Breaking News:

Investasi Menggiurkan

Mau Penuhi Kebutuhan Lebaran? Jangan Tergiur Cara Instan Seperti Investasi Berbunga Tinggi

Peneliti senior sekaligus ekonom Poltak Hotradero mengingatkan bahwa jika mau penuhi kebutuhan Lebaran, masyarakat jangan tergiur cara instan.

Warta Kota
Ilustrasi uang. Ekonom senior, Poltak Hotradero mengingatkan masyarakat agar tak tergiur atas tawaran investasi berbunga tinggi, meski butuh untuk memenuhi tuntutan belanja Lebaan. 

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Peneliti senior sekaligus ekonom Poltak Hotradero mengingatkan bahwa jika mau penuhi kebutuhan Lebaran, sebaiknya masyarakat jangan tergiur dengan cara invetasi yang berbunga tinggi. 

Alih-alih bisa memenuhi kebutuhan Lebaran, masyarakat justru bisa saja terjebak ke dalam jurang investasi tidak berizin atau ilegal. 

"Tidak pernah ada investasi imbal hasil tinggi dengan risiko rendah. Imbal hasil tinggi hanya bisa dicapai lewat risiko tinggi pula, itu sudah menjadi hukum besi di dunia investasi," ujarnya, Jumat (16/4/2021). 

Kemudian, dia menjelaskan, kebutuhan primer tetap harus menjadi prioritas untuk dipenuhi masyarakat ketika jelang hari Lebaran. 

Baca juga: Gubernur Anies Sebar Map Ramadahan Jaring Zakat dari Warga, Dikumpulkan Maksimal H-3 Lebaran

Baca juga: Tiadakan Mudik Lebaran 2021, Presiden Jokowi: Mari Utamakan Keselamatan Bersama

"Tentunya kebutuhan primer, karena kebutuhan sekunder serta tersier hanya ada maknanya bila kebutuhan primer sudah terpenuhi terlebih dahulu. Kalau yang primer sudah terpenuhi maka yang sekunder bisa dijalankan," kata Poltak. 

Selain itu, menurutnya pemenuhan kebutuhan tersier lebih hanya bersifat pengakuan sosial, sehingga harganya menjadi mahal. 

"Karena yang ingin dipenuhi sebenarnya aspek emosi. Membeli mobil baru misalnya, termasuk yang demikian, bila ternyata menyewa saja sudah cukup atau mobil lama tidak bermasalah," pungkasnya.

Sementara itu, pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra menyebutkan, investasi tidak berizin atau bodong cenderung menawarkan bunga tinggi dengan tidak memberikan informasi terkait risiko. 

Karena itu, masyarakat yang terjerumus bukan mendapat keuntungan dari investasi, tapi justru malah buntung karena uangnya hilang. 

"Imbal hasil tinggi pastinya risiko juga tinggi. Jadi, bila terkena risiko, bisa-busa modal investasi berkurang jauh dan alih-alih untung malah buntung," ujarnya. 

Lanjar menjelaskan, tidak bijak juga untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, apalagi jelang Lebaran melalui investasi dengan imbal hasil tinggi. 

Baca juga: Empat Fakta Soal Kenaikan Angka Covid-19 Jadi Alasan Jokowi Tetap Larang Mudik Lebaran 2021

Baca juga: Banyak Warga Mudik Colongan Hindari Larangan Mudik Lebaran, Berikut Pendapat Wagub DKI Jakarta

"Ya kecuali investor tersebut memang investor profesional. Tentunya juga pemenuhan berdasarkan skala prioritas, kebutuhan primer didahulukan," katanya. 

Di sisi lain, dia menilai seharusnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa menyentuh entitas pemilik aplikasi bodong tersebut, bukan hanya penutupan aplikasi. 

"OJK bisa melakukan penyelidikan siapa pemilik aplikasi tersebut dan melakukan penindakan. Jadi, tidak bermunculan web atau aplikasi beda nama, tapi sebenarnya dari entitas yang sama," pungkas Lanjar. (Yanuar Riezqi Yovanda)

Editor: Valentino Verry
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved