Kolom Trias Kuncahyono

Pesan Terakhir dari Puncak Bukit

Seseorang akan dikatakan memahami dan menghayati agama, jika hatinya telah dipenuhi oleh cinta yang datang dari Tuhan maha kasih.

Istimewa
Foto ilustrasi: Di puncak Golgota 

Tetapi, kenyataannya sering bertentangan. Ketika itu, muncul pembelaan bahwa agama bukan sebagai pemicunya.

Pembelaan semacam itu sering—atau bahkan selalu—terjadi.

Tetapi, menurut Haryatmoko (2003), agama memberikan landasan ideologis dan pembenaran simbolis.

Misalnya, secara teoritis keputusan untuk mati (menjadi pengebom bunuh diri) adalah hak individu tersebut.

Tetapi sekarang, keputusan itu setidaknya telah diambil sebagian oleh organisasi yang melatih dan mengerahkan pelaku bom bunuh diri.

Dengan menjamin bahwa individu pelaku bom bunuh diri akan dikenang sebagai martir bagi komunitas mereka.

Penggunaan terma “martir” atau “syahid” ini mengilhami peran pelaku bom bunuh diri dengan rasa hormat dan kepahlawanan, membuatnya lebih menarik bagi calon anggota. (dalam  Scott Nicholas Romaniuk: 2016).

Padahal, setiap orang beriman semestinya berjuang untuk membaktikan diri demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat demi terwujudnya hidup bersama yang semakin merdeka.

Masyarakat adalah masyarakat umum, bukan hanya demi golongan seagamanya sendiri.

Wilayah perjuangan orang beriman adalah demi terwujudnya kebaikan bersama yang ditandai oleh terwujudnya kebenaran, kejujuran, keadilan, penyembuhan, cinta kasih, kemerdekaan, perdamaian, dan sebagainya agar orang dan masyarakat semakin memerdekakan diri, manusiawi, adil, beradab, alias merealisasikan kehendak Tuhan.

 Dengan kata lain, kualitas iman tampak dalam kualitas keutamaan kasih yang diperjuangkan secara konsisten dalam perjuangan membela martabat manusia dan mewujudkan nilai-nilai hidup di tengah masyarakat.

Itu berarti, menolak dan membenci orang lain, tidak akan pernah menjadi utuh sebagai manusia.

Manusia yang utuh di dalam dirinya mengalirlah roh dan semangat perdamaian.

Perdamaian itu pertama-tama terjadi secara vertikal, yakni antara manusia dan Allah.

Setelah itu, berulah sungai perdamaian  mengalir secara horizontal, dalam tata kehidupan bersama antar-sesama manusia.

Perdamaian itulah yang mengalir dari puncak Bukit Golgotha.

Selamat Paskah. ****

Baca kolom Trias Kuncahyono selengkapnya: Pesan Terakhir dari Puncak Bukit

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved