Breaking News:

Industri Makanan dan Minuman

Ketua Umum Gappmi Sebut Produsen Makanan dan Minuman Sulit Efisiensi karena Terkendala Teknologi

Kementerian Perindustrian terus mendorong implementasi era Industri 4.0 lewat program Making Indonesia 4.0.

Editor: Valentino Verry
eljohn
Ilustrasi produk makanan dari industri. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, mengatakan Pemerintah sudah mulai melakukan upaya-upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor mamin. 

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Kementerian Perindustrian terus mendorong implementasi era Industri 4.0 lewat program Making Indonesia 4.0.

Program Making Indonesia 4.0 sendiri telah memilih lima industri prioritas yakni industri makanan dan minuman (mamin), tekstil dan pakaian, otomotif, kimia dan elektronik.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman, mengatakan pemerintah sudah mulai melakukan upaya-upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor Mamin.

"Segala upaya strategis dilakukan pemerintah seiring dengan penerapan teknologi Industri 4.0, baik dari segi produksi maupun utilitas pabrik," ungkap Adhi, Senin (12/4/2021).

Kesiapan industri dalam menerapkan Making Indonesia 4.0 pun terus diukur melalui Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), yang menilai lima pilar utama yakni manajemen dan organisasi, sumber daya manusia dan budaya, produk dan layanan, teknologi dan operasional pabrik.

Baca juga: Garam Lokal Belum Bisa Penuhi Kebutuhan Sektor Industri, GAPMMI Dukung Kebijakan Impor Pemerintah

Per tahun 2019, terdapat 323 perusahaan yang berpartisipasi dalam penilaian INDI 4.0 dan 39 diantaranya berasal dari industri Mamin. 

"Pada 2019, industri mamin mencapai 62 persen dari total skala penilaian INDI 4.0. Salah satu tantangan terbesarnya, yang jika berhasil diatasi akan mendongkrak hasil yang lebih baik, adalah ketersediaan penyedia teknologi yang dapat mendukung operasional industri dalam mengimplementasikan Industri 4.0," tutur Adhi.

Sebagian besar pelaku bisnis belum bisa sepenuhnya menerapkan praktek Industri 4.0. 

Menurut Adhi, penyebab utamanya adalah keterbatasan teknologi yang tersedia saat ini, baik untuk perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software).

"Kurangnya penyedia teknologi yang andal di Indonesia membuat perusahaan harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan teknologi yang dibutuhkan dan ini bisa mengakibatkan hilangnya peluang secara signifikan," ungkap Adhi.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved