Breaking News:

Polisi Bekasi Dalami Kasus Dugaan Penipuan yang Libatkan Mantan Pemain Timnas Sepak Bola Indonesia

Polisi Bekasi masih mendalami kasus dugaan penipuan yang melibatkan mantan pemain timnas sepak bola Indonesia.

Warta Kota/Rafzanjani Simanjorang
Kabag Humas Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Erna Ruswing saat memberikan keterangan soal dugaan penipuan yang dilakukan oleh mantan pesepakbola Timnas Indonesia dan Persija Jakarta 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kasus dugaan penipuan yang melibatkan mantan pemain timnas Indonesia, Nuralim  masih di dalami oleh Polres Kota Bekasi.

Kabag Humas Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Erna Ruswing, menjelaskan dalam mendalami kasus dugaan penipuan tersebut pihaknya akan melanjutkan pemeriksaan saksi-saksi dan mencari bukti-bukti.

Hanya saja, Erna belum mengetahui secara pasti sejauh mana perkembangan terbaru kasus tersebut.

Baca juga: Pemkot Bekasi Pastikan Mantan Pemain Timnas Terlibat Penipuan Bukan TKK Maupun PNS di Lingkungannya

Namun, ia meyakinkan pihaknya akan secepatnya memberikan keterangan perkembangan terbaru atas kasus yang menyeret nama Nuralim yang pernah juga sebagai bek Persija era 1996-2002 ini

"Tentu kami mau proses secepatnya, dan menindaklanjutinya, karena kami ingin memberikan pelayanan yang cepat kepada masyarakat," ujarnya, Kamis (8/4/2021).

Erna lantas menjelaskan proses sebuah laporan kasus di Polres harus melewati beberapa tahap sebelum sampai di tangan penyidik.

Awal prosesnya adalah lewat SPKT, dari SPKT akan diteruskan ke KBO (kaur bin ops), setelah itu barulah Disposisi ke Kasat atau Wakasat untuk dipelajari, apakah laporan tersebut masuk ke penyidik reskrim, harda dll," tutupnya.

Baca juga: VIDEO Pemkot Bekasi Tegaskan Mantan Bek Timnas Nuralim yang Diduga Terlibat Penipuan Bukan PNS

Adapun Nuralim dilaporkan oleh Ajie Fadillah awal 1 April lalu dengan dugaan penipuan. Nuralim dilaporkan dengan salah satu sosok berinisial RS.

Awal dugaan penipuan yang melibatkan nama Nuralim berawal dari September 2019 lalu. 

Korban (Ajie Fadillah), meminta lowongan kepada RS, dan RS meyakinkan korban dengan janji dapat membantu namun tak gratis.

Korban harus merogoh kocek Rp.35 juta sebagai uang muka. Komunikasi berlanjut, RS menjanjikan korban bisa diterima melalui seseorang yang berinisial NA (Nuralim) yang merupakan pegawai di lingkungan Pemkot Bekasi.

Namun, hingga saat ini, Ajie tak kunjung mendapat apa yang telah dijanjikan, sehingga memutuskan melaporkan keduanya ke kepolisian

Penulis: Rafzanjani Simanjorang
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved