyenangkan, harus memikirkan fasilitas memadai dan program memuaskan. Keduanya sangat penting, harus dipikirkan dari awal. Karena itu kolaborasi penting sekali digali, dikumpulkan supaya bisa mencapai sumber-sumber ide,” ujarnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved