Breaking News:

Pandemi Virus Corona

Mahasiswa Indonesia di India Berusaha Sabar dan Kuat saat Berpuasa di Tengah Badai Pandemi Covid-19

Lebih dari setahun pandemi Covid-19 melanda hampir seluruh penjuru dunia. Namun, hingga kini virus berbahaya tersebut belumm juga usai.

Penulis: Rizki Amana | Editor: Valentino Verry
unsplash/Viktor Forgacs
Ilustrasi virus corona. Virus berbahaya ini sedang merjalela di India, alhasil banyak mahasiswa Indonesia yang terkena dampak. Sebagian dari mereka yang coba bertahan di sana berusaha kuat dan sabar sambil menjalankan ibadah puasa. 

Mujtaba menjelaskan usai dilanda dan mengambil kebijakan lockdown total pada badai pandemi covid-19 pertama, para mahasiswa asal luar negeri terebut sempat mendapat harapan bakal kembalinya perkuliahan secara tatap muka. 

Menurutnya, langkah tersebut dapat terwujud usai menurunnya kasus penyebaran dan penularan kasus infeksi covid-19. 

Baca juga: Kasus Covid-19 di Jakarta Meningkat, Ahmad Sahroni: Jangan Sampai Seperti India Mayat Bergelimpangan

Pemerintah setempat pun sempat membuka angin segar terhadapa mahasiswa tersebut tatkala rencana membuka kembali perkulian secara tatap muka

"Alhamdulillah pada covid-19 pertama itu masyarakat benar-benar mematuhi prokes (protokol kesehatan) dan manut betul pada pertauran pemerintah. Itu terbukti kemarin akhir tahun 2020, Menteri Kesehatan India menyampaikan bahwa kondisinya cukup baik dan penanganan pemerintah cukup baik. Itu terbukti kurang lebih ada 1,3 juta masyarakat India sudah divaksin," ucap Mujtaba. 

"Bahkan dari kami selaku mahasiswa sudah sangat senang karena sudah berencana pada tanggal 14 Februari (2021) itu sudah normalisasi kembali untuk berkuliah secara offline," sambungnya. 

Akan tetapi harapan tersebut sirna, usai India kembali dilanda badai pandemi covid-19 untuk kedua kalinya dengan virus varian barunya yang lebih berbahaya dalam penularan maupun infeksinya.

Mujtaba bersama rekan seperguruannya itu lun terpaksa memupuskan niatnya untuk dapat kembali berkuliah secara tatap muka. 

"Akan tetapi pada tanggal 13 April 2021 itu angkanya naik lagi akhirnya pada Menteri Pendidikan bagian Maharashta meng-cancel. Akhirnya online kembali untuk perkuliahan," ujarnya.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Jakarta Meningkat, Ahmad Sahroni: Jangan Sampai Seperti India Mayat Bergelimpangan

Meningginya kasus infeksi covid-19 varian baru hingga angka kematiannya secara signifikan memaksa pemerintah setempat kembali mengambil kebijakan lockdown dalam upaya pembatasan aktifitas masyarakat. 

Ditambah, wilayah tempat ia menimba ilmu merupakan negara pusat perkenomian India dan memiliki tingkat populasi yang tinggi. 

"Untuk sementara ini dari pemerintah kemarin itu (lockdown-red) dari tanggal 13 April (2021) dan sampai hari ini 30 April (2021). Untuk saat ini yang kami dapatkan dari informasi media setempat kemungkinan akan diperpanjang," katanya. 

Mujtaba menuturkan, kali ini lockdown yang diberlakukan oleh Pemerintah India berbedang penerpannya saat badai pertama pendemi covid-19 melanda. 

Menurutnya, kala itu seluruh kegiatan masyarakat dibatasi dalam waktu hampir 24 jam. 

Sedangkan, pada pemberlakuan kali ini aktifitas perkenomian masyarakat masih diperbolehkan dengan batasan-batasan waktu operasionalnya. 

Langkah itu pun, terbukti dapat menurunkan secara perlahan kasus infeksi covid-19 yang melanda untuk kedua kalinya tersebut. 

Baca juga: Akhir Pelarian M Yasin, WNA Asal India Pembunuh Istri, Tewas Bunuh Diri di Hotel Karawang

"Artinya ada jam pembatasan dari jam 7 pagi sampai jam 11 pagi masyarakat diperbolehkan untuk beraktifitas seperti beberbelanja sembako, dan untuk mengurusi hal-hal yang lain juga itu diperbolehkan. Setelah itu semua wajib tutup kecuali bagian esensial seperti apotek, rumah sakit, dan tim medis yang melaksanakan tugas covid-19," kata Mujtaba. 

"Dan alhamdulillah informasi dan data yang kami dapatkan dari pihak KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Mumbai untuk saat ini tren kesembuhan cukup baik dan  semakin hari makin turun kasus, kesembuhan juga meningkat sejak di lockdown dari tanggal 13 April yang lalu oleh pemerintah negara bagian Maharashta," sambungnya. 

Mujtaba yang berprofesi sebagai mahasiswa tersebut pun sempat memprediksi peningkatan kasus infeksi covid-19 dengan rekan sejawatnya itu. 

Menurutnya, prediksi badai kedua pandemi covid-19 yang melada negara bagian Maharashta itu ditengarai kelalaian masyarakat akan penerpan prokes covid-19.

Kata ia, kelalaian prokes covid-19 di masyrakat usai pemerintah setempat mengumumkan kasus infeksi covid-19 yang mulai pasif terjadi. 

Hingga masyarakat setempat mulai tak lagi mengindahkan prokes covid-19 pada setiap aktifitas kesehariannya. 

"Meningkat ini setelah dinormalisasi, masyarakat sudah banyak yang divaksin kemudian penanganan pemerintah sudah bagus, masyarakat banyak yang lalai seperti itu. Pikirannya covid ini akan berlalu, seperti sebagian sudah melepas maker, kemudian tidak jaga jarak," kata Mujtaba. 

"Contoh di Mumbai ini kan terpadat di India, ketika naik kereta itu desak-desakan, saya gambarkan kurang lebih mohon maaf seperti beras dalam karung setelah dinormalisasi," sambungnya. 

Hal tersebut lun terpaksa membuat dirinya kembali beraktiftas dengan segala keterbatasannya guna menghindari penularan dan penyebaran infeksi covid-19 terhadapnya. 

Baca juga: Gelombang Kedua Covid-19 di India Menyebar Hingga ke Pelosok Desa

Bahkan, dirinya memilih bertahan dari lokasi perantauannya itu guna terhindar dari paparan virus baru yang dinilai lebih cepat dalam penualrannya. 

Ditambah tak adanya penerbangan dari India menuju Indonesia mapun sebaliknya akibat pembatasan mobilisasi masyarakat antar negara di tengah masifnya penularan dan penyebaran infeksi covid-19. 

"Indonesia tidak masuk kategori Bubbles Flight artinya tidak ada penerbangan dari India ke Indonesia. Kalau dari negara Afghanistan, Afrika itu ada Bubbles Flight artinya penerbangan India ke Afghanistan, ke Afirka itu ada," ungkap Mujtaba.

"Kalau di Indonesia ini kecuali penerbangan darurat, dan itu prosesnya cukup rumit saya memutuskan tinggal di sini karena waktu itu juga di Jakarta, di Indonesia itu masih sangat merebak waktu itu covid-19 pada tahun 2020," pungkasnya.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved