Kasus Rizieq Shihab

Rizieq Shihab: Kasus Hanya Pelanggaran Prokes, tapi Saya Diperlakukan Seperti Tahanan Teroris

Mulanya Rizieq Shihab menceritakan, pada Desember 2020, Polda Metro Jaya mengumumkan dirinya dinyatakan sebagai tersangka.

Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews/Jeprima
Kata Rizieq Shihab, selama menjalani tahanan sementara pada satu bulan pertama, dia diisolasi total sendirian dalam sel yang tiap hari digembok selama 24 jam. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Terdakwa kasus pelanggaran protokol kesehatan Rizieq Shihab, mengaku diperlakukan seperti tahanan tersangka teroris.

Hal tersebut disampaikan Rizieq Shihab saat membacakan pleidoi alias nota pembelaan.

Mulanya Rizieq Shihab menceritakan, pada Desember 2020, Polda Metro Jaya mengumumkan dirinya dinyatakan sebagai tersangka.

Baca juga: Demi Keperluan Pak Menteri, OB Kemensos Transfer Ratusan Juta ke Rekening Sespri Juliari Batubara

Adapun penetapan tersangka itu terkait kasus kerumunan saat acara Maulid Nabi dan pernikahan putrinya di Petamburan, Jakarta Pusat.

"Akhirnya pada Sabtu 12 Desember 2020 saya didampingi pengacara mendatangi Polda Metro Jaya secara sukarela untuk menjalankan pemeriksaan."

"Tapi saya langsung ditangkap dan ditahan hingga saat ini," kata Rizieq dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (20/5/2021).

Baca juga: UPDATE Vaksinasi Covid-19 RI 19 Mei 2021: Dosis Pertama 14.099.754, Suntikan Kedua 9.366.635 Orang

Usai ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Mapolda Metro Jaya, dia merasa diperlakukan secara berlebihan, padahal kasusnya hanya pelanggaran protokol kesehatan.

Sebab, kata Rizieq, selama menjalani tahanan sementara pada satu bulan pertama, dia diisolasi total sendirian dalam sel yang tiap hari digembok selama 24 jam.

"Termasuk tidak boleh dibesuk keluarga dan tidak boleh dijenguk tim dokter pribadi saya dari Tim Mer-C."

Baca juga: UPDATE Covid-19 di Indonesia 19 Mei 2021: 4.871 Pasien Baru, 4.364 Orang Sembuh, 192 Meninggal

"Serta tidak boleh ditengok oleh sesama tahanan walau sel bersebelahan," ungkapnya.

Bahkan, kata Rizieq, selama menjalani masa tahanan itu, dirinya tidak pernah disapa oleh siapapun, termasuk petugas.

"Bahkan petugas pun dilarang menyapa saya oleh atasan mereka, kecuali saat Salat Jumat saja saya keluar dari sel dan dikawal untuk ikut Salat Jumat bersama tahanan lain," tuturnya.

Baca juga: Ahli Hukum Kesehatan: Pasien Covid-19 yang Tinggalkan Rumah Sakit Saat Sedang Dirawat Bisa Dipidana

Sehingga, dia merasa perlakuan selama menjalani tahanan sementara sebagai tersangka pelanggar protokol kesehatan, layaknya tersangka teroris.

"Kasus saya hanya soal pelanggaran prokes, tapi diperlakukan seperti tahanan teroris," ucapnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved