Virus Corona
VIDEO Kremasi Massal Imbas Tsunami COVID-19 di India
Wabah Covid-19 di India mengganas, sejak sepekan terakhir rata-rata korban meninggal dunia mencapai 304 jiwa per hari.
WARTAKOTALIVE.COM -- Wabah Covid-19 di India mengganas, sejak sepekan terakhir rata-rata korban meninggal dunia mencapai 304 jiwa per hari.
Bahkan di ibu kota New Delhi mencatatkan rata-rata 350 kematian dalam sehari beberapa hari terakhir.
Saking banyaknya jumlah korban tewas akibat Covid-19, tempat krematorium tak sanggup menampung dan membakar jenazah setiap harinya.
Fasilitas krematorium sementara dalam tahap pembangunan sebagaimana dilansir NDTV, Senin (26/4/2021).
Baca juga: Ahli Ungkap 5 Faktor Penyebab Tsunami Covid-19 di India, Termasuk Percaya Diri Sudah Vaksin
Baca juga: Orang-orang Kaya India Terbang Tinggalkan Negara dengan Jet Pribadi saat Kasus Covid-19 Meroket
Pada Senin, New Delhi mencatat 350 kematian.
Pada Minggu (25/4/2021) ibu kota mencatat 357 kematian.
Pada Sabtu (24/4/2021), kota tersebut melaporkan 348 kematian.
Jumlah rata-rata kematian terkait Covid-19 di India dalam sepekan terakhir adalah 304.
Baca juga: TRAGIS, Ibu Angkut Jenazah Anak Korban Covid-19 dengan Becak, Kasus Virus Corona India Makin Parah
Baca juga: Sewa Jet Pribadi, Miliarder India Kabur dari Negaranya karena Lonjakan Covid-19, Segini Biayanya
Di situs krematorium Sarai Kale Khan, misalnya, sekitar 60 hingga 70 jenazah ditangani setiap harinya karena gelombang kedua virus corona yang mematikan.
Padahal fasilitas krematorium tersebut hanya berkapasitas 22 jenazah.
Sekarang, setidaknya 100 platform kremasi baru sedang dibangun di ruang hijau di dekatnya untuk mengantisipasi beban kasus yang lebih tinggi.
"Ada banyak tekanan untuk menyelesaikan pembangunan platform baru ini," kata seseorang yang terhubung ke fasilitas tersebut kepada NDTV.
Baca juga: Kondisi Terkini Covid-19 di India, Dianggap Seperti Serangan Monster hingga Krematorium Kewalahan
Pashupati Mandal, seorang kontraktor yang membangun platform kremasi terbaru mengatakan bahwa sekitar 20 akan siap pada Senin malam waktu setempat.
Sedangkan 80 lainnya akan siap dalam beberapa hari lagi.
Di sisi lain, pekerja di krematorium Sarai Kale Khan kewalahan dan terlalu banyak bekerja.
Saking kewalahan, para kerabat jenazah harus turun tangan termasuk dengan melakukan beberapa pekerjaan manual seperti memindahkan kayu bakar dan lainnya.
Situasinya sama suramnya di 25 fasilitas krematorium dan pemakaman lainnya di New Delhi akibat Covid-19 di India semakin mengamuk.
Krematorium kewalahan
Berikut kondisi terkini mengenai gelombang 'tsunami' Covid-19 yang menyerang India.
Mengutip APNews, di beberapa rumah sakit, para keluarga pasien dibiarkan membawa sendiri keluarganya untuk mencari rumah sakit yang masih menyediakan oksigen.
Beberapa di antaranya berujung pada kematian lantaran kelangkaan oksigen di banyak rumah sakit.
Bahkan, banyak dari mereka yang akhirnya menangis di jalanan karena keluarganya meninggal dunia sebelum sempat dirawat karena terlalu lama menunggu antrean.
Satu di antara kisah tragis itu menimpa seorang wanita yang tak disebutkan namanya.
Baca juga: Mutasi Covid-19 Seperti di India Sudah Masuk Indonesia, 10 Orang Terinfeksi
Ia telah kehilangan adiknya yang berusia 50 tahun setelah ditolak berkali-kali oleh banyak rumah sakit.
Ia pun menyalahkan Perdana Menteri Narendra Modi atas krisis yang seharusnya bisa diantisipasi ini.
"Dia telah menyalakan kayu bakar di setiap rumah," katanya dalam video yang direkam oleh majalah The Caravan.
Selama empat hari berturut-turut hingga Minggu (25/4/2021) kemarin, India terus mengalami rekor harian penambahan kasus.
Terdapat 349.691 kasus baru di India pada Minggu (25/4/2021) dengan total kasus mencapai lebih dari 17 juta.
Selain itu, Kementerian Kesehatan India juga melaporkan 2.767 kematian dengan total 192.311 kasus.
Baca juga: Orang-orang Kaya India Terbang Tinggalkan Negara dengan Jet Pribadi saat Kasus Covid-19 Meroket
Kendati demikian, warga percaya jumlah korban meninggal dunia lebih banyak dari yang dilaporkan.
Adapun, rekor tersebut tidak lepas dari munculnya strain baru Covid-19 yang lebih mudah menular dan berbahaya.
Rekor tersebut juga langsung merusak klaim pemerintah yang menganggap berhasil menangani Covid-19 pada Januari lalu.
Kini, krisis paling dalam akibat 'tsunami' Covid-19 ini terjadi di kuburan dan beberapa krematorium India yang kewalahan.
Selain itu, banyak pasien yang sekarat dalam perjalanan ke rumah sakit karena kekurangan oksigen, dan juga beberapa tempat pemakaman di ibu kota New Delhi kehabisan ruang.
Timbunan kayu bakar yang mengobarkan api juga terlihat di malam hari di kota-kota lain yang terkena dampak parah.
Di pusat kota Bhopal, beberapa krematorium telah meningkatkan kapasitasnya dari puluhan tumpukan kayu menjadi lebih dari 50.
Namun, jenazah yang akan dikremasi masih diharuskan antre selama berjam-jam.
Seperti di krematorium Bhadbhada Vishram Ghat, para pekerja mengatakan, mereka mengkremasi lebih dari 110 orang pada hari Sabtu lalu.
Tetapi, pemerintah di kota yang berpenduduk 1,8 juta jiwa itu justru menyebut jumlah total kematian akibat Covid-19 hanya 10 kasus.
Padahal, pejabat di krematorium mengakui, 'tsunami' Covid-19 itu menyerang penduduknya seperti monster.
"Virus itu menelan penduduk kota kami seperti monster," kata Mamtesh Sharma, seorang pejabat di krematorium tersebut.
Akibat serbuan jenazah itu, krematorium harus melewatkan upacara dengan ritual lengkap seperti yang diyakini umat Hindu.
"Kami hanya membakar mayat saat mereka tiba. Seolah-olah kita berada di tengah perang," kata Sharma.
Di sisi lain, seorang kepala penggali kubur di pemakaman Muslim terbesar di New Delhi juga mengatakan hal serupa.
Ia mengatakan, lebih banyak jenazah Covid-19 yang datang daripada tahun lalu.
"Saya khawatir kita akan segera kehabisan lahan," kata Mohammad Shameem.
Sementara, di 'pusat peperangan' alias rumah sakit, situasi yang ada tidak kalah mengerikannya.
Keadaan penuh memaksa orang-orang yang terkena Covid-19 seperti putus asa mengantre agar bertemu dokter.
Mereka menunggu di luar rumah sakit hingga di jalanan.
Sementara, pejabat kesehatan setempat berjuang untuk memperluas unit perawatan kritis dan menimbun persediaan oksigen yang semakin menipis.
Rumah sakit dan pasien sama-sama berjuang untuk mendapatkan peralatan medis langka yang dijual di pasar gelap.
Mirisnya, situasi ini bertolak belakang dengan klaim pemerintah yang menyebut tidak ada seorang pun di negara ini yang kekurangan oksigen.
Pernyataan itu disampaikan oleh Jaksa Agung India, Tushar Mehta di hadapan Pengadilan Tinggi Delhi pada Sabtu lalu.
Padahal, kondisi ini merupakan kegagalan besar bagi negara yang perdana menterinya pada bulan Januari telah menyatakan kemenangan atas Covid-19.
Bahkan, Narendra Modi juga sempat membanggakan diri dengan menyebut India sebagai "apotek dunia" karena menjadi produsen vaksin global dan contoh bagi negara berkembang lainnya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kondisi Terkini Covid-19 di India, Dianggap Seperti Serangan Monster hingga Krematorium Kewalahan
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Covid-19 di India Mengganas, Krematorium Kehabisan Tempat Bakar Jenazah",
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/wabah-covid-19-di-india-mengganas-1.jpg)