Kolom Trias Kuncahyono

Pesan Terakhir dari Puncak Bukit

Seseorang akan dikatakan memahami dan menghayati agama, jika hatinya telah dipenuhi oleh cinta yang datang dari Tuhan maha kasih.

Istimewa
Foto ilustrasi: Di puncak Golgota 

WARTAKOTALIVE.COM -- Seseorang akan dikatakan memahami dan menghayati agama, jika hatinya telah dipenuhi oleh cinta yang datang dari Tuhan maha kasih.

Sang Penebar Cinta. Karena cinta Tuhan semesta ini ada. Dan dengan cinta, maka kehidupan ini akan menjadi indah.

Bukankah kebencian dan peperangan membuat hidup menjadi pengap dan menyiksa?

Begitu Komaruddin Hidayat mengawali prolog-nya dalam buku Jerusalem 33, Imperium Romanum, Kota Para Nabi, dan Tragedi Tanah Suci (Trias Kuncahyono:2011).

Tulis Komaruddin, manusia telah menodai dan mengkhianati kasih dan pesan suci Tuhan yang telah menjadikan ajaran agama,  yang pada mulanya merupakan ajakan kasih dan damai, terdegradasi menjadi sumber konflik berdarah-darah.

Konflik berdarah-darah yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa orang-orang tak berdosa, tak bersalah, tak tahu menahu terjadi di mana-mana. Mengapa?

Baca juga: JADWAL Lengkap dan Link Live Streaming Misa Minggu Palma 28 Maret 2021 di Jakarta dan Sekitarnya

Sebab,  agama dapat memengaruhi masyarakat dan politik: agama bisa menjadi salah satu dasar identitas, agama termasuk sistem kepercayaan yang memengaruhi perilaku, doktrin agama atau teologi seringkali dapat mempengaruhi perilaku, agama adalah sumber legitimasi, dan agama umumnya dikaitkan dengan lembaga keagamaan.  (Jonathan Fox dan Shmuel Sandler: 2005)

Kita bisa saja berdalih mencari penjelasan dan pembenaran mengapa umat bereagama terlibat konflik.

Namun, kalau saja kita masuk pada suara hati terdalam dan menggunakan nalar sehat dalam memahami agama, setiap pemeluk agama pasti akan mengutuk kekerasan dan penistaan terhadap sesama manusia; terlebih mereka yang beriman pada Tuhan apa pun agamanya.

“Para Rasul Tuhan mengajak berbuat baik dan menjanjikan kehidupan surgawi di akhirat nanti. Tetapi, mengapa ajakan berbuat baik dan janji surga tadi lalu berubah menjadi penghakiman dan penghukuman, bahkan penindasan, yang dilakukan manusia terhadap sesamanya karena berbeda paham dan keyakinan agamanya? Bukankah keputusan surga-neraka itu hak prerogatif Tuhan?” tulis Komaruddin dalam nada menggugat.

Terorisme (lustrasi foto: Istimewa)

II

Lalu di mana diletakkan serangan bom bunuh diri yang terjadi pada hari Minggu Palma di kompleks Katedral Makassar, Sulawesi Selatan dalam konteks pesan suci agama: kasih dan damai?

Di mana pula diletakkan serangkaian serangan bom bunuh diri terhadap sejumlah tempat agama yang terjadi sebelumnya?

Baca juga: JADWAL Lengkap dan Link Live Streaming Misa Minggu Paskah 4 April 2021 di Jakarta dan Sekitarnya

Dalam Twitter-nya, Azyumardi Azra secara tegas dan jelas menulis, “Aksi bom bunuh diri di depan pagar pekarangan Katedral Makassar pagi adalah perbuatan biadab, kejahatan kemanusiaan, pelanggaran agama dan hukum negara.” Karena itu, harus ditindak.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved