Breaking News:

Ramadan

Masjid Jami Matraman, Masjid Tertua Kerajaan Mataram Hingga Jadi Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia

Samsudin menyatakan peninggalan yang tertua di masjid Jami Matraman ini hanyalah jendela kaca yang mengelilingi dalam masjid

tribunnews.com
Masjid Jami Matraman terletak persis di samping Kali Ciliwung, tepatnya di Pegangsaan Timur, Menteng, Jakarta Pusat. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Masjid Jami Matraman  bisa jadi merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Usut punya usut, tempat tersebut menjadi saksi bisu jejak perjuangan kerajaan Mataram merebut Batavia dari Belanda.

Masjid itu  terletak persis di samping Kali Ciliwung tepatnya di Pegangsaan, Timur, Menteng, Jakarta Pusat.

Tak begitu sulit untuk mencari masjid Jami Matraman ini. Pasalnya letaknya hanya sekitar 250 meter dari Gedung Proklamasi yang juga merupakan tempat diproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Akan tetapi, sejarah masjid Jami Matraman tak bermula dari sana. Masjid ini pertama kali berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu terbentuk pada 1837 M.

Baca juga: Bukan Hanya Diancam Penjara 15 Tahun, Anak Anggota DPRD Bekasi Setubuhi Siswi Didenda Rp 5 Miliar

Baca juga: Polsek Tanah Abang Gelar Kegaitan Berbagi Takjil Gratis Lewat Gerobak Ramadan Berkah

Sama seperti namanya, Masjid Jami Matraman sangat melekat dengan perjuangan Kerajaan Mataram saat merebut Batavia dari Belanda. Saat itu, Mataram dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo alias Syekh Kuro

"Katanya sih yang dulu yang punya Syekh Kuro. Syekh Kuro punya anak namanya Syekh Jafar," kata Kepala Rumah Tangga Yayasan Masjid Jami Matraman, H Samsudin.

Awalnya, Kerajaan Mataram yang dulu terkenal sebagai kerajaan islam kerap mengirimkan prajurit ke Batavia untuk misi perlawanan dari Belanda. Paling banyak, prajurit dikirim dari Jawa Tengah.

Nah, prajurit-prajurit Mataram ini berkumpul di sebuah titik yang di zaman sekarang diketahui bernama masjid Jami Matraman. Semula, prajurit Mataram hanya membuat gubuk-gubuk kecil.

Baca juga: Qoriah Muda Mimi Jamilah Bagikan Tips Membaca Al-Quran Dengan Baik dan Merdu

Baca juga: Curah Hujan Diprediksi Masih Tinggi, Warga Kampung Cicadas Cikarang Selatan Resah Pasca Musibah Ini

Menurut Samsudin, gubuk kecil ini awalnya digunakan para prajurit untuk beristirahat dan menunaikan ibadah salat. Tak lama, prajurit memutuskan membentuk bangunan permanen menjadi masjid dengan ornamen Timur Tengah.

"Di sini dulu dibangun semacam gubuk-gubuk kecil, lama-lama dibuat masjid. Karena kan dulu transportasi lewat sini. Jadi dihadangnya kalau Belanda mau masuk dihadang di sini," jelas dia.

Halaman
123
Editor: Agus Himawan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved