Bulan Suci Ramadan

Masjid Jami Matraman, Kerap Disinggahi Soekarno-Hatta dalam Menunaikan Ibadah Salat

Masjid ini pertama kali berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu terbentuk pada 1837 M.

Editor: Murtopo
tribunnews.com
Masjid Jami Matraman terletak persis di samping Kali Ciliwung, tepatnya di Pegangsaan Timur, Menteng, Jakarta Pusat. 

Paling banyak, prajurit dikirim dari Jawa Tengah.

Baca juga: VIDEO Atap Masjid At Taqwa Disulap Jadi Tempat Tanaman Hidroponik

Nah, prajurit-prajurit Mataram ini berkumpul di sebuah titik yang di zaman sekarang diketahui bernama masjid Jami Matraman.

Semula, prajurit Mataram hanya membuat gubuk-gubuk kecil.

Menurut Samsudin, gubuk kecil ini awalnya digunakan para prajurit untuk beristirahat dan menunaikan ibadah salat.

Tak lama, prajurit memutuskan membentuk bangunan permanen menjadi masjid dengan ornamen Timur Tengah.

Baca juga: VIDEO Suasana Tarawih Pertama Ramadan 2021 di Masjid Istiqlal

"Disini dulu dibangun semacam gubuk-gubuk kecil, lama-lama dibuat masjid. Karena kan dulu transportasi lewat sini. Jadi dihadangnya kalau Belanda mau masuk dihadang disini," jelas dia.

Singkat cerita, bangunan masjid ini telah banyak direnovasi dari bentuk maupun ornamen interior dari sejak pertama kali berdiri. Tak banyak yang tersisa peninggalan kerajaan Mataram di masjid ini.

Samsudin menyatakan peninggalan yang tertua di masjid Jami Matraman ini hanyalah jendela kaca yang mengelilingi dalam masjid.

Jika dari dalam, jamaah bisa melihat belasan jendela kaca dengan arsitektur kuno yang mengelilingi bangunan masjid ini.

Namun, peninggalan jendela kaca tersebut pun diyakini baru berusia sekitar 100 tahun.

Baca juga: Kebun Raya Bogor Meriahkan Ramadan dengan Ngabuburit dan Festival Takjil

Ada pula 2 menara setinggi 2 meter di sekitar halaman masjid Jami Matraman yang diyakini peninggalan zaman Belanda.

Menurut Samsudin, kedua menara itu dahulu digunakan jamaah untuk mengingatkan waktu salat.

Jika sudah memasuki waktu salat, salah seorang jamaah akan naik ke atas menara dan mengumandangkan adzan.

"Ada juga peninggalan papan kayu yang berisikan petunjuk waktu salat. Ini dari tahun 1932. Jadi setiap perpindahan waktu salat diubah secara manual dengan tempel nomor kayu di papan itu," jelas dia.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved