Breaking News:

Ramadan

Masjid dan Makam Keramat Kampung Bandan: Pusara Tiga Penyebar Islam hingga Perbudakan VOC

Demi mengeramatkan makam dua habib sebelumnya, Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri kemudian memutuskan membangun rumah ibadah di tempat itu

Editor: Agus Himawan
TribunJakarta.com Gerald Leonardo Agustino
Makam keramat di Masjid Al Mukarromah Makam Keramat Kampung Bandan, Pademangan, Jakarta Utara. Ada tiga makam habib di tempat itu. 

Hal itu juga diketahui dari keberadaan beberapa makam tanpa nama yang di dekat areal masjid. Makam tanpa nama tersebut diyakini merupakan tempat peristirahatan budak-budak asal Banda yang sudah ada sejak zaman penjajahan.

“Ada makam yang nggak ada namanya gitu, di depan situ, tahu sejarahnya makam ini ada saja, sejak jaman penjajahan dulu,” kata Habib Alwi.

Baca juga: Raja Sapta Oktohari Ketua NOC Indonesia Berharap Hafiz/Gloria Bisa Lolos ke Olimpiade Tokyo

Baca juga: Anggota DPR Ini Dukung Polisi Tiadakan Jalur Sepeda Permanen di Sudirman-Thamrin, karena Tak Efekif

Di sisi lain, lanjut Habib Alwi, meski dahulu dipenuhi orang-orang Banda, kini sulit ditemui keluarga asal daerah tersebut di permukiman Kampung Bandan.

Hal itu bukan tanpa alasan. Habib Alwi menuturkan, pada zaman penjajahan dulu, orang-orang Banda cenderung hanya singgah di pesisir Jakarta tanpa menetap maupun membangun permukiman.

Sebab, mereka adalah tawanan yang selalu dibawa pergi dari satu tempat ke tempat lainnya oleh penjajah dari Negeri Kincir Angin.

“Kadang ada yang tanya juga, kalau memang ada (orang Banda), artinya ada perpindahan penduduk dari Banda ke sini. Tentu ada masih ada yang tertinggal keluarga, saya bilang nggak,” ucap Habib Alwi.

Seiring berjalannya waktu Masjid Keramat Kampung Bandan akhirnya mengalami perubahan nama. Periode 2000-an, namanya diubah menjadi Masjid Al Mukarromah Makam Keramat Kampung Bandan.

Baca juga: Tiba-tiba Helikopter Basarnas Mendarat di Jalan Layang MBZ Tol Jagorawi, Ada Apa?

Baca juga: Malam ke 29 Bulan Ramadan, Perbanyak 5 Amalan ini untuk Meraih Lailatul Qadar

Nama Al-Mukarromah dikaitkan dengan keberadaan tiga makam keramat di dalamnya. “Wali Allah punya kelebihan yang disebut Karromah, kalo pada zaman nabi, itu disebut mukjizat atau anugerah,” kata Alwi.

Pada tahun 1972, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya menetapkan Masjid Al-Mukarromah sebagai bangunan cagar budaya. Kemudian, di tahun 1998, tembok pembatas akhirnya dibangun sekeliling masjid.

Alwi menambahkan, renovasi besar-besaran yang dilakukan terhadap masjid itu terjadi sekitar tahun 2006.
Kini, Masjid Al-Mukarromah luas arealnya mencapai 3000 meter persegi.

Sementara untuk kapasitasnya, masjid ini dapat menampung hingga 700 orang. Setiap bulannya, terutama sebelum pandemi Covid-19, tak kurang dari 20 bus yang membawa peziarah dari seluruh penjuru negeri menuju ke masjid tersebut. (Tribunnews/Gerald Leonardo Agustino)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved